
- Setelah hampir 28 tahun sejak kontrak diteken 1998, proyek LNG Abadi Masela senilai US$20,9 miliar resmi memasuki tahap groundbreaking hari ini, dengan FEED sudah 79,56 persen dan FID ditargetkan akhir 2026.
- Proyek ini diperkirakan menyumbang US$137,7 miliar ke PDB nasional hingga 2055, menciptakan 12.000 lapangan kerja konstruksi, dan menjadi kilang LNG pertama RI yang mengintegrasikan teknologi CCS sejak awal.
- Di balik seremoni, Inpex masih bernegosiasi soal relaksasi TKDN dan insentif fiskal, sementara Kemenkeu mensyaratkan harga gas domestik tetap kompetitif, menunjukkan proyek ini adalah hasil kompromi berlapis, bukan sekadar pencapaian tunggal.
Inilahdata.com – Hari ini, Kamis (16/7/2026), pemerintah menggelar peletakan batu pertama proyek gas alam cair (LNG) Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dalam seremoni ini, meski hingga Rabu malam Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belum bisa memastikan apakah kepala negara akan datang langsung ke lokasi atau mengikuti acara secara daring.
“Besok insyallah Pak Presiden yang akan meresmikan groundbreaking Blok Masela,” kata Bahlil usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan.
Persiapan lapangan sendiri sudah matang jauh-jauh hari. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut sekitar 93 ton logistik, mulai dari tenda, karpet, genset, hingga pendingin udara , telah dikirim dari Bandara Soekarno-Hatta ke Saumlaki, dikoordinasikan bersama panitia yang dipimpin Panglima Kodam Pattimura.
Warisan 28 Tahun dari Era Habibie
Yang membuat momen ini terasa berat secara historis adalah usianya. Kontrak bagi hasil Blok Masela diteken pada 16 November 1998, di era Presiden BJ Habibie, hampir 28 tahun lalu, dan baru sekarang memasuki tahap konstruksi fisik.
Bahlil sendiri mengakui proyek ini sempat mangkrak puluhan tahun tanpa kepastian, sebelum akhirnya ia mendorong Inpex untuk segera merealisasikannya, dengan target konstruksi mulai berjalan pada 2027 dan produksi perdana diperkirakan pada 2029–2030.
Lapangan Abadi, sumber gas proyek ini, terletak di laut dalam sekitar 160 kilometer dari lepas pantai Pulau Yamdena, di kedalaman 400–800 meter Laut Arafura.
Kompleksitas teknis yang menjadi salah satu alasan proyek ini butuh waktu sangat panjang untuk matang, mulai dari perubahan konsep kilang dari lepas pantai ke darat hingga keluarnya Shell dari konsorsium.
Sejak Juli 2023, 35 persen hak partisipasi yang sebelumnya dipegang Shell beralih ke Pertamina Hulu Energi Masela (20 persen) dan Petronas Masela (15 persen), sementara Inpex Masela Ltd tetap menjadi operator dengan 65 persen saham.
Spesifikasi Teknis dan Teknologi Karbon
Secara teknis, proyek senilai sekitar US$20,9 miliar ini dirancang menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, setara lebih dari 10 persen kebutuhan impor LNG tahunan Jepang, ditambah gas pipa 150 juta kaki kubik standar per hari untuk pasar domestik dan kondensat 35.000 barel per hari.
Yang menarik, proyek ini juga akan menjadi kilang LNG pertama di Indonesia yang menyematkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) sejak awal desain, bukan tambahan belakangan.
Konsekuensinya, biaya investasi bertambah sekitar US$1 miliar untuk fasilitas CCS tersebut.
Progres Melampaui Target
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut momentum ini sebagai penanda dimulainya salah satu investasi energi terbesar dalam sejarah Indonesia.
“Ini menandai dimulainya salah satu investasi energi terbesar dalam sejarah Indonesia sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong pemerataan pembangunan hingga ke kawasan timur Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa capaian teknis proyek berjalan lebih cepat dari target: progres front end engineering design (FEED) telah mencapai 79,56 persen hingga awal Juli 2026, melampaui rencana semula, dengan keputusan investasi akhir (FID) ditargetkan rampung akhir tahun ini.
Dampak Ekonomi yang Terus Diperbarui
Dari sisi ekonomi, kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI memperkirakan proyek ini bakal menyumbang sekitar US$137,7 miliar terhadap PDB nasional hingga 2055.
Meski patut dicatat angka ini berbeda dari estimasi lama Inpex pada 2019 yang menyebut multiplier effect hingga US$153 miliar, menunjukkan proyeksi memang terus diperbarui seiring perkembangan proyek.
Selain kontribusi PDB, sekitar 12.000 lapangan kerja langsung diperkirakan tercipta selama masa konstruksi, dengan prioritas tenaga kerja lokal Maluku dan Tanimbar, plus peluang bagi UMKM di sekitar kawasan kilang.
Tarik-Ulur Insentif di Balik Layar
Namun jalan menuju groundbreaking ini tidak sepenuhnya mulus.
Sepanjang semester pertama 2026, Inpex berulang kali meminta kelonggaran aturan kepada pemerintah, mulai dari relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pengurangan kewajiban penggunaan barang tertentu, hingga insentif fiskal seperti tax holiday, karena sejumlah komponen proyek belum bisa dipenuhi industri domestik.
Project Director Inpex Masela, Jarrad Blinco, sempat menyampaikan langsung kekhawatiran itu dalam sidang debottlenecking di Kementerian Keuangan.
“Tidak cukup kapasitas untuk mengeksekusi seluruh pekerjaan ini di Indonesia,” katanya.
Blinco juga meminta pengecualian agar tender proyek bisa berjalan sesuai target. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons dengan syarat harga jual gas harus tetap kompetitif bagi industri dalam negeri.
“Hitung saja yang betul, kalau bisa murah,” tegasnya, sambil mengingatkan agar margin distributor gas seperti PGN tidak dipatok terlalu tinggi.
Wajah Asli Sebuah Proyek Strategis Nasional
Dinamika ini justru memperlihatkan wajah asli proyek strategis nasional skala raksasa: bukan sekadar seremoni peletakan batu pertama, melainkan hasil negosiasi panjang antara kepentingan investor asing, kalkulasi fiskal negara, dan target ketahanan energi yang sudah dijanjikan sejak akhir 1990-an.
Groundbreaking hari ini menjadi penanda bahwa negosiasi itu, untuk saat ini, telah menemukan titik temu yang cukup untuk membuat alat berat mulai bergerak di Tanimbar. (**)
Halaman : 1 2