
Inilahdata.com – Langit di atas Gorontalo mungkin terlihat biasa saja dari darat, tapi mata satelit menangkap cerita berbeda. Sepanjang Rabu, (19/8/2026), dari pukul 00.00 hingga 15.00 WITA, sensor empat wahana antariksa merekam 49 titik panas atau hotspot yang tersebar di wilayah provinsi ini.
Sejumlah titik panas tersebut adalah sinyal dini yang oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo langsung dijadikan bahan kewaspadaan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Gorontalo Rusli W. Nusi menjelaskan, dari 49 titik yang terekam, sebanyak 45 di antaranya berada pada tingkat kepercayaan sedang, sementara empat sisanya masuk kategori rendah.
Belum satu pun yang mencapai tingkat kepercayaan tinggi, kabar yang sedikit melegakan, meski tak berarti ancaman sepenuhnya reda.
“Hotspot menjadi salah satu indikator yang perlu kita waspadai,” katanya, dikutip dari Antara, seraya berharap masyarakat tidak melakukan pembakaran sembarangan.
Rusli menekankan, kemunculan hotspot tidak otomatis berarti kebakaran sudah terjadi di lapangan.
Yang direkam satelit sesungguhnya adalah anomali suhu permukaan, lonjakan panas yang bisa jadi berasal dari lahan kering, aktivitas pembakaran kecil, atau sumber panas lain yang belum tentu berkembang menjadi kebakaran besar.
Namun ia mengingatkan, fenomena ini tetap perlu dipantau ketat karena berpotensi membesar dengan cepat jika dibiarkan.
“Jika api tidak terkendali, dampaknya bisa meluas dan membahayakan lingkungan maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.
Data sebaran hotspot ini bersumber dari empat satelit yang saling melengkapi jam lintasannya di atas wilayah Indonesia: Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA-20.
Seluruh data itu kemudian diolah oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelum diteruskan ke daerah sebagai bahan mitigasi.
BPBD Gorontalo, kata Rusli, terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan titik panas dari waktu ke waktu, sekaligus mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar maupun membuang sampah sembarangan saat kondisi tanah mengering.
Temuan 19 Agustus ini sebenarnya bukan kejutan tunggal, melainkan bagian dari tren yang sudah terlihat sejak awal musim kemarau.
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail lebih dulu menerbitkan Surat Edaran Nomor 360/BPBD/1005/VII/2026 pada 17 Juli 2026, menginstruksikan seluruh kabupaten dan kota mengaktifkan Posko Siaga Darurat Bencana untuk mengantisipasi kekeringan, krisis air bersih, sekaligus karhutla.
Sepekan berselang, BPBD sudah memantau 18 titik api di tiga kabupaten, Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, dan Pohuwato.
Memasuki akhir Juli, dampak kekeringan kian terasa: 5.388 jiwa dari 2.361 kepala keluarga di tiga kabupaten kekurangan air bersih, dan Kabupaten Gorontalo bahkan menetapkan status siaga darurat kekeringan selama 90 hari, berlaku hingga pertengahan Oktober.
Dalam skala nasional, temuan di Gorontalo ini masih tergolong kecil dibanding provinsi lain. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam rapat bersama Komisi V DPR pada 20 Agustus 2026, menyebut empat provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak per data 19 Agustus.
Empat provinsi tersebut adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur—dengan Kalimantan Barat menempati posisi teratas.
Fenomena El Nino lemah yang berpadu dengan Dipole Samudra Hindia (IOD) positif diperkirakan mendorong puncak risiko karhutla nasional pada periode Agustus–September 2026, membuat hampir seluruh wilayah kering di Indonesia berada dalam status waspada serupa.
Bagi Gorontalo, 49 titik panas dalam satu putaran pemantauan menjadi pengingat bahwa musim kering tahun ini belum menunjukkan tanda mereda.
BPBD provinsi kini bertumpu pada kombinasi data satelit dan kesiapsiagaan di lapangan, berharap jeda antara “titik panas terdeteksi” dan “kebakaran benar terjadi” bisa dimanfaatkan sebelum api sungguh menyala. (**)
Halaman : 1 2