Minggu, 31 Mei 2026 - :
28 Mei 2026 - 20:44 | 65 Views | 0 Suka

Bulan Jadi Medan Perebutan Baru, NASA Gaspol Kejar Dominasi China

4 mnt baca

Inilahdata.com – Perlombaan menuju Bulan kembali memanas. Amerika Serikat melalui NASA membeberkan rencana besar untuk membangun fasilitas permanen di permukaan satelit alami Bumi, sebuah proyek ambisius yang tak hanya menyasar eksplorasi ilmiah, tetapi juga perebutan pengaruh di era baru geopolitik antariksa.

Dikutip dari BBC.com, Rabu (28/5/2026), dalam tahap awal program tersebut, NASA menyiapkan armada teknologi mulai dari pendarat robotik, drone eksplorasi, hingga kendaraan penjelajah yang akan dikirim secara bertahap ke Bulan.

Sejumlah perusahaan swasta raksasa ikut dilibatkan. Di antaranya Blue Origin milik Jeff Bezos, bersama Intuitive Machines dan Astrobotic, yang mendapat kontrak pengembangan berbagai sistem pendukung misi.

Namun target NASA tidak berdiri di ruang hampa. Di balik agenda ilmiah itu, ada kompetisi strategis yang semakin nyata: persaingan Amerika Serikat melawan China untuk menjadi kekuatan dominan di Bulan.

AS Tak Mau Kehilangan Momentum

Washington menargetkan astronaut Amerika kembali menginjak Bulan sebelum akhir masa jabatan Presiden Donald Trump pada 2029.

Sementara itu, Beijing terus menunjukkan percepatan program luar angkasanya. China menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2030 dan baru-baru ini kembali mengirim awak ke stasiun luar angkasa Tiangong melalui misi Shenzhou-23.

Di tengah persaingan tersebut, NASA sebelumnya mengumumkan proyek bernilai sekitar US$20 miliar untuk membangun basis lunar permanen di kutub selatan Bulan pada awal dekade berikutnya. Basis ini dirancang menggunakan kombinasi energi surya dan tenaga nuklir.

Kepala NASA, Jared Isaacman, menegaskan proyek itu mencerminkan tekad AS mempertahankan posisinya dalam eksplorasi luar angkasa.

“Amerika tidak akan menyerahkan Bulan begitu saja,”ujarnya.

Pangkalan tersebut diproyeksikan menjadi pusat penelitian ilmiah, eksplorasi sumber daya, sekaligus batu loncatan menuju misi manusia ke Mars.

Ambisi Besar, Jadwal Dipertanyakan

Meski rencana NASA terdengar monumental, sejumlah ilmuwan mempertanyakan realistis tidaknya target waktu yang dipasang.

Walaupun misi Artemis II berhasil mengirim empat astronaut mengelilingi Bulan pada April lalu, banyak pengamat menilai tantangan teknis NASA masih sangat besar.

Dr. Simeon Barber, ilmuwan lunar dari Open University, menilai bukan hal mustahil bila China justru lebih dulu mengirim manusia ke permukaan Bulan.

“Tidak akan mengejutkan saya sama sekali jika China sampai ke sana lebih dulu,” katanya.

Menurut Barber, kendala utama bukan sekadar mengorbitkan manusia ke Bulan, melainkan memastikan adanya sistem pendaratan yang benar-benar siap dan aman.

Tiga Tahap Menuju “Hunian” di Bulan

Program pembangunan basis lunar NASA dirancang bertahap.

Tahap pertama berfokus pada eksplorasi robotik. Sebelum manusia menetap, berbagai mesin tanpa awak akan lebih dulu memetakan wilayah, menguji medan, dan mengumpulkan data penting.

Drone eksplorasi dan pendarat presisi akan diterjunkan ke kawasan kutub selatan Bulan, lokasi yang dianggap menjanjikan karena diyakini menyimpan cadangan air beku.

Blue Origin, misalnya, tengah mengembangkan sistem pendaratan otonom bernama Endurance. Sementara Astrobotic menyiapkan wahana Griffin-1 yang dirancang mendarat di area Kawah Nobile.

Selain membawa perangkat navigasi, misi-misi awal ini juga akan mengangkut instrumen ilmiah seperti kamera resolusi tinggi dan teknologi berbasis laser untuk membantu proses pendaratan.

NASA memperkirakan fase eksplorasi robotik berlangsung hingga akhir dekade ini, melibatkan puluhan peluncuran dan pengiriman ribuan kilogram peralatan ke Bulan.

Energi Nuklir hingga Hunian Semi-Permanen

Langkah berikutnya adalah pembangunan infrastruktur energi.

NASA berencana memasang fasilitas tenaga surya dan sistem reaktor fisi nuklir untuk menopang operasi jangka panjang di lingkungan ekstrem Bulan.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai target, pada 2032 manusia diharapkan sudah dapat tinggal di hunian semi-permanen di sana.

Kendaraan penjelajah jarak jauh juga akan memungkinkan astronaut melakukan ekspedisi lintas wilayah berbatu di permukaan lunar.

Ketertarikan besar terhadap kutub selatan Bulan berkaitan dengan potensi keberadaan es air. Material itu dinilai sangat berharga karena dapat diolah menjadi air minum, oksigen, bahkan bahan bakar masa depan.

Hambatan Besar Bernama Teknologi

Meski roadmap telah disusun, keberhasilan proyek NASA masih sangat bergantung pada kesiapan teknologi transportasi manusia ke Bulan.

Perusahaan SpaceX milik Elon Musk ditugaskan mengembangkan Starship Human Landing System, wahana yang dirancang membawa astronot dari orbit ke permukaan Bulan. Namun proyek tersebut masih menghadapi berbagai tantangan teknis dan penundaan.

“Langkah pembatasnya adalah membawa astronot turun ke permukaan,” ujar Simeon Barber.

Ia menilai ada tekanan politik yang cukup kuat di balik percepatan pengumuman program ini.

“Kesannya seperti NASA berada dalam posisi harus menunjukkan bahwa mereka memiliki rencana besar,” katanya. (**)

Penulis Berita

KURS

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%