Sabtu, 12 Sep 2026 - :
23 Agu 2026 - 11:43 | 53 Views | 0 Suka

WSKT, WIKA, INAF Terjebak Suspensi Bertahun-tahun, Hanya ADHI yang Masih Bertahan di Bursa

12 mnt baca

Inilahdata.com – Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Gedung MPR/DPR/DPD akhir pekan lalu ikut menyinggung soal kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pernyataan itu memantik pertanyaan baru: bagaimana sebenarnya kondisi saham-saham BUMN yang selama ini bergelut dengan masalah keuangan?

Penelusuran lebih jauh menunjukkan gambaran yang tidak menggembirakan. Dari empat emiten BUMN yang mencatat kerugian bertahun-tahun, tiga di antaranya kini justru berstatus disuspensi alias “digembok” oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi ini membuat investor terjebak dalam ketidakpastian, sementara bayang-bayang delisting semakin nyata di depan mata.

Ketiga saham yang tengah disuspensi itu adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Indofarma Tbk (INAF). Hanya PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) yang saat ini masih bisa diperjualbelikan secara normal di lantai bursa, meski performa harganya pun tak kalah suram.

Waskita Karya (WSKT): Rekor Penurunan Terpanjang

Harga saham WSKT ambles lebih dari 92% secara point-to-point dari level tertingginya sepanjang sejarah. Hingga siang ini, Jumat (21/8/2026), saham emiten konstruksi pelat merah tersebut tertahan di posisi Rp202 per lembar dan masih dalam status suspensi BEI.

Titik tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) saham WSKT tercatat di Rp2.711 per saham pada Februari 2018. Sejak puncak itu, tren harganya nyaris tak pernah berhenti melorot hingga menyentuh Rp202 pada Mei 2023, tepat sebelum akhirnya dibekukan otoritas bursa.

Yang membuat kondisinya makin berat, masa suspensi WSKT sudah berjalan lebih dari tiga tahun. Durasi sepanjang ini menempatkan WSKT sebagai saham dengan risiko delisting paling besar di antara ketiga emiten yang disuspensi.

Ringkasan WSKT:

  • Harga tertinggi sepanjang masa: Rp2.711 per saham (Februari 2018)
  • Harga terakhir sebelum tertahan: Rp202 per saham
  • Status: Disuspensi, dalam pemantauan khusus BEI, masa suspensi lebih dari 3 tahun

Wijaya Karya (WIKA): Terbebani Gagal Bayar Obligasi

Saham WIKA tak kalah tertekan. Penurunannya mencapai 93% dari titik tertingginya, dengan harga penutupan pada Februari 2025 di level Rp204 per saham. Tekanan ini tak lepas dari kondisi keuangan perusahaan yang terus memburuk — kerugian yang semula tercatat Rp2,27 triliun pada 2024 justru membengkak signifikan menjadi Rp9,71 triliun pada 2025.

Rekor tertinggi saham WIKA berada di angka Rp3.002 per saham, dicapai pada Januari 2015. Dari puncak itu, tren harganya terus tergerus hingga sempat menyentuh level terendah Rp86 per saham pada Juni 2024, cerminan dari kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan usaha perseroan.

Persoalan yang lebih mendasar datang dari sisi kewajiban finansial. WIKA tercatat menunda pembayaran pokok utang, kupon bunga obligasi, hingga pendapatan bagi hasil sukuk.

Penundaan berulang ini oleh BEI dinilai sebagai indikasi nyata adanya masalah keuangan sekaligus ancaman terhadap kelangsungan usaha (going concern) perseroan.

Riwayat suspensi WIKA pun terbilang panjang dan berulang. Bursa pertama kali membekukan saham ini pada 18 Desember 2023, sebelum akhirnya dibuka kembali.

Namun status “gembok” kembali diberlakukan pada Februari 2025, dan diperpanjang berturut-turut pada November 2025, Februari 2026, hingga Agustus 2026. Total, saham WIKA sudah tidak bisa diperdagangkan selama kurang lebih 1 tahun 6 bulan.

Ringkasan WIKA:

  • Harga tertinggi sepanjang masa: Rp3.002 per saham (Januari 2015)
  • Harga terendah: Rp86 per saham (Juni 2024)
  • Status: Disuspensi berulang sejak Desember 2023, total suspensi ±1 tahun 6 bulan, dalam pemantauan khusus BEI

Indofarma (INAF): Penurunan Paling Ekstrem

Di antara ketiga emiten yang disuspensi, INAF mencatat penurunan harga paling dalam, lebih dari 98% secara point-to-point dari level puncaknya. Hingga siang ini, Jumat (21/8/2026), saham perusahaan farmasi pelat merah ini tertahan di Rp126 per saham dan berstatus suspensi.

Saham INAF pernah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di angka Rp6.975 per saham pada Januari 2021. Namun sejak itu, tren harganya terus memburuk hingga jatuh ke posisi Rp126 pada Juli 2024, tepat sebelum bursa membekukan perdagangannya.

Penurunan setajam ini mencerminkan respons pasar yang skeptis terhadap upaya pemulihan kinerja perseroan, mengingat perbaikan kondisi keuangan dan operasional INAF dinilai masih minim.

Sama seperti WSKT, masa suspensi INAF pun sudah berlangsung lama, lebih dari dua tahun, sehingga menempatkannya dalam risiko delisting yang tak bisa dianggap remeh.

Ringkasan INAF:

  • Harga tertinggi sepanjang masa: Rp6.975 per saham (Januari 2021)
  • Harga terakhir sebelum tertahan: Rp126 per saham
  • Status: Disuspensi lebih dari 2 tahun, dalam pemantauan khusus BEI

Adhi Karya (ADHI): Masih Diperdagangkan, Tapi Jauh dari Aman

ADHI menjadi satu-satunya dari keempat BUMN ini yang sahamnya masih diperdagangkan secara efektif di papan bursa. Namun bukan berarti kondisinya baik-baik saja, harga sahamnya tercatat anjlok lebih dari 95% dari posisi puncaknya, dengan harga penutupan Agustus 2026 berada di level Rp133 per saham.

Rekor tertinggi ADHI tercatat di Rp2.952 per saham, dicapai pada Februari 2015. Sejak puncak tersebut, tren harganya terus melemah secara signifikan hingga menyentuh Rp133 per saham per hari ini di Agustus 2026.

Penurunan panjang ini sejalan dengan performa fundamental perusahaan yang terus melemah, hingga mencatatkan kerugian dalam dua laporan keuangan tahunan terakhir berturut-turut, yakni periode 2024 dan 2025, dengan nilai kerugian yang juga terus membesar.

Ringkasan ADHI:

  • Harga tertinggi sepanjang masa: Rp2.952 per saham (Februari 2015)
  • Harga terakhir: Rp133 per saham (Agustus 2026)
  • Status: Masih diperdagangkan secara efektif di BEI, meski merugi dua tahun beruntun

Empat emiten pelat merah ini menggambarkan potret ganda: di satu sisi negara terus menagih kinerja BUMN lewat forum resmi seperti Pidato Kenegaraan, di sisi lain pasar modal justru sudah lebih dulu memberi vonisnya sendiri lewat harga saham yang ambruk dan status suspensi yang berkepanjangan. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H — InilahData.com
PERINGATAN NASIONAL
1448 H
MEMPERINGATI
MAULID NABI
MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
RABIUL AWAL
12
RABIUL AWAL
1448 HIJRIAH
SELASA, 25 AGUSTUS 2026
Cinta kepada Rasul, Teladan Akhlak,
Rahmat bagi Semesta Alam.
Selamat Memperingati Maulid Nabi.
<div class=" quote"="">“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%