Inilahdata.com – Memasuki Usia ke-80 tahun, perjalanan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menjadi momentum untuk menilai sejauh mana keamanan nasional berkembang.
Di tengah tantangan kejahatan konvensional, kejahatan siber, hingga tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, data menunjukkan bahwa kondisi keamanan Indonesia mengalami perbaikan pada sejumlah indikator utama.
Jumlah kejahatan cenderung menurun, tingkat penyelesaian perkara meningkat, dan kepercayaan publik terhadap Polri terus menguat.
Berdasarkan Statistik Kriminal 2024 Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah tindak kejahatan yang tercatat dari registrasi kepolisian menunjukkan tren menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut mencerminkan membaiknya situasi keamanan nasional, meskipun tantangan kriminalitas masih tersebar di berbagai wilayah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Kriminal 2024/2025 mencatat bahwa jumlah tindak kejahatan berdasarkan registrasi kepolisian mencapai 561.993 kasus sepanjang 2024.
Angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 584.991 kasus. Bersamaan dengan itu, crime rate turun dari 214 menjadi 204 kejadian per 100.000 penduduk, sementara crime clock berubah dari satu kejahatan setiap 53 detik menjadi sekitar 56 detik.
Penurunan ini menunjukkan intensitas kriminalitas secara nasional cenderung membaik.
Namun, di balik penurunan angka kriminalitas, BPS juga mencatat tantangan lain. Persentase penduduk yang menjadi korban kejahatan justru meningkat menjadi 0,73 persen pada 2024.
Selain itu, hanya sekitar 20,28 persen korban yang melaporkan kasusnya kepada kepolisian. Rendahnya tingkat pelaporan mengindikasikan masih adanya hambatan berupa kurangnya kepercayaan masyarakat, akses terhadap layanan hukum, maupun anggapan bahwa proses pelaporan belum efektif.
Sebaran kriminalitas nasional juga memperlihatkan ketimpangan antarwilayah. Data BPS menunjukkan wilayah hukum Polda Sumatera Utara mencatat jumlah tindak pidana tertinggi dengan 60.724 kasus, disusul beberapa wilayah metropolitan yang memiliki kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi tinggi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa urbanisasi, mobilitas penduduk, dan aktivitas ekonomi masih menjadi faktor yang berkorelasi dengan tingginya angka kriminalitas.
Selain kejahatan konvensional, wajah keamanan nasional kini semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. Penipuan daring, pencurian data pribadi, hingga serangan siber menjadi ancaman yang meningkat dari tahun ke tahun.
Perubahan karakter kejahatan tersebut menuntut transformasi Polri agar tidak hanya mengandalkan patroli fisik, tetapi juga memperkuat kemampuan forensik digital, analisis data, serta kolaborasi dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional.
Momentum 80 Tahun HUT Bhayangkara juga menjadi refleksi terhadap perubahan paradigma kepolisian. Jika pada masa awal kemerdekaan fokus utama adalah menjaga stabilitas keamanan negara, kini tantangan Polri semakin kompleks, meliputi perlindungan ruang digital, penanganan kejahatan transnasional, perdagangan manusia, narkotika, hingga kejahatan ekonomi.
Meski statistik menunjukkan penurunan angka kriminalitas, ukuran keberhasilan keamanan nasional tidak semata ditentukan oleh sedikitnya jumlah kasus.
Tingginya angka korban yang tidak melapor menunjukkan bahwa rasa aman masyarakat belum sepenuhnya tercermin dalam data resmi.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas pelayanan publik, transparansi penanganan perkara, pemanfaatan teknologi informasi, serta penguatan pendekatan community policing menjadi agenda penting untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Delapan dekade Bhayangkara bukan hanya menjadi peringatan sejarah, melainkan juga momentum evaluasi berbasis data.
Di tengah dinamika sosial dan perkembangan teknologi yang terus berubah, keberhasilan menjaga keamanan nasional akan ditentukan oleh kemampuan Polri beradaptasi, membangun kepercayaan publik, dan menghadirkan penegakan hukum yang profesional, modern, serta berkeadilan. (**)
Disusun oleh : Nouval Rivaldy Baguska dan Muhammad Raul Adriano Alfahredzy, mahasiswa Universitas Nasional, sebagai tugas mata kuliah Jurnalisme Data.
Halaman : 1 2