Jakarta Utara · Kamis, 13 Agustus 2026 Skrining Tuberkulosis
10.000
Unit rontgen disebar ke puskesmas
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menggandeng Bank Dunia untuk mendatangkan 10.000 alat rontgen guna memperluas skrining tuberkulosis langsung di puskesmas seluruh Indonesia.
01Skala Bantuan Bank Dunia
“
Saya sudah meminta bantuan teman-teman dari Bank Dunia; kita dapat uang untuk membeli rontgen 10 ribu. Mau kita bagi ke puskesmas-puskesmas, kayak USG.
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
Langsung ke Puskesmas
Skrining tanpa perlu rujukan ke rumah sakit
Terintegrasi CKG
Dapat dibarengi program Cek Kesehatan Gratis
02Mengapa TB Jadi Prioritas
120 Ribu
Kematian akibat TB di Indonesia setiap tahun
Ke-2 Terbawah
Peringkat global, hanya di bawah India
Persoalan utama bukan pada obat — yang sudah tersedia dan efektif — melainkan keterlambatan deteksi karena skrining jarang dilakukan.
03Alur Distribusi Alat
Alat rontgen kini tersedia dalam versi portabel — cukup dibawa menggunakan sepeda motor — sehingga bisa menjangkau lokasi terpencil maupun padat penduduk.
04Efektivitas Skrining di Hunian Padat
Rata-rata temuan skrining nasional0,3%
Temuan skrining di Nusakambangan3%
Skrining di lingkungan padat huni seperti lapas terbukti menemukan kasus TB sekitar 10 kali lebih tinggi dari rata-rata — pola serupa yang mendasari perluasan skrining ke pesantren.
Pondok Pesantren
Lembaga Pemasyarakatan
Permukiman Padat
05Catatan dari Lapangan
“
Saya itu dulu sering jalan ke pesantren-pesantren. Wah, itu benar-benar tumpuk-tumpukannya lebih atas bawah, kiri kanan. Tumpuk-tumpukannya padat sekali.
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan
10x
Lebih tinggi temuan di hunian padat
Portabel
Rontgen dibawa pakai motor
Gratis
Digabung Cek Kesehatan Gratis
Dengan memindahkan titik skrining lebih dekat ke masyarakat — dari rumah sakit ke puskesmas, dari alat besar ke rontgen portabel — pemerintah berupaya memutus rantai keterlambatan deteksi yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya kematian akibat TB di Indonesia.