Sabtu, 12 Sep 2026 - :
7 Sep 2026 - 13:09 | 51 Views | 0 Suka

Epidemiolog Ingatkan Kandungan Silika Tajam dalam Abu Vulkanik Anak Krakatau

11 mnt baca

Inilahdata.com – Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan telah menjangkau sejumlah wilayah, mulai dari Lampung, Banten, Jakarta, hingga Bandung. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih waspada, terutama terhadap risiko kesehatan yang mengintai akibat paparan material vulkanik tersebut.

Berbeda dari debu yang biasa dijumpai sehari-hari, abu vulkanik memiliki karakteristik dan kandungan yang jauh lebih berisiko bagi tubuh. Partikelnya yang sangat halus mudah terbawa udara dan bisa masuk ke saluran pernapasan, mengenai mata, maupun menempel di kulit.

Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, menjelaskan salah satu kandungan yang patut diwaspadai dalam abu vulkanik adalah silika, material dengan karakteristik menyerupai serpihan kaca tajam yang berpotensi melukai atau mengiritasi bagian tubuh yang terpapar.

“Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit,” kata Dicky Budiman, dikutip dari Antara.

Risiko paparan ini semakin besar ketika masyarakat beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan memadai. Karena itu, selama kondisi masih memungkinkan, warga di wilayah terdampak disarankan untuk lebih banyak berada di dalam rumah.

Mengapa Abu Vulkanik Lebih Berbahaya?

Abu vulkanik terbentuk dari proses erupsi yang bersifat eksplosif, sehingga menghasilkan partikel dengan komposisi dan kandungan kimia yang berbeda dari debu pada umumnya.

Perbedaan karakteristik ini turut dibahas dalam jurnal “Physicochemical Properties and Bioreactivity of Sub-10 μm Geogenic Particles: Comparison of Volcanic Ash and Desert Dust” yang ditulis Tomašek dkk. dan diterbitkan pada 2025.

Permukaan partikel vulkanik yang tajam berpotensi mengiritasi saluran pernapasan saat terhirup. Pada mata, paparan abu dapat memicu mata berair, memerah, pedih, hingga iritasi. Sementara pada kulit, abu vulkanik bisa menimbulkan rasa perih jika terpapar dalam intensitas yang sering.

Selain berdampak pada manusia, abu vulkanik yang masih membawa panas juga dapat merusak tumbuhan di sekitar wilayah erupsi hingga menyebabkannya mengering dan mati.

Cara Membersihkan Abu Vulkanik dari Tubuh dan Rumah

Bagi warga yang baru selesai beraktivitas di luar ruangan saat hujan abu terjadi, disarankan segera mandi setelah tiba di tempat aman untuk menghilangkan partikel yang menempel di tubuh.

Untuk bagian dalam rumah, abu sebaiknya tidak langsung disapu atau dilap dalam keadaan kering, karena berisiko membuat partikel kembali beterbangan. Pembersihan dengan kain lembap secara perlahan jauh lebih dianjurkan.

Beberapa langkah tambahan yang bisa dilakukan di rumah antara lain menutup rapat pintu dan jendela, menutup celah ventilasi menggunakan selotip atau handuk gulung, membatasi akses keluar-masuk hanya lewat satu pintu, serta meninggalkan pakaian dan sepatu yang terkena abu di luar rumah sebelum masuk ke ruangan bersih.

Penggunaan AC atau alat yang menyedot udara dari luar juga sebaiknya dihindari selama kondisi udara masih dipenuhi abu.

Saat harus beraktivitas di luar ruangan, perlindungan tubuh menjadi kunci. Pakaian tertutup dapat mengurangi kontak langsung dengan abu, sementara masker dengan kemampuan menyaring partikel halus seperti N95 dianjurkan untuk melindungi hidung dan mulut, dengan catatan harus terpasang rapat agar perlindungannya optimal.

“Jangan lupa karena ini adalah debu silika yang tajam jadi gunakan pelindung mata dengan kacamata ataupun bisa kacamata. Kalau mata teriritasi, segera bilas dengan air bersih,” ucap Dicky Budiman.

Jika mata terkena abu, masyarakat diimbau tidak menggosoknya, melainkan segera membilasnya secara perlahan dengan air bersih.

Kelompok Rentan Perlu Mendapat Perhatian

Lansia, bayi, anak-anak, penderita gangguan pernapasan, hingga ibu hamil menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian ekstra selama kondisi sebaran abu berlangsung.

Bila memungkinkan, aktivitas kelompok ini sebaiknya dilakukan sepenuhnya dari dalam ruangan yang berada di area aman menurut penetapan pemerintah setempat.

Selama berada di dalam ruangan dalam waktu lama, sejumlah hal perlu diperhatikan: memeriksa suhu ruangan secara berkala, menghindari penggunaan peralatan memasak atau pemanas yang menghasilkan asap, tidak merokok di dalam ruangan, serta menghindari alat pembakar tanpa saluran pembuangan seperti pemanggang guna mencegah risiko keracunan karbon monoksida.

Sementara jika keadaan mengharuskan keluar rumah, penggunaan masker bersertifikasi industri seperti N95, kacamata pelindung, dan pakaian tertutup tetap menjadi kombinasi perlindungan yang dianjurkan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abunya menjadi pengingat bahwa material vulkanik memerlukan penanganan yang berbeda dari debu biasa.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengutamakan keselamatan dengan membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan perlindungan yang tepat, serta terus memantau informasi resmi terkait perkembangan kondisi erupsi. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H — InilahData.com
PERINGATAN NASIONAL
1448 H
MEMPERINGATI
MAULID NABI
MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
RABIUL AWAL
12
RABIUL AWAL
1448 HIJRIAH
SELASA, 25 AGUSTUS 2026
Cinta kepada Rasul, Teladan Akhlak,
Rahmat bagi Semesta Alam.
Selamat Memperingati Maulid Nabi.
<div class=" quote"="">“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%