
Inilahdata.com – Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Iran siap bertempur dan berunding dengan Amerika Serikat (AS) pada saat yang sama. Ia menegaskan Iran tidak gentar menghadapi langkah terbaru Washington.
“Kami hadir di medan perang militer dengan segenap kekuatan dan akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru. Kami juga menggunakan perangkat diplomasi untuk menegakkan keunggulan kami di bidang militer dan mendesak hak-hak rakyat Iran,” kata Ghalibaf di hadapan parlemen, Minggu (4/10/2026). Pernyataan itu dikutip Anadolu dari kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Ucapan tersebut muncul beberapa hari setelah Washington membalas proposal diplomatik Iran, yang berisi peta jalan tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan proposal lain. Isi proposal AS belum diketahui.
Ghalibaf tidak menelan langkah itu begitu saja. Ia menegaskan sikap Iran tidak berubah: Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai AS memenuhi tujuh syarat yang bersandar pada Memorandum Islamabad. Ia juga menyebut era membuang waktu dan mendikte tuntutan sepihak sudah berakhir.
Bulan lalu, Iran menyampaikan serangkaian syarat resmi kepada AS lewat mediator Qatar untuk mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari. Syarat itu mencakup penghentian permusuhan menyeluruh di semua front, pencairan dana Iran yang dibekukan, dan berakhirnya blokade laut atas pelabuhan-pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan sikap serupa. Dalam pidato di hadapan para duta besar asing di Teheran, seperti dikutip Anadolu dari IRNA, ia mengatakan, “Tidak ada solusi militer dan tidak ada solusi yang berlandaskan sanksi lebih lanjut.” Ucapan itu tampak merujuk pada sanksi Washington terhadap Teheran.
Menurut Araghchi, “hanya solusi yang berlandaskan perundingan, keadilan, dan martabat diplomatik” yang bisa mengakhiri perang yang ia sebut sebagai agresi melanggar hukum terhadap Republik Islam Iran.
Ia juga memperingatkan, jika Washington memilih jalur militer, Teheran siap mengambil langkah apa pun untuk membela diri dengan kekuatan lebih besar.
Perang bermula pada 28 Februari, ketika AS bersama Israel menyerang Iran. Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone di seluruh kawasan serta secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis pasokan energi. Militer AS kemudian memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Upaya mengakhiri perang berlanjut sejak kesepakatan kerangka kerja pada Juni, yang dimaksudkan membuka jalan bagi perjanjian damai final mencakup pelayaran di jalur tersebut dan program nuklir Iran. (**)
Halaman : 1 2