Rabu, 29 Jul 2026 - :
15 Jul 2026 - 16:15 | 62 Views | 0 Suka

Indonesia Melesat ke Peringkat Dua Dunia Wisata Ramah Muslim, Kalahkan Turki dan Arab Saudi

8 mnt baca
  • Indonesia naik tiga peringkat, dari posisi kelima ke posisi kedua GMTI 2026, dengan skor 79, tertinggi sepanjang keikutsertaannya, sejajar Arab Saudi dan Turki, di bawah Malaysia yang tetap juara dengan skor 83.
  • Kenaikan ditopang perbaikan layanan halal, sertifikasi UMKM lewat BPJPH, peluncuran IMTI bersama BI, serta promosi lewat Visit Indonesia; Jawa Barat turut meraih predikat daerah paling menjanjikan.
  • Momentum ini sejalan dengan ledakan pasar wisata Muslim global yang diproyeksikan mencapai 262 juta perjalanan dan US$310 miliar pada 2030, membuka peluang besar devisa pariwisata nasional.

Inilahdata.com – Indonesia mencatatkan tonggak baru di panggung pariwisata global. Dalam ajang Global Muslim Travel Index (GMTI) Awards 2026, Indonesia naik tiga posisi sekaligus, dari peringkat kelima tahun lalu menjadi peringkat kedua sebagai Muslim Friendly Destination of the Year, hasil pemeringkatan tahunan yang disusun Mastercard bersama CrescentRating.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan, Indonesia meraih skor 79 pada GMTI 2026, angka tertinggi sepanjang sebelas kali keikutsertaan Indonesia dalam indeks tersebut.

Skor itu membuat Indonesia sejajar dengan Arab Saudi dan Turki di posisi kedua, tepat di bawah Malaysia yang mempertahankan takhta juara dengan skor 83 untuk 11 tahun berturut-turut.

“Peningkatan ini mencerminkan konsistensi Indonesia dalam membangun ekosistem pariwisata ramah Muslim yang semakin berkualitas, inklusif, dan berdaya saing global,” ujar Widiyanti dalam konferensi pers mingguan Badan Komunikasi Republik Indonesia, Rabu (15/7/2026).

Ia menambahkan, keunggulan Indonesia dalam penilaian tahun ini terutama terletak pada aspek layanan.

“Dari perspektif kerangka penilaian Global Muslim Travel Index (GMTI), Indonesia memiliki keunggulan pada aspek services,” katanya, merujuk pada ketersediaan makanan halal, kemudahan akses ke masjid, serta layanan bandara dan akomodasi yang mendukung kebutuhan wisatawan Muslim.

Kerangka ACES dan Lompatan Terbesar di Papan Atas

GMTI menilai 150 destinasi dunia, mewakili lebih dari 98 persen kedatangan wisatawan Muslim global, melalui kerangka ACES: Access (konektivitas dan kemudahan visa), Communication (promosi dan kesiapan bahasa), Environment (keamanan dan persepsi terhadap Muslim), serta Services (ketersediaan fasilitas ramah Muslim), dengan total 17 indikator.

Pada edisi 2026, penilaian bahkan diperluas mencakup kesiapan pemanfaatan kecerdasan buatan, visibilitas digital, dan ketahanan destinasi.

Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji, yang menerima penghargaan mewakili Menpar di Balestier Ballroom, Aloft Singapore Novena, pada 18 Juni 2026, menyebut lompatan Indonesia sebagai salah satu yang paling signifikan di papan atas GMTI tahun ini.

“Indonesia telah berhasil meningkat dari ke-5 tahun lalu ke ke-2 tahun ini. Kami optimis untuk menemukan posisi kami sebagai Muslim tertinggi di dunia global pada tahun depan,” katanya.

Founder dan CEO CrescentRating Fazal Bahardeen turut menyoroti tren di balik kenaikan tersebut: destinasi yang naik peringkat bukan sekadar menambah fasilitas halal, melainkan berinvestasi pada infrastruktur kesiapan yang membuat destinasi lebih mudah ditemukan, dipercaya, dan direkomendasikan wisatawan.

Prestasi Indonesia tidak berhenti di situ. Provinsi Jawa Barat dinobatkan sebagai The Most Promising Muslim-Friendly Region of the Year untuk kategori negara anggota OKI.

Sementara pada kategori destinasi terbaik bagi wisatawan Muslim perempuan, Indonesia menempati posisi kedua bersama Qatar dengan skor 81.

Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap keamanan dan kenyamanan berwisata di Tanah Air, di tengah proyeksi bahwa perempuan Muslim kini menyumbang sekitar 48 persen dari total perjalanan wisatawan Muslim internasional.

Pasar Bernilai US$310 Miliar pada 2030

Widiyanti menilai penghargaan ini punya makna strategis karena pasar wisata ramah Muslim merupakan salah satu segmen pariwisata dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Berdasarkan proyeksi GMTI, jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional yang tercatat 196 juta pada 2025 diperkirakan naik menjadi 208 juta pada 2026 dan mencapai 262 juta pada 2030, dengan nilai ekonomi pasar diproyeksikan tembus US$310 miliar.

Populasi Muslim global sendiri diperkirakan mencapai 2,57 miliar jiwa pada 2036, dengan sekitar 70 persen berusia di bawah 40 tahun dan aktif menggunakan teknologi digital, menjadikan kehadiran digital destinasi sama pentingnya dengan ketersediaan masjid dan makanan halal.

Untuk menangkap peluang tersebut, pemerintah memperkuat promosi lewat laman khusus wisata ramah Muslim di platform Visit Indonesia, menggandeng Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) untuk sertifikasi halal pelaku usaha mikro dan kecil di desa wisata.

Termasuk meluncurkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) bersama Bank Indonesia sebagai acuan bagi pemerintah daerah dan pelaku industri.

Kementerian Pariwisata juga tengah memetakan destinasi wisata ramah Muslim berdasarkan aspek aksesibilitas, atraksi, dan amenitas (3A), sekaligus mendorong strategi quality tourism lewat diversifikasi produk wisata gastronomi, wellness, bahari, wastra, serta seni dan desain.

“Pemerintah akan terus memperkuat pengembangan destinasi, layanan, dan promosi wisata ramah muslim agar mampu bersaing di pasar internasional,” tandas Widiyanti (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%