
Inilahdata.com – Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mulai menampakkan dampaknya pada kesehatan warga.
Data terbaru Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel menunjukkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melonjak menjadi 36.196 kasus sepanjang pekan ke-28 hingga pekan ke-32 tahun 2026.
Angka itu tidak muncul sekaligus, melainkan merangkak naik dari minggu ke minggu: 5.319 kasus pada pekan ke-28, kemudian bertambah menjadi 6.460 kasus di pekan ke-29, melonjak lagi ke 7.617 kasus pada pekan ke-30.
Tterus naik menjadi 8.342 kasus di pekan ke-31, hingga akhirnya mencapai puncaknya sebesar 8.458 kasus pada pekan ke-32.
Tren Naik, tapi Mulai Melandai
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, mengonfirmasi bahwa laporan pekan ke-32 memang menjadi yang tertinggi selama rentang lima pekan terakhir.
Namun ia menggarisbawahi satu hal penting: laju kenaikannya justru mulai melambat dibandingkan lonjakan pada pekan-pekan sebelumnya.
Meski begitu, ia menegaskan pihaknya tidak lantas mengendurkan kewaspadaan.
“Bukan berarti kewaspadaan diturunkan. Pemantauan dan surveilans tetap kami lakukan secara berkelanjutan bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota,” ujar Diauddin di Banjarmasin, Rabu (26/8), sebagaimana dikutip dari Antara.
Banjarmasin Memimpin Daftar Kasus Terbanyak
Berdasarkan sebaran wilayah pada pekan ke-32, Kota Banjarmasin tercatat sebagai penyumbang kasus ISPA terbanyak dengan 1.603 kasus.
Posisi berikutnya diisi Kota Banjarbaru dengan 1.142 kasus, Kabupaten Banjar 1.135 kasus, Kabupaten Tanah Laut 751 kasus, dan Kabupaten Kotabaru 538 kasus.
Selain lima daerah tersebut, Dinkes Kalsel juga terus memantau perkembangan di sejumlah wilayah lain seperti Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, Tapin, dan Hulu Sungai Tengah, agar gambaran penyebaran ISPA di seluruh Kalsel dapat terpetakan secara menyeluruh.
Diauddin mengingatkan bahwa perbandingan angka antarwilayah tidak bisa dibaca secara mentah-mentah. “Jumlah penduduk, kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta kelengkapan dan ketepatan pelaporan bisa berbeda antarwilayah,” katanya.
Terkait kemungkinan kaitan langsung antara kualitas udara dan lonjakan kasus, Diauddin memilih bersikap hati-hati. Pihaknya tetap memantau keterkaitan data kesehatan dengan kondisi udara dan berbagai faktor lain, namun enggan buru-buru menarik kesimpulan sepihak.
“Kami tidak boleh langsung menyimpulkan satu penyebab, tapi berdasarkan data dan perkembangan di lapangan,” ujarnya.
Polda Kalsel Andalkan Kolam Bioflok untuk Padamkan Api
Di sisi penanganan sumber masalah, Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan turut ambil bagian dengan menginisiasi pembuatan kolam bioflok di sejumlah titik karhutla di Banjarbaru.
Kolam ini difungsikan sebagai wadah penampungan air untuk memudahkan proses pemadaman.
Kapolda Kalsel, Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan, menjelaskan bahwa kolam berkapasitas 12 ribu liter tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan membangun embung konvensional dalam menyediakan pasokan air pemadaman.
“Rencana awal ada 10 kolam kami buat. Saat ini sudah ada dua yang selesai dibikin,” kata Rosyanto di Posko Penanggulangan Karhutla, Pengayuan, Banjarbaru, Rabu (26/8/2026)
Dengan kombinasi pemantauan kesehatan yang ketat dan langkah teknis pemadaman di lapangan, pemerintah daerah dan aparat keamanan di Kalsel berupaya menekan dua sisi persoalan sekaligus: dampak kesehatan warga dan sumber kabut asap itu sendiri. (**)
Halaman : 1 2