Rabu, 29 Jul 2026 - :
23 Jul 2026 - 12:53 | 54 Views | 0 Suka

RI Terbitkan Panda Bond Perdana, Incar US$1 Miliar

16 mnt baca

Inilahdata.com – Setelah proses penjajakan yang berjalan sejak awal tahun, pemerintah akhirnya memastikan langkah historis: menerbitkan obligasi berdenominasi yuan China, yang lazim disebut Panda Bond, untuk pertama kalinya.

Penerbitan dijadwalkan berlangsung Kamis (23/7/2026) besok, dengan target penghimpunan dana senilai US$1 miliar melalui tenor 3 dan 5 tahun.

Tak berhenti di situ, Indonesia juga telah mengantongi persetujuan untuk menerbitkan Panda Bond hingga CNY30 miliar di pasar obligasi antar-bank China dalam dua tahun mendatang, sinyal bahwa langkah ini bukan sekadar uji coba satu kali, melainkan strategi jangka panjang.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan di balik pilihan pasar China.

Menurutnya, China merupakan salah satu pasar surat utang terbesar di dunia dengan likuiditas yang melimpah, sehingga dinilai mampu menyerap instrumen utang Indonesia dengan biaya yang relatif murah.

Purbaya menyebut yield Panda Bond diperkirakan berada di kisaran 2,3 persen hingga 2,5 persen, jauh lebih rendah dibanding rata-rata kupon obligasi global Indonesia dalam dolar AS.

Dalam keterangan yang lebih luas saat konferensi pers APBN KiTa Juli 2026, Purbaya turut menyampaikan optimismenya.

Investor response to our China bonds has been positive,” katanya, seraya menambahkan bahwa pihaknya sengaja membatasi target awal meski minat pasar disebut jauh melampaui angka tersebut.

This is a new market although the bids may be very high, we are capping it at $1 billion. If necessary, we will issue a larger amount,” ujarnya.

Rencana ini sebetulnya sudah bergulir sejak awal tahun. Purbaya sempat menargetkan penerbitan pada Juni 2026 setelah bertemu Menteri Keuangan China Lan Fo’an dan menjajaki kesiapan sejumlah bank besar China, termasuk Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).

Rencana itu kemudian mundur beberapa pekan sebelum akhirnya dipastikan terbit pada 23 Juli.

Yang menarik, momentum kemunculan wacana ini pada Mei lalu tak lepas dari tekanan nilai tukar rupiah yang saat itu tengah bergejolak.

Sejumlah analisis pasar internasional bahkan menyebut langkah ini sebagai upaya mencari “pelabuhan” pembiayaan alternatif di tengah rupiah yang berulang kali menyentuh level terendah sepanjang tahun ini.

Penerbitan Panda Bond juga sejalan dengan tren yang tengah berkembang di kalangan negara berkembang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Berdasarkan catatan lembaga pemeringkat S&P Ratings China, penerbitan Panda Bond global mencetak rekor RMB194,8 miliar sepanjang 2024 lewat 110 transaksi oleh 44 penerbit, dengan sekitar 95 persen transaksi berlangsung di pasar antar-bank China.

Momentum itu berlanjut tahun ini, data South China Morning Post mencatat penerbitan Panda Bond pada lima bulan pertama 2026 telah mencapai RMB136,5 miliar.

hal ini melonjak 90,3 persen secara tahunan, dengan penerbit yang kian beragam mulai dari korporasi multinasional hingga pemerintah negara lain seperti Kazakhstan dan Pakistan.

Bagi Indonesia sendiri, langkah ke pasar yuan ini beririsan dengan data resmi Bank Indonesia.

Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis pekan lalu menunjukkan posisi utang RI dalam denominasi yuan naik menjadi US$17,59 miliar pada Mei 2026, dari US$17,36 miliar pada April, bertambah sekitar US$238 juta hanya dalam sebulan.

Meski porsi yuan baru sekitar 4 persen dari total utang luar negeri dan belum mengubah struktur ULN secara drastis, dolar AS masih mendominasi 61 persen atau sekitar US$272,5 miliar, tren kenaikan ini mengindikasikan eksposur pembiayaan Indonesia terhadap yuan mulai merangkak naik.

Sebagai gambaran skala keseluruhan, total ULN Indonesia pada Mei 2026 tercatat US$444,4 miliar, naik 2,1 persen dari posisi setahun sebelumnya, atau setara Rp8.043,2 triliun berdasarkan kurs JISDOR pertengahan Juli.

Volatilitas dolar dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS memang kerap membebani biaya penerbitan surat utang Indonesia, termasuk yang terjadi pada kuartal II-2026 lalu.

Dengan terbukanya akses ke pasar China, pemerintah berharap memiliki jalur pembiayaan cadangan saat kondisi pasar dolar sedang kurang bersahabat.

Purbaya menyebut respons otoritas China terhadap rencana ini cukup hangat, baik Kementerian Keuangan China maupun bank sentral People’s Bank of China (PBOC) disebutnya menunjukkan komitmen kuat mendukung proses penerbitan.

Dukungan itu turut tecermin dari hasil pemeringkatan. Lembaga pemeringkat China Lianhe Credit Rating memberi Panda Bond Indonesia peringkat AAA pada awal Juli 2026, dengan penilaian bahwa skala ekonomi Indonesia sebagai yang terbesar di Asia Tenggara membuatnya relatif tahan terhadap guncangan eksternal.

Peringkat ini turut mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten di atas 5 persen sejak 2022 dan diproyeksikan berlanjut hingga 2027.

Namun, penilaian gemilang dari lembaga rating China itu berbanding terbalik dengan sikap dua lembaga pemeringkat global.

Moody’s Ratings lebih dulu merevisi outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Februari 2026, meski tetap mempertahankan peringkat di level Baa2, dengan menyoroti berkurangnya prediktabilitas kebijakan serta basis penerimaan negara yang masih lemah.

Sebulan berselang, Fitch Ratings mengambil langkah serupa, menurunkan outlook dari stabil ke negatif sembari mempertahankan peringkat BBB, dengan alasan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan risiko pelebaran defisit fiskal akibat ekspansi belanja sosial seperti program Makan Bergizi Gratis.

Kedua lembaga itu sama-sama memperkirakan defisit fiskal Indonesia tahun ini berada di kisaran 2,9 persen PDB, sedikit di atas target pemerintah.

Di tengah dua sorotan negatif itu, S&P Global Ratings justru mengambil sikap berbeda dengan mempertahankan peringkat BBB dan outlook stabil pada pertengahan Juli lalu, menegaskan bahwa penilaian tiga lembaga besar dunia terhadap Indonesia saat ini tidak seragam.

Dari sisi teknis penerbitan, Bank of China didapuk sebagai penjamin emisi utama (lead underwriter). Perannya didampingi sejumlah Joint Bookrunners yakni ICBC, CITIC, CICC, dan DBS Bank China.

Sementara itu, deretan institusi keuangan besar China turut bergabung sebagai Co-Managers, meliputi Agricultural Bank of China, China Construction Bank (CCB), Bank of Communications, China CITIC Bank, dan China Everbright Bank, susunan konsorsium yang mencerminkan besarnya perhatian sektor perbankan China terhadap penerbitan perdana ini.

Sumber: Kementerian Keuangan RI, Bank Indonesia (SULNI Mei 2026), CNBC Indonesia, ANTARA News, Bloomberg Technoz, Kompas.com, investortrust.id, bne IntelliNews/NAI 500, infobanknews.com.

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%