
Inilahdata.com – Tim gabungan kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) menurunkan 1.816 personel untuk menggerebek kawasan Kampung Bahari dan Kampung Muara Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/11/2026).
Berbeda dari operasi biasanya, petugas menuju lokasi dengan naik kereta rel listrik (KRL) Commuter Line.
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Adhe Hariadi menyebut penyisiran dimulai sekitar pukul 05.30 WIB. Personelnya berasal dari Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, Satresnarkoba Polres Metro Jakarta Utara, dan Brimob Polri.
Mereka berangkat dari Stasiun Tanjung Priok. KRL dipilih karena jalurnya langsung mengarah ke titik yang diduga menjadi tempat peredaran narkoba.
Begitu tiba, petugas turun dan menyisir lapak-lapak di sepanjang rel serta permukiman warga. Di lapangan, sejumlah pihak yang diduga terlibat jaringan peredaran sempat melawan. Perlawanan itu, menurut polisi, tidak menghambat jalannya operasi.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso menjelaskan, penggerebekan dilakukan serentak dari beberapa arah dan melibatkan BNN, Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, serta Brimob.
“Kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi. Oleh karena itu kita lakukan serempak, kemudian kita berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, Bareskrim, Polda Metro Jaya, Brimob, dan lain sebagainya,” kata Bismo.
27 Orang Ditangkap
Dari operasi ini, Polda Metro Jaya menangkap 27 orang yang diduga terkait jaringan peredaran narkotika. Pada tahap awal, empat orang diamankan di lokasi utama: satu orang kedapatan membawa pil psikotropika, sedangkan tiga lainnya diduga pengguna.
“Nanti kita akan lakukan pendalaman,” ujar Bismo.
Barang bukti yang disita meliputi sabu ratusan gram, ganja, dan ribuan butir ekstasi. Petugas juga menemukan satu unit mesin pencetak ekstasi, bong, senjata tajam, senjata api, dan uang tunai yang diduga berasal dari transaksi narkotika. Menurut Bismo, uang itu ditemukan bersama barang bukti ganja.
Ia menyebut para pelaku masih memanfaatkan lapak liar di bantaran rel sebagai tempat transaksi. Untuk memutus mata rantai peredaran, polisi berencana membongkar bangunan liar yang disalahgunakan, sambil terus memburu bandar utama.
“Membongkar lapak juga supaya tidak disalahgunakan. Kita akan terus lakukan operasi ini di berbagai tempat dan juga pengejaran terhadap bandarnya,” ujarnya.
Polda Metro Jaya Gandeng KAI
Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto menegaskan, persoalan narkoba di dua kampung itu tidak cukup diselesaikan lewat penyisiran dan penegakan hukum.
Menurutnya, lingkungan fisik dan sosial kawasan harus ditata supaya tidak kembali dipakai untuk peredaran maupun penyalahgunaan narkoba.
Saat meninjau operasi, Dadang melihat sejumlah bangunan di dekat rel yang diduga dipakai sebagai lapak penyalahgunaan narkoba. Ia sudah berkomunikasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) soal rencana penataan bantaran rel.
Rencana itu juga membutuhkan kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pihak terkait lainnya, termasuk mencari solusi permukiman bagi warga setempat.
“Penataan lingkungan sosial inilah yang perlu kerja sama sekaligus penyadaran masyarakat,” kata Dadang.
Ia menambahkan, penataan tidak hanya soal perbaikan fisik, tetapi juga menumbuhkan kepedulian warga untuk mencegah peredaran gelap narkoba, dengan tetap memperhatikan warga yang mencari nafkah secara sah.
Dadang mengakui kewenangan kepolisian terbatas dalam urusan permukiman dan tata kota, sehingga pemerintah daerah dan PT KAI perlu terlibat sesuai tanggung jawab masing-masing.
Ia berharap penanganan Kampung Bahari tidak berhenti setelah operasi usai, tetapi berlanjut sampai kawasan itu aman, tertata, dan bersih dari narkoba. (**)
Halaman : 1 2