
Inilahdata.com – Bank Indonesia (BI) menilai pergerakan nilai tukar rupiah setelah pengumuman MSCI pekan lalu masih bisa dikelola. MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan rupiah sempat melemah hingga di atas Rp18.000 setelah pengumuman itu, tetapi tidak terlalu jauh.
“Sejauh ini, kalau kami lihat, masih manageable. Tidak berlebihan pergerakan nilai tukarnya. Sempat melemah di atas Rp18.000 (pascapengumuman MSCI), tapi tidak terlalu jauh. Kita masih bisa kelola dengan baik. Dan mudah-mudahan shock-nya secara perlahan mulai di-digest oleh pelaku pasar,” kata Erwin di Jakarta, Jumat.
MSCI mengumumkan usulan reklasifikasi tersebut pada Kamis (15/10/2026) waktu setempat. Keesokan harinya, Jumat (16/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 11,57 persen. Pada hari yang sama, kurs JISDOR berada di Rp18.052 per dolar AS.
BI mencatat adanya arus keluar modal asing di pasar saham, tetapi Erwin enggan menyebut nilainya. Aliran keluar juga terjadi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Untuk meredam tekanan, BI memastikan likuiditas rupiah tetap memadai bagi transaksi di pasar keuangan.
BI juga siap melakukan intervensi bila tekanan outflow merembet ke nilai tukar dan memicu volatilitas di luar batas toleransi, terutama saat permintaan dan penawaran valas tidak bertemu di pasar.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen dan suku bunga lending facility di 6,5 persen. Suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 5 persen.
Keputusan itu didukung penguatan insentif lindung nilai Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) kepada BI, untuk menarik aliran modal asing masuk sekaligus menjaga stabilitas rupiah.
Insentif ini menyasar transaksi pendanaan luar negeri, yakni portfolio inflows, pinjaman luar negeri bank, dan investasi asing langsung.
Pengurangan premi naik menjadi 40 persen untuk tenor 6 bulan dari 25 persen, dan 45 persen untuk tenor 12 bulan dari 30 persen.
Sebelumnya, pada konferensi pers RDG Rabu (21/10/2026), Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan BI terus mewaspadai risiko di pasar saham domestik, termasuk potensi outflow asing.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah masih cukup normal karena kondisi regional pada saat bersamaan juga kurang baik.
“Dan sejauh ini dua hari kemarin memang kami duduk berdiskusi secara tight (ketat) sekali bagaimana kita menyikapi ini,” kata Destry. (**)
Halaman : 1 2