
Inilahdata.com – Di balik tumpukan sampah setinggi bangunan bertingkat di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, ada satu jenis limbah yang selama ini nyaris tak dilirik siapa pun: potongan kain jin bekas.
Justru dari bahan yang dianggap tak bernilai itulah seorang perajin muda membangun usaha yang kini menembus pasar ekspor.
Sekitar 150 meter dari hamparan gunungan sampah, berdiri sebuah bangunan produksi sederhana milik Anam Nonako (26).
Berbekal dua mesin jahit dan dibantu dua orang pekerja, Anam mengolah limbah jin menjadi beragam produk kerajinan, mulai dari tas, rompi, topi, hingga gantungan kunci.
Pilihan Anam menjadikan kain jin sebagai bahan baku bukan tanpa alasan.
Material ini selama bertahun-tahun luput dari perhatian para pemulung di kawasan Bantargebang, yang lebih tertarik memungut komponen logam pada celana jin ritsleting dan kancing, lalu membuang kembali kainnya ke tumpukan sampah.
“Kenapa Jin sebagai gerakan awal karena pemulung yang ada disini hanya merespon bagian terkecil yang ada dibahan jin, ada retsleting dan kancing, karena itu salah satu bentuk jenis logam, sedangkan kainnya itu mereka buang lagi ke TPST,” kata Anam sebagaimana dikutip dari Bloomberg Technoz, Minggu (23/7/2026).
Rantai Nilai dari Rp2.000 ke Rp400.000
Setiap pekan, para pemulung membawa potongan-potongan kain jin dari area TPST untuk dijual kepada Anam.
Harga belinya berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000 per potong, tergantung kondisi kainnya.
Dari bahan mentah seharga recehan itu, di tangan Anam dan timnya, kain-kain tersebut disulap menjadi produk jadi yang dibanderol Rp60.000 hingga Rp400.000.
Sebuah lompatan nilai tambah yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan kali lipat dari harga bahan bakunya.
Pasar produk Anam pun tak lagi terbatas di dalam negeri. “Penjualan kalau di luar negeri kita beberapa kali kirim ke Jepang sampai sekarang juga, ke London juga,” ungkap Anam.
Usaha ini telah berjalan sejak 2021, dan menurut pengakuan Anam, kini rutin membukukan omzet Rp30 juta hingga Rp40 juta setiap bulan.
“Omzetnya rata-rata perbulannya Rp30-40 juta ya itu bisa dibilang kotor, bisa dibilang bersih,” ujarnya.
Bergerak di Bawah Nama Waste4Reuse
Usaha Anam bukan sekadar bengkel jahit perorangan. Ia menaunginya lewat gerakan berbasis komunitas bernama Waste4Reuse, yang berpusat di kawasan Bantargebang.
Fokus awal kelompok ini memang pada limbah tekstil, sebab, seperti dituturkan Anam pada kesempatan lain, jenis sampah ini “tidak ada tengkulaknya” di lingkungan TPST.
Berbeda dari plastik atau logam yang sudah punya rantai pengepul sendiri.
Cakupan kerja Waste4Reuse belakangan meluas. Selain kain jin, kelompok ini mulai merintis pengolahan limbah plastik menjadi paving block serta sisa makanan menjadi pupuk dan ekoenzim.
Langkah yang sempat mereka terapkan saat dilibatkan dalam pengelolaan sampah sebuah acara musik, dan mendapat apresiasi dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bekasi.
Setitik Solusi di Tengah Gunungan Masalah
Skala usaha Anam memang kecil bila dibandingkan dengan besarnya persoalan sampah di Bantargebang.
TPST seluas 110 hektare yang telah beroperasi sejak 1989 ini menerima kiriman sampah dari Jakarta rata-rata 7.500–8.000 ton per hari pada 2025–2026.
Naik dari sekitar 7.228 ton per hari pada 2021 dan 5.655 ton per hari pada 2015.
Volume yang menumpuk itu mendekati batas kapasitas lahan, dan pada 8 Maret 2026 longsor sampah di lokasi ini bahkan menelan tujuh korban jiwa.
Hal ini mendorong Pemprov DKI Jakarta mewajibkan pemilahan sampah dari sumber dan membatasi Bantargebang hanya menerima sampah residu mulai 1 Agustus 2026.
Limbah tekstil, termasuk kain jin, adalah salah satu komponen yang berkontribusi pada tumpukan itu.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat timbulan sampah tekstil nasional sekitar 2,3 juta ton per tahun, setara 2,5–2,9 persen dari total volume sampah domestik.
Menurut proyeksi Kementerian PPN/Bappenas, angka itu berpotensi melonjak hingga 70 persen jika tidak ada intervensi berarti.
Secara global, industri fesyen dan tekstil disebut menyumbang sekitar 92 juta ton limbah per tahun.
Dengan mayoritasnya, sekitar 61 persen menurut lembaga riset Circle Economy, berakhir ditimbun atau dibakar karena kapasitas daur ulang tekstil di dunia jauh tertinggal dari volume limbah yang dihasilkan.
Dalam konteks itulah, apa yang dilakukan Anam dan Waste4Reuse menjadi contoh kecil bagaimana model ekonomi sirkular berbasis masyarakat bisa dijalankan dari titik paling hulu rantai sampah.
Tempat kain jin yang tak lagi dianggap berharga oleh siapa pun, justru menemukan pembelinya.
Sumber: Bloomberg Technoz (wawancara dan foto, 23–25 Juli 2026); Event Fest ID (keterangan Anam Nonako soal Waste4Reuse, Mei 2026); Kompas.id; Kompas Foto; GovInsider; Metro TV; Databoks/Katadata; Okezone Nasional; DJPb Kemenkeu; Validnews.id; Wikipedia (Bantar Gebang), dihimpun 24–26 Juli 2026.
Halaman : 1 2