Sabtu, 10 Okt 2026 - :
10 Okt 2026 - 11:41 | 16 Views | 0 Suka

Serapan B50 Menguat, GAPKI Wanti-wanti Ekspor Minyak Sawit Menyusut

8 mnt baca

Inilahdata.com – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan agar mandatori biodiesel dijalankan dengan lebih luwes, yakni dengan memperhitungkan harga minyak sawit mentah (CPO) dan bahan bakar fosil.

Usulan ini muncul ketika ekspor minyak sawit Indonesia pada 2026 diperkirakan menurun karena semakin banyak sawit terserap di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal GAPKI Hadi Sugeng menyampaikan bahwa kenaikan konsumsi sawit untuk biodiesel harus diiringi kenaikan produksi.

Tanpa itu, pasokan untuk pasar ekspor akan berkurang. Penjelasan ini ia sampaikan dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026).

“Apabila produksinya tidak kita kendalikan, tentu yang menjadi perubahan adalah ekspornya. Volume ekspor akan menurun,” ujarnya.

Menurut Hadi, pemerintah perlu membandingkan harga CPO dengan harga bahan bakar fosil saat menentukan besaran mandatori biodiesel. Bila CPO lebih mahal, pemakaian sawit untuk biodiesel sebaiknya dievaluasi supaya industri tetap bisa memanfaatkan peluang di pasar ekspor.

Data GAPKI mencatat konsumsi minyak sawit di dalam negeri sepanjang Januari–Agustus 2026 sebesar 17,52 juta ton, naik 6,81 persen dari 16,41 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Pendorong utamanya adalah biodiesel yang menyerap 9,21 juta ton, naik dari 8,34 juta ton pada Januari–Agustus 2025.

Untuk keseluruhan 2026, GAPKI memperkirakan konsumsi domestik bertambah sekitar 9,5 persen. Menurut Hadi, kenaikan itu sejalan dengan berlakunya mandatori biodiesel B50 (campuran minyak sawit 50 persen) yang efektif mulai Oktober 2026.

Dari sisi produksi, minyak sawit Indonesia mencapai 41 juta ton hingga Agustus 2026, sekitar 5 persen lebih tinggi daripada 39,04 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Produksi sepanjang tahun diperkirakan 58,8 juta ton, naik sekitar 4 persen dari 56,55 juta ton pada 2025. Hadi menilai produksi harus terus dijaga agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi tanpa mengorbankan pasar ekspor.

Ekspor diproyeksi turun 3,8 persen

Total ekspor minyak sawit dan produk turunannya pada Januari–Agustus 2026 tercatat 23,37 juta ton, naik 2,9 persen dari 22,70 juta ton setahun sebelumnya.

Meski begitu, GAPKI memperkirakan ekspor sepanjang 2026 hanya sekitar 31 juta ton, turun 3,8 persen dari realisasi 2025 sebesar 32,34 juta ton. Hadi mengaitkan penurunan itu dengan makin besarnya sawit yang terserap biodiesel di dalam negeri.

Ia mengingatkan bahwa volume ekspor harus dipertahankan karena menjadi sumber penerimaan yang menopang berbagai program industri sawit.

Salah satunya program biodiesel, yang dibiayai dari pungutan ekspor dan dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

“Biodiesel itu kan bukan dibiayai dari APBN, dibiayai dari pungutan ekspor. Jadi kalau kita enggak ekspor, ya enggak ada pungutan ekspor,” kata Hadi.

Selain biodiesel, dana pungutan ekspor juga dipakai untuk peremajaan perkebunan dan riset. Karena itu GAPKI menilai kenaikan produksi penting untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi domestik dan ekspor.

Kenaikan mandatori biodiesel, menurut Hadi, perlu menyesuaikan kemampuan produksi agar volume ekspor tidak berkurang berlebihan.

Dari sisi nilai, ekspor minyak sawit dan turunannya pada Januari–Agustus 2026 mencapai US$27,55 miliar atau sekitar Rp479,76 triliun. Angka itu lebih tinggi daripada US$24,79 miliar (sekitar Rp406,04 triliun) pada periode yang sama tahun lalu. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%