Minggu, 31 Mei 2026 - :
26 Mei 2026 - 20:20 | 42 Views | 0 Suka

IHSG Babak Belur! Bursa Indonesia Jadi yang Paling Berdarah di Asia

3 mnt baca

Inilahdata.com – Perdagangan pasar modal Indonesia kembali berada di bawah tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam sebesar 1,23% ke level 6.130 pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Penurunan ini menjadikan bursa saham Indonesia sebagai yang paling tertekan di kawasan Asia pada hari yang sama.

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat bergerak di rentang 6.124 hingga 6.286. Aktivitas transaksi mencapai 24,88 miliar saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp18,09 triliun. Tekanan jual mendominasi hampir di seluruh sektor.

Sektor perindustrian mencatat penurunan paling dalam hingga 3,37%, disusul sektor konsumen non-primer sebesar 2,2% dan sektor properti sebesar 2,14%. Sementara itu, sektor konsumen primer turun 1,68% dan sektor keuangan terkoreksi 1,51%.

Beberapa saham yang menjadi pemberat utama pasar di antaranya PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) yang anjlok 14,9%, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) turun 14,9%, serta PT Tunas Alfin Tbk (TALF) yang merosot 14,8%.

Bursa Asia Ikut melemah, Tapi IHSG Paling Dalam

Tekanan tidak hanya terjadi di Indonesia. Mayoritas bursa saham Asia juga berakhir di zona merah. Indeks Straits Times Singapura turun 0,82%, PSEi Filipina melemah 0,77%, SENSEX India terkoreksi 0,63%, sementara Shenzhen Composite China turun 0,6%.

Selain itu, indeks KLCI Malaysia turun 0,55%, TW Weighted Taiwan melemah 0,27%, Nikkei 225 Jepang turun 0,25%, dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi tipis 0,03%.

Meski demikian, pelemahan IHSG tercatat sebagai yang paling dalam dibandingkan bursa utama Asia lainnya.

Rupiah Cetak Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

Tekanan besar terhadap pasar saham dipicu oleh anjloknya nilai tukar rupiah. Berdasarkan data yang diperoleh, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.789 per dolar AS. Angka ini menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah Indonesia merdeka atau all time low (ATL).

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dan arus modal asing di pasar domestik.

Sentimen negatif datang dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong pelaku pasar masuk ke aset aman atau risk-off sentiment.

Ketegangan AS-Iran Picu Kepanikan Pasar

Situasi memanas setelah laporan menyebut jet tempur Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan udara terhadap kapal-kapal milik Iran di sekitar Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran, Nour News, melaporkan serangan terjadi di dekat Pulau Larak dan menyebabkan korban jiwa dari pihak militer Iran.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (USCENTCOM) mengonfirmasi bahwa pihaknya menyerang lokasi peluncuran rudal serta kapal yang diduga hendak memasang ranjau laut.

Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai langkah defensif.

”Operasi ini dilakukan utuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang berasal dari Iran,” ujar Hawkins.

Ketegangan terbaru ini kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta masa depan jalur perdagangan energi dunia di Selat Hormuz.

Trump Klaim Negosiasi Berjalan Positif

Di tengah memanasnya konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyatakan bahwa komunikasi dengan Teheran masih berlangsung dengan baik.

Namun, Trump juga memberi sinyal bahwa serangan tambahan masih mungkin dilakukan apabila negosiasi gagal mencapai kesepakatan.

Panin Sekuritas dalam riset hariannya menyebut eskalasi konflik AS-Iran menjadi sentimen utama yang membebani pergerakan pasar global maupun domestik.

“Pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik Timur Tengah, terutama terkait potensi gangguan distribusi energi dan meningkatnya ketidakpastian global,” tulis Panin Sekuritas. (**)

KURS

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%