Sabtu, 13 Jun 2026 - :
13 Jun 2026 - 20:21

7.000 Karyawan Diganti AI, Standard Chartered Umumkan PHK Massal hingga 2030

3 mnt baca
  • Standard Chartered akan memangkas lebih dari 7.000 karyawan atau sekitar 15% dari fungsi korporasi hingga 2030, didorong oleh otomatisasi dan adopsi AI secara masif.
  • CEO Bill Winters menyebut langkah ini bukan sekadar efisiensi biaya, melainkan penggantian SDM bernilai rendah dengan investasi teknologi — meski sebagian karyawan diberi kesempatan reskilling.
  • Di tengah gelombang PHK, bank tetap menargetkan ROTE 18% pada 2030 dan mempercepat penghimpunan dana US$200 miliar, meski risiko geopolitik Timur Tengah telah memaksa pencadangan provisi US$190 juta.

Inilahdata.com – Salah satu bank terbesar di dunia, Standard Chartered, resmi mengumumkan rencana pemangkasan lebih dari 7.000 posisi karyawan hingga 2030.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi transformasi besar-besaran yang menempatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai tulang punggung efisiensi operasional perusahaan.

Berdasarkan laporan Reuters, Rabu (20/5/2026), bank yang berkantor pusat di London tersebut berencana memangkas sekitar 15% posisi di fungsi korporasi. Dari total sekitar 52.000 pegawai di divisi itu, lebih dari 7.000 orang diprediksi terdampak.

Secara keseluruhan, Standard Chartered saat ini mempekerjakan hampir 82.000 karyawan di seluruh dunia.

CEO Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa keputusan ini bukan sekadar langkah penghematan anggaran semata.

“Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti human capital bernilai rendah dengan financial capital dan investment capital yang kami tanamkan,” ujar Winters.

Posisi yang paling rentan terdampak adalah tenaga kerja di pusat operasional back-office, termasuk di Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa. Meski demikian, Winters memastikan sebagian karyawan akan mendapat kesempatan untuk mengikuti program pelatihan ulang.

“Orang-orang yang ingin meningkatkan keterampilan dan terus melanjutkan karier akan kami beri kesempatan untuk reposisi,” kata dia.

Langkah Standard Chartered sejalan dengan tren global yang semakin meluas. Bank asal Jepang, Mizuho Financial Group, sebelumnya juga mengumumkan rencana serupa dengan memangkas hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade.

Di tengah gelombang PHK tersebut, institusi keuangan global kini berlomba mengintegrasikan model AI mutakhir sambil menghadapi ancaman keamanan siber yang terus meningkat.

Di sisi lain, Standard Chartered tetap memasang target pertumbuhan yang ambisius. Bank ini membidik return on tangible equity (ROTE) di atas 15% pada 2028, dan meningkat menjadi sekitar 18% pada 2030.

Target penghimpunan dana baru bersih sebesar US$200 miliar pun dipercepat menjadi 2028, lebih awal dari rencana semula pada 2029. Fokus bisnis akan diarahkan ke segmen bermargin tinggi, termasuk nasabah ritel kaya dan institusi keuangan.

Namun, bayang-bayang ketidakpastian geopolitik masih menghantui prospek industri perbankan global. Sebagai bank yang berorientasi di kawasan Asia Pasifik dan Afrika, Standard Chartered mengakui konflik Timur Tengah sebagai salah satu risiko utama.

Pada kuartal pertama tahun ini, bank tersebut telah menyisihkan provisi kehati-hatian sebesar US$190 juta yang berkaitan langsung dengan eskalasi konflik di kawasan itu.

Menanggapi kekhawatiran atas berbagai risiko tersebut, Winters tetap optimistis.

“Kami sangat tangguh,” tegasnya. (**)

Editor Inilahdata.com

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%