Minggu, 31 Mei 2026 - :
27 Mei 2026 - 21:06 | 89 Views | 0 Suka

Rupiah Terpuruk Sepanjang Sejarah, Purbaya Akui Stres

3 mnt baca

Inilahdata.com Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat bicara soal nilai tukar rupiah yang kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.789 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Selasa (27/5/2026). Angka tersebut menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Menurut Purbaya, pelemahan mata uang Garuda tersebut justru terjadi di tengah kondisi fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih solid. Karena itu, ia menilai tekanan terhadap rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi domestik.

“Ekonomi kita sebenarnya dalam kondisi baik. Biasanya pelemahan tajam terjadi kalau fundamental sedang bermasalah. Nah, kali ini justru berbeda, sehingga menurut saya kondisinya agak tidak masuk akal,” ujar Purbaya kepada wartawan, Rabu (27/5/2026).

Pemerintah Klaim Asing Masuk ke Pasar Obligasi

Meski rupiah terpuruk, Purbaya menyebut pasar obligasi pemerintah masih relatif stabil. Ia mengatakan investor asing masih menunjukkan minat terhadap Surat Utang Negara (SUN), terlihat dari imbal hasil atau yield obligasi yang tetap terkendali.

Pemerintah, kata dia, juga melakukan intervensi di pasar obligasi dengan nilai sekitar Rp2 triliun per hari guna menjaga stabilitas pasar keuangan.

Hasil lelang SUN pada 26 Mei 2026 menunjukkan adanya peningkatan minat investor dibandingkan lelang sebelumnya pada 12 Mei 2026.

Data lelang mencatat total penawaran masuk naik sekitar 11,5% menjadi Rp57,3 triliun, dibandingkan sebelumnya Rp51,39 triliun. Nilai surat utang yang dimenangkan pemerintah juga meningkat menjadi Rp38,85 triliun dari sebelumnya Rp30,30 triliun.

“Kami mulai melihat adanya aliran modal asing kembali masuk ke pasar obligasi domestik. Ke depan pemerintah juga akan menyiapkan langkah tambahan untuk membantu penguatan rupiah secara lebih signifikan,” kata Purbaya.

Mengaku Stres, Tapi APBN Disebut Masih Aman

Purbaya juga mengakui tekanan terhadap rupiah membuat pemerintah waspada. Namun, ia memastikan kondisi tersebut belum memaksa pemerintah melakukan perhitungan ulang terhadap APBN.

“Ya tentu stres juga. Tapi sebelumnya kami sudah membuat simulasi kalau harga minyak sampai US$100 per barel, termasuk asumsi nilai tukar rupiah. Jadi untuk saat ini belum perlu menghitung ulang APBN,” ujarnya.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Tekanan Rupiah

Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan kemarin memang sangat fluktuatif. Mata uang domestik dibuka di level Rp17.749 per dolar AS sebelum terus melemah hingga sempat menyentuh Rp17.794 per dolar AS pada perdagangan siang hari.

Tekanan terhadap rupiah dipicu lonjakan harga minyak dunia jenis Brent yang kembali naik 3,22% ke level US$99,33 per barel setelah sebelumnya sempat jatuh sekitar 7%.

Kenaikan harga minyak dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik usai serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Situasi tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya jalur distribusi minyak global di Selat Hormuz.

Jika konflik berkepanjangan dan jalur tersebut terganggu, pasokan minyak dunia berpotensi menyusut dan memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah. (**)

KURS

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%