Rabu, 29 Jul 2026 - :
26 Jul 2026 - 16:56 | 34 Views | 0 Suka

Musim Kemarau Meluas, BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla

14 mnt baca

Inilahdata.com – Musim kemarau di Indonesia kian meluas, namun bukan berarti langit sepenuhnya kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut dinamika atmosfer yang masih aktif membuat sejumlah wilayah tetap berpeluang diguyur hujan berintensitas sedang hingga akhir Juli 2026.

Dalam analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, BMKG mencatat 72,8 persen wilayah Indonesia, atau setara 509 Zona Musim (ZOM), telah resmi memasuki periode kemarau.

“Sebanyak 72,8% wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau,” demikian keterangan resmi BMKG yang dikutip Minggu (26/7/2026).

Hari Tanpa Hujan Kian Panjang, Purworejo Catat Rekor 80 Hari

Meluasnya kemarau tergambar jelas dari data Hari Tanpa Hujan (HTH). Hingga Dasarian II Juli 2026, sebanyak 1.366 titik pengamatan mencatat HTH kategori panjang (21–30 hari), 943 titik masuk kategori sangat panjang (31–60 hari), dan 70 titik lainnya tersebar di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sudah masuk kategori ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan sama sekali.

Rekor durasi terpanjang tercatat di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang mencapai 80 hari berturut-turut tanpa hujan.

Kondisi kering ini sejalan dengan proyeksi BMKG sejak pertengahan tahun bahwa musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dan bertahan lebih lama dari kondisi normalnya di hampir separuh wilayah Indonesia.

Fenomena ini juga tak lepas dari pengaruh El Niño yang masih bertahan di Samudra Pasifik, indeks Niño 3.4 tercatat di angka +1,24 dengan Southern Oscillation Index (SOI) -23,3, indikator klasik kondisi atmosfer yang mendukung berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Tetap Ada Celah Hujan di Tengah Kekeringan

Meski kemarau kian dominan, BMKG menegaskan peluang hujan belum sepenuhnya tertutup.

Aktivitas Gelombang Kelvin dan Madden-Julian Oscillation (MJO), ditambah keberadaan Bibit Siklon Tropis 92W yang terpantau di Laut Filipina Timur, utara Papua Barat Daya, dengan tekanan minimum sekitar 1.004 hektopaskal dan kecepatan angin hingga 25 knot, turut meningkatkan suplai uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah kawasan.

Untuk periode 24–26 Juli 2026, cuaca umumnya didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan, meski BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi hujan sedang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara. Lalu wilayah zona Sulawesi yang terdiri dari Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Tengah.

Memasuki periode 27–31 Juli 2026, potensi hujan sedang bergeser ke Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.

Lengkap dengan peringatan potensi angin kencang yang membentang dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

“Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal,” demikian pernyataan BMKG.

Bayang-Bayang Karhutla di Balik Kemarau yang Meluas

Sisi lain dari meluasnya kemarau adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Data Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla nasional sepanjang Januari–Juni 2026 telah mencapai lebih dari 107 ribu hektare, dengan jumlah titik panas (hotspot) nasional melonjak hingga 166,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebuah lonjakan yang menurut pemantauan satelit bahkan sudah melampaui akumulasi hotspot pada tahun-tahun karhutla besar seperti 2019 dan 2023, meski luasan arealnya secara keseluruhan masih jauh di bawah rekor 2,63 juta hektare pada 2019.

Kalimantan Barat, Riau, dan Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai tiga wilayah dengan luas kebakaran tertinggi, sementara di berbagai daerah seperti Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah, satuan penanggulangan bencana daerah melaporkan ratusan hingga ribuan titik panas baru sepanjang Juli.

Puncak musim kemarau sendiri, menurut prediksi BMKG, baru akan terjadi Agustus 2026 di sebagian besar wilayah, mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen luas daratan Indonesia, sehingga tekanan kekeringan dan ancaman karhutla berpotensi terus meningkat dalam sebulan ke depan.

Imbauan BMKG: Waspada Panas dan Cuaca Ekstrem Lokal

BMKG mengimbau masyarakat mengantisipasi dampak cuaca panas dengan menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla serta tidak melakukan pembakaran terbuka.

Saat hujan disertai angin kencang terjadi, BMKG mengingatkan agar masyarakat menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang rapuh. (**)

Sumber: BMKG (siaran resmi dan situs cuaca.bmkg.go.id, 23–26 Juli 2026); Bloomberg Technoz; NU Online; RRI.co.id; Kompas TV; Media Indonesia; Tempo.co; Mongabay Indonesia; Metrotvnews.com; Headline.co.id; Liputan6.com; Prokalteng/Jawa Pos, dihimpun 22–26 Juli 2026.

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%