
Sebuah rekam medis raksasa bagi ekonomi Indonesia, ditulis dari rumah ke rumah, dari dataran rendah Bali hingga pegunungan Papua.
BPS mencatat pendataan Sensus Ekonomi 2026 secara nasional telah menembus sekitar 40 persen, dengan sebaran capaian antardaerah berkisar 30 persen hingga di atas 50 persen menjelang tenggat 31 Agustus 2026.
Kondisi geografis yang berat membuat capaian pendataan di dataran tinggi Papua jauh berada di bawah kabupaten-kabupaten lain di Indonesia.
Tantangan di Papua, terutama di Papua Pegunungan. Bali di posisi 17.
BPS membangun sistem pemantauan digital agar pendataan tak sekadar cepat, tapi juga sahih sampai ke titik koordinat petugas di lapangan.
Sistem digital BPS mendeteksi apakah petugas mendata sesuai wilayah tugasnya, bukan asal input.
Metode Computer-Assisted Personal Interviewing lewat gawai menggantikan sebagian pencatatan kertas.
Kepala daerah kini diberi akses memantau progres pendataan wilayahnya sendiri secara langsung.
Gubernur Bali menantang jajarannya mengejar percepatan dari posisi 43 persen menuju target ambisius dalam waktu kurang dari tiga minggu.
Saya akan memantau langsung, nanti aksesnya diberikan BPS. Saya minta akhir Juli Bali sudah 60 persen.
Digelar setiap sepuluh tahun pada tahun berakhiran angka enam, sensus ini menjadi rekam medis ekonomi nasional yang mahal namun tak tergantikan.
Siklus pelaksanaan sensus ekonomi sesuai amanat UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik.
Perkiraan total anggaran persiapan hingga pengolahan data lanjutan sampai 2028.
Tenggat akhir pendataan lapangan Sensus Ekonomi 2026 di seluruh Indonesia.
Sensus ekonomi dilakukan sepuluh tahun sekali dan membutuhkan anggaran besar, maka data yang dihasilkan harus benar-benar akurat.
Halaman : 1 2