
Inilahdata.com – Genap satu tahun sejak barisan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis ditarik masuk ke dalam satu ekosistem besar bernama Danantara Indonesia, hasilnya mulai terlihat di atas kertas.
Seluruh perusahaan pelat merah yang berada dalam naungan superholding ini dilaporkan telah merampungkan Laporan Keuangan Tahun Buku 2025 per 30 Juni 2026, dan sorotan kinerja periode April 2025–April 2026 memperlihatkan arah yang jauh lebih cerah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Laporan konsolidasian di tingkat induk memang masih dalam tahap audit, tetapi angka-angka sektoral yang sudah dirilis cukup untuk menjadi ujian awal atas klaim efektivitas integrasi ini.
Pertamina memimpin daftar dengan laba Rp24,9 triliun, melonjak 80 persen atau bertambah sekitar Rp11 triliun dibanding periode sebelumnya.
Pupuk Indonesia mencatat lompatan yang lebih dramatis, laba bersihnya naik 202 persen menjadi Rp4,8 triliun setelah perusahaan mengubah skema bisnisnya ke basis mark-to-market.
Di sektor kepelabuhanan, Pelindo membukukan laba Rp1,5 triliun, tumbuh 169 persen. Sejumlah nama lain turut mencatatkan kenaikan signifikan.
InJourney naik 33 persen menjadi Rp300 miliar, sementara ADHI Karya melonjak paling tajam secara persentase, 667 persen, meski dari basis yang kecil menjadi Rp69 miliar.
Kelompok bank pelat merah pun tidak ketinggalan. BRI mencatat laba Rp21,2 triliun (naik 15 persen), Bank Mandiri Rp21,3 triliun (naik 13 persen), dan BNI Rp7,2 triliun (naik 6 persen).
Yang menarik justru datang dari perusahaan-perusahaan yang setahun lalu masih terpuruk. Krakatau Steel berhasil keluar dari zona merah dengan mencatat laba Rp635 miliar, berbalik dari rugi Rp981 miliar, seiring pemangkasan beban utang menjadi US$1,1 miliar.
Kimia Farma membalikkan rugi Rp160 miliar menjadi laba Rp108 miliar, dan Semen Indonesia berbalik dari rugi Rp66 miliar menjadi laba Rp106 miliar. Ketiganya disebut mendapat dukungan restrukturisasi dan modal dari Danantara Asset Management (DAM).
Efisiensi dari memotong “transaksi berlapis”
COO Danantara Dony Oskaria menjelaskan bahwa lompatan margin ini sebagian besar berasal dari pemangkasan transaksi berlapis antara induk BUMN dan anak-anak usahanya.
Menurutnya,, efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak perusahaan mengerjakan pekerjaan induknya.
Skema penyederhanaan ini diproyeksikan menghemat sekitar Rp30 triliun dari inefisiensi operasional setiap tahun, ditambah Rp20 triliun lagi dari penutupan anak usaha yang selama ini merugi, sehingga total potensi penghematan tahunan mencapai kisaran Rp50 triliun.
Namun CEO Danantara Rosan Roeslani mengingatkan agar transformasi ini tidak dibaca semata sebagai mesin pencetak laba korporasi.
Ia menegaskan bahwa reposisi peran BUMN mesti diiringi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat luas.
“BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat,” katanya.
Selain menata ulang portofolio, Danantara mulai merealisasikan mandat investasinya lewat dividen BUMN yang diterima sepanjang 2025.
Dua proyek besar yang sudah mulai berjalan adalah pengembangan ekosistem Haji dan Umrah di Makkah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem haji global, serta proyek Waste-to-Energy (WTE) yang menjadi bagian dari agenda percepatan transisi ke ekonomi hijau.
Riset dari BUMN Research Group LM FEB UI turut mencatat bahwa kontribusi dividen BUMN ke negara melonjak sekitar 72 persen, dari Rp81,2 triliun pada 2023 menjadi sekitar Rp140 triliun pada 2025, salah satu indikator paling konkret dari perbaikan kinerja pelat merah dalam beberapa tahun terakhir.
Danantara sendiri disebut membidik laba agregat BUMN naik ke kisaran Rp350 triliun pada 2026, dari realisasi sekitar Rp285 triliun setahun sebelumnya, seiring proses konsolidasi jumlah entitas BUMN dari sekitar 1.000 menjadi hanya sekitar 300 perusahaan.