
- Bank Dunia, IMF, OECD, dan S&P kompak memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 di kisaran 4,7%–5,1%, di bawah target pemerintah 5,4% dan harapan Menkeu Purbaya mendekati 6%.
- Bank Dunia menegaskan kuatnya kuartal I-2026 (5,61% yoy) lebih didorong percepatan belanja pemerintah, bukan perbaikan kondisi eksternal, sehingga ketergantungan pada konsumsi negara dinilai berisiko.
- Di tengah proyeksi pertumbuhan yang moderat, S&P justru mengafirmasi peringkat kredit Indonesia BBB dengan outlook stabil, sinyal kepercayaan pasar terhadap disiplin fiskal pemerintah.
Inilahdata.com – Optimisme pemerintah untuk mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level yang lebih tinggi tahun ini kembali diuji oleh proyeksi sejumlah lembaga keuangan dunia.
Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), hingga lembaga pemeringkat S&P Global Ratings kompak memperkirakan laju ekonomi Indonesia pada 2026 masih berkutat di kisaran 5%, jauh dari target resmi pemerintah sebesar 5,4%.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sejauh ini tetap memasang target tinggi. Ia bahkan berharap perekonomian nasional bisa mendekati 6% tahun ini, dengan syarat ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda.
“Itu mah optimis banget loh itu. Kalau 5% sih pasti tahun ini mungkin saya harapkan bisa tumbuh mendekati 6%,” katanya, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (13/7/2026).
Bank Dunia: Kuartal I Kuat, Tapi Bukan Sinyal Membaiknya Eksternal
Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia sebenarnya telah merevisi naik proyeksinya dari 4,7% menjadi 5,0%, ditopang oleh realisasi kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61% secara tahunan, laju kuartalan tertinggi sejak kuartal II-2021.
Namun lembaga itu mewanti-wanti agar angka tersebut tidak dibaca sebagai perbaikan fundamental.
“Proyeksi 2026 mencerminkan realisasi kuartal I yang lebih kuat dari perkiraan serta percepatan belanja pemerintah di awal tahun (frontloaded public spending), bukan karena kondisi eksternal yang lebih kondusif maupun penilaian risiko yang membaik,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sekitar 5%, ditopang stimulus fiskal, sementara konsumsi pemerintah melesat 8,7%. Bank Dunia menilai pola ini menyimpan risiko tersendiri.
“Namun, ketergantungan pada konsumsi pemerintah sebagai penopang pertumbuhan jangka pendek mengandung risiko, mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di tengah penerapan aturan batas defisit fiskal sesuai ketentuan perundang-undangan,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Skenario dasar Bank Dunia mengasumsikan konflik Timur Tengah tetap terkendali namun berlanjut sepanjang 2026, sehingga harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$94 per barel, sekitar US$24 lebih tinggi dari asumsi APBN 2026.
Inflasi nasional diperkirakan mencapai 3,4%, sementara defisit fiskal diproyeksikan 2,8% terhadap PDB.
IMF Pertahankan Proyeksi, Indonesia Justru Lebih Stabil dari Tetangga
IMF dalam laporan World Economic Outlook Update edisi Juli 2026 mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia di 5,0% untuk 2026 dan naik tipis ke 5,1% pada 2027, tak berubah dari estimasi April.
Yang menarik, Indonesia justru menjadi salah satu dari sedikit negara yang proyeksinya tetap solid saat ekonomi kawasan melambat. Malaysia diperkirakan hanya tumbuh 4,7% pada 2026, turun dari 5,2% di 2025.
Filipina diproyeksikan anjlok ke 3,9% dari 4,4%, sementara Thailand melambat tajam ke 1,9% dari 2,4%.
OECD Paling Pesimistis, S&P Justru Pertahankan Rating
Berbeda dari lembaga lain, OECD memasang proyeksi paling rendah, yakni 4,7% pada 2026 sebelum naik ke 5,0% pada 2027.
“Kenaikan biaya energi dan ketidakpastian kebijakan diperkirakan akan menekan konsumsi dan investasi di tengah melemahnya pasar tenaga kerja,” tulis OECD dalam laporan edisi Juni 2026.
Lembaga itu juga memproyeksikan inflasi naik ke 3,4% seiring rambatan harga energi global ke pasar domestik, meski pemerintah masih membekukan harga BBM bersubsidi.
Sementara itu, S&P Global Ratings memperkirakan PDB riil Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026, dengan rata-rata 4,9% per tahun hingga 2029.
“Kami memperkirakan pertumbuhan rata-rata 4,9% per tahun dari tahun 2026 hingga 2029,” tulis S&P dalam laporannya.
PDB per kapita diperkirakan hanya naik tipis menjadi US$5.200 dari US$5.100 pada 2025, jauh lebih lambat dari pertumbuhan PDB nominal 8,3%.
“Hal ini terutama disebabkan oleh depresiasi rupiah,” demikian tertulis dalam laporan S&P.
Kendati begitu, S&P baru saja mengafirmasi peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil pada 13 Juli 2026, mempertahankan status investment grade, seraya menegaskan lembaga politik dan kebijakan domestik.
Bahwa secara umum stabil dan bebas dari tantangan terhadap legitimasinya,” tulisnya.
Di tengah kelima proyeksi yang menyerupai paduan suara angka 5%, jarak antara optimisme pemerintah dan penilaian pasar internasional tampak belum akan menutup dalam waktu dekat. (**)
Halaman : 1 2