
Inilahdata.com – Otoritas keamanan Pakistan menempuh langkah drastis dengan mengunci rute-rute utama menuju ibu kota Islamabad menggunakan tumpukan ganda kontainer kargo pada Kamis.
Langkah pembatasan besar-besaran ini diambil menjelang demonstrasi akhir pekan yang digagas para pendukung mantan Perdana Menteri Imran Khan, yang kini mendekam di penjara.
Mengutip Manila Times, Jumat (25/9/2026), sejumlah pejabat menyampaikan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa kepolisian mengerahkan 22.000 personel keamanan untuk mengunci wilayah Islamabad.
Pihak berwenang juga melarang akses masuk dan keluar ke provinsi tetangga, Khyber Pakhtunkhwa, yang saat ini dikuasai partai pimpinan Khan.
Sejumlah jalan raya utama, titik masuk, dan persimpangan besar terpantau diblokir hingga benar-benar memutus jaringan transportasi dan melumpuhkan pergerakan warga.
Mobil-mobil terjebak dalam kemacetan panjang, sementara pengendara motor harus bersusah payah menyelip di antara celah-celah kontainer.
Penangkapan preventif menjelang aksi
Tindakan represif ini kian diperketat sejak awal pekan. Tiga saudara perempuan Khan, Aleema Khan, Uzma Khan, dan Noreen Niazi, ditahan berdasarkan ordonansi Pemeliharaan Ketertiban Umum (MPO) Provinsi Punjab.
Perintah penahanan preventif selama 30 hari itu menuduh mereka memobilisasi pendukung lewat media sosial dan menghasut terhadap institusi negara.
Tak hanya keluarga Khan, puluhan anggota parlemen, pemimpin regional, dan aktivis oposisi yang berafiliasi dengan Partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) turut ditangkap di sejumlah distrik Punjab dan Islamabad.
Kecaman dari pengawas HAM internasional
Langkah keras ini langsung memicu reaksi dari pengawas hak asasi manusia internasional yang berulang kali menyoroti meningkatnya penyensoran pers, penangkapan massal, dan pembatasan kebebasan mendasar di Pakistan di tengah kebuntuan politik. Perwakilan Amnesty International, Babu Ram Pant, menyampaikan kritik tegas.
“Penargetan keluarga Imran Khan dan aktivis partai PTI merupakan pelanggaran mencolok terhadap hak-hak mereka atas kebebasan, kebebasan berekspresi, berserikat, dan berkumpul secara damai, tindakan tersebut menunjukkan betapa parahnya pembatasan saat ini di Pakistan,” katanya.
Mantan bintang kriket berusia 73 tahun itu telah mendekam di balik jeruji sejak Agustus 2023, menghadapi puluhan tuduhan mulai dari korupsi hingga pengkhianatan dan hasutan kekerasan menyusul kerusuhan anti-pemerintah yang meluas pada Mei 2023.
Khan bersama tim hukumnya menolak seluruh tuduhan tersebut dan menyebutnya bermotif politik untuk melemahkan popularitasnya.
Pemerintah membantah kota dikunci
Pawai menuju ibu kota ini merupakan gebrakan jalanan besar pertama PTI dalam beberapa bulan terakhir untuk mendesak pembebasan Khan.
Meski situasi di lapangan menunjukkan sebaliknya, Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar membantah bahwa kota tersebut sedang dikunci, dalam konferensi pers di Khyber Pakhtunkhwa.
“Mereka tidak harus datang ke Islamabad,” tegasnya. “Tidak ada seorang pun yang akan diizinkan untuk menutup kota.”
Di sisi lain, demonstrasi paralel yang semula digagas partai sayap kanan Jamaat-e-Islami bersama pemimpin serikat petani terkait melonjaknya inflasi dan retribusi minyak bumi dilaporkan ditangguhkan.
Penangguhan ini terjadi usai komunikasi telepon dengan pemerintahan PM Shehbaz Sharif, sehingga PTI harus berbaris sendirian dalam protes akhir pekan ini. (**)
Halaman : 1 2