APBN Semester I 2026: Pendapatan Tumbuh, Defisit Melebar – Inilahdata.com
Ekonomi & Fiskal
APBN KiTa Edisi Juli 2026 Kementerian Keuangan RI
PENDAPATAN NEGARA RP1.459,4 T/ BELANJA NEGARA RP1.656 T/ DEFISIT 0,76% PDB/ KESEIMBANGAN PRIMER SURPLUS RP85,1 T/ PEMBIAYAAN 65,6% TARGET/
Neraca Fiskal Semester I 2026: Dua Menara yang Timpang
Pendapatan
Belanja
Rp196,5T DEFISIT
0,76% Terhadap PDB — Semester I 2026
Pendapatan negara tumbuh 21,4% secara tahunan, tapi kalah cepat dari laju belanja yang naik 17,8% dalam basis yang jauh lebih besar — menyisakan celah Rp196,5 triliun yang harus ditutup lewat pembiayaan.
Rp1.459,4 T PendapatanRp1.656 T Belanja
Capaian dari Target 2026
46,3persen
Dari target Rp3.153,6 triliun
Penyerapan Belanja
43,1persen
Dari pagu APBN 2026
Keseimbangan Primer
85,1triliun rupiah
Surplus di luar beban bunga utang
Realisasi Pembiayaan
65,6persen target
Setara Rp452 triliun
Dari Mana Pendapatan Mengalir
Perpajakan
Rp1.187,8 T +24,6% yoy
PNBP
Rp271 T +21,6% yoy
Bea & Cukai
Rp152 T +3,4% yoy
Kesehatan fiskal tetap terjaga. Defisit APBN sebesar Rp196,5 triliun atau hanya 0,76 persen terhadap PDB.
Purbaya Yudhi Sadewa — Menteri Keuangan RI
Sorotan APBD: Paradoks Transfer ke Daerah
Tertinggi 5 Tahun, tapi Menyusut
Dana Transfer ke Daerah (TKD)—penopang utama belanja APBD—terealisasi Rp357,4 triliun, atau 51,6% dari pagu, level penyerapan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Namun secara nominal justru terkontraksi 11,2% dibanding tahun lalu, karena pagu TKD 2026 memang dipatok lebih kecil — membuat kapasitas fiskal sejumlah daerah tertekan jika tidak ditutup kenaikan Pendapatan Asli Daerah.
Kenaikan belanja melebihi pendapatan, sehingga defisit 2026 diprakirakan lebih lebar dari rencana APBN — rasio tertinggi dalam beberapa dekade selain masa pandemi.
Awalil Rizky — Ekonom Bright Institute
Melihat Defisit dalam Perspektif Waktu
Semester I 2025
Defisit periode yang sama tahun lalu tercatat Rp204,2 triliun (0,84% PDB) — lebih dalam dari capaian tahun ini.
Kuartal I 2026
Sempat melebar ke Rp240,1 triliun (0,93% PDB) sebelum mengecil pada kuartal berikutnya.
Semester I 2026
Turun ke Rp196,5 triliun (0,76% PDB) — tren membaik dibanding dua periode sebelumnya.
Proyeksi Akhir 2026
Pemerintah memprakirakan defisit melebar jadi Rp734,3 triliun (2,85% PDB), lebih tinggi dari target awal Rp689,1 triliun (2,68% PDB).
Mengapa Angka Ini Penting
Masih di Bawah Batas Aman
Rasio defisit 0,76% PDB jauh di bawah batas maksimal 3% yang diatur undang-undang, memberi ruang fiskal untuk semester kedua.
Subsidi Jadi Beban Tersembunyi
Lonjakan subsidi dan kompensasi energi 44,4% menunjukkan tekanan biaya menjaga daya beli semakin besar dari waktu ke waktu.
Daerah Perlu Waspada
Kontraksi nominal TKD berarti sejumlah pemerintah daerah harus mengandalkan PAD atau sisa anggaran tahun lalu agar layanan publik tak terganggu.
Proyeksi Akhir Tahun Jadi Ujian
Jika tren belanja semester II mengikuti pola sama, pelebaran defisit ke 2,85% PDB akan menjadi ujian disiplin fiskal pemerintah.
1
Pendapatan tumbuh 21,4% menjadi Rp1.459,4 triliun, namun belanja Rp1.656 triliun tumbuh lebih besar secara nominal, membuat APBN defisit Rp196,5 triliun (0,76% PDB).
2
Subsidi dan kompensasi energi melonjak 44,4% menjadi Rp233 triliun, sementara transfer ke daerah (APBD) justru terkontraksi 11,2% secara nominal.
3
Defisit akhir 2026 diproyeksikan melebar ke Rp734,3 triliun (2,85% PDB), lebih tinggi dari target awal, memicu sorotan ekonom meski masih di bawah batas aman 3% PDB.
Sumber
Kementerian Keuangan RI (APBN KiTa Juli 2026) · Konferensi Pers Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa · Rapat Kerja Banggar DPR RI · Bright Institute · Databoks Katadata · Bloomberg Technoz · Bisnis.com · Kompas.com