
Inilahdata.com – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan imbauan tegas: masyarakat diminta tidak memasuki atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung tersebut.
Imbauan ini muncul menyusul letusan yang berlangsung nyaris tanpa jeda sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga pagi harinya.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa status aktivitas Anak Krakatau saat ini berada di level III atau siaga, sebuah status yang sudah ditetapkan sejak 2 Juli 2026.
“Radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki. Ketentuan ini perlu dipatuhi karena potensi aliran lava dan lontaran material pijar masih dapat terjadi,” ungkap Lana dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).
Ia menambahkan, letusan yang terjadi disertai suara gemuruh yang bahkan bisa didengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten.
Dari pengamatan visual, tampak semburan berwarna merah menyala yang berlangsung terus-menerus.
Meski tinggi kolom letusan belum bisa dipastikan, karakter semburan tersebut disebut menyerupai fenomena lava air mancur, jenis erupsi yang berpotensi menghasilkan aliran lahar.
“Erupsi terus menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama,” jelasnya.
Meski begitu, Lana menegaskan warga di wilayah pesisir Banten dan Lampung tak perlu menghentikan aktivitas keseharian mereka, asalkan tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah.
“Masyarakat kami mohon tetap waspada terhadap potensi bahaya letusan, termasuk sebaran abu vulkanik, namun tidak perlu panik. Apabila terjadi hujan abu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau menggunakan pelindung pernapasan dan mengikuti arahan resmi dari Badan Geologi, PVMBG, serta BPBD setempat,” ujarnya.
Dari sisi kebencanaan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan tiga penekanan utama dalam menghadapi aktivitas erupsi ini. Pertama, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama, pemerintah daerah bersama unsur terkait diminta memastikan tak ada warga maupun wisatawan yang berada di zona bahaya.
“Pengawasan dan patroli di kawasan tersebut perlu terus diperkuat untuk mencegah masyarakat memasuki zona terlarang,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).
Kedua, ia menekankan pentingnya peningkatan kesiapsiagaan. Pemerintah daerah bersama BPBD diharapkan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, hingga kebutuhan dasar masyarakat sudah siap digunakan jika sewaktu-waktu diperlukan langkah evakuasi akibat perubahan aktivitas gunung.
Ketiga, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan patuh pada arahan petugas di lapangan, sekaligus tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, termasuk soal potensi tsunami yang belum tentu benar adanya.
“BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG juga akan melakukan evaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas maupun morfologi gunung api,” pungkas Berton. (**)
Halaman : 1 2