Rabu, 10 Jun 2026 - :
8 Jun 2026 - 16:40

Euforia AI Mulai Retak, Saham Raksasa Chip AS Kehilangan Rp23.600 Triliun dalam Dua Hari

4 mnt baca
  • Saham perusahaan semikonduktor Amerika Serikat mengalami aksi jual besar-besaran yang menghapus sekitar US$1,3 triliun nilai kapitalisasi pasar hanya dalam satu hari perdagangan.
  • Nvidia, Micron Technology, AMD, Broadcom, dan Marvell Technology menjadi emiten yang paling terpukul di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap valuasi saham AI yang dinilai sudah terlalu tinggi.
  • Meski sektor chip masih mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2026, pelaku pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan reli yang selama ini didorong euforia kecerdasan buatan (AI) dan ekspektasi pertumbuhan yang sangat agresif.

Inilahdata.com – Gelombang optimisme terhadap industri kecerdasan buatan (AI) yang selama beberapa tahun terakhir mendorong reli spektakuler saham teknologi Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Pasar saham Wall Street diguncang aksi jual besar-besaran pada sektor semikonduktor setelah investor mulai mempertanyakan apakah valuasi perusahaan-perusahaan chip masih sejalan dengan prospek pertumbuhannya.

Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), saham-saham produsen chip terperosok tajam dan menghapus nilai pasar sekitar US$1,3 triliun atau setara lebih dari Rp23.600 triliun. Tekanan tersebut menjadi salah satu koreksi terbesar yang dialami sektor semikonduktor sejak masa awal pandemi Covid-19 pada 2020.

Perusahaan-perusahaan yang selama ini menjadi simbol ledakan AI berada di garis depan tekanan pasar. Nvidia, Micron Technology, AMD, Broadcom, hingga Marvell Technology mengalami penurunan tajam seiring meningkatnya aksi ambil untung dan kekhawatiran investor terhadap harga saham yang dianggap telah melampaui fundamental.

Indeks semikonduktor PHLX anjlok 10,3 persen dalam sehari, mencatat penurunan harian terdalam sejak Maret 2020. Jika digabungkan dengan pelemahan sehari sebelumnya, indeks tersebut telah kehilangan sekitar 12 persen hanya dalam dua sesi perdagangan.

Sentimen negatif mulai menguat setelah Broadcom merilis laporan keuangan kuartalan yang dinilai belum mampu memenuhi ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan bisnis chip AI kustom. Kekecewaan tersebut memicu keraguan investor mengenai seberapa besar dan seberapa cepat permintaan AI dapat terus menopang kinerja industri semikonduktor.

Koreksi pasar terjadi di tengah perhatian investor yang juga tertuju pada rencana penawaran umum perdana (IPO) SpaceX yang dipersiapkan oleh Elon Musk. Perusahaan antariksa tersebut disebut-sebut akan mengincar valuasi fantastis hingga US$1,75 triliun, menambah perdebatan mengenai tingginya valuasi aset-aset teknologi di pasar global.

Padahal, hanya dua hari sebelumnya, indeks saham chip masih sempat mencetak rekor tertinggi baru. Bahkan setelah koreksi tajam tersebut, indeks sektor semikonduktor masih membukukan kenaikan sekitar 73 persen sejak awal tahun 2026.

Nvidia, yang saat ini berstatus sebagai produsen chip paling bernilai di dunia, turun sekitar 6 persen dan memangkas lebih dari US$300 miliar kapitalisasi pasarnya. Micron Technology mengalami tekanan lebih dalam dengan penurunan sekitar 13 persen. Sementara itu, Marvell Technology kehilangan sekitar 17 persen nilai sahamnya dan AMD melemah hampir 11 persen.

Dennis Dick, trader independen dari Triple D Trading, menilai banyak investor selama ini terlalu percaya bahwa setiap penurunan harga saham selalu menjadi peluang membeli.

“Ada banyak pelaku pasar yang membeli saham secara membabi buta setiap kali harga turun,” ujarnya.

Menurut Dick, strategi yang selama ini menghasilkan keuntungan besar mulai menghadapi ujian. “Membeli saham saat harga terkoreksi memang selama ini menghasilkan uang, tetapi hari ini pasar menunjukkan bahwa pendekatan itu tidak selalu berhasil,” katanya.

Di luar sektor teknologi, kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga juga memperburuk sentimen. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan memicu spekulasi bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama, sehingga mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko. Akibatnya, indeks S&P 500 turut melemah 2,6 persen.

Broadcom menjadi salah satu emiten yang paling merasakan dampak perubahan sentimen tersebut. Saham perusahaan itu turun 7,9 persen pada Jumat dan mencatat akumulasi pelemahan hampir 20 persen dalam dua hari perdagangan.

Meski demikian, sejumlah analis menilai koreksi saat ini belum menandakan berakhirnya tren bullish sektor semikonduktor. Ohsung Kwon, Kepala Strategi Ekuitas Wells Fargo, menilai aksi jual lebih banyak dipicu oleh kondisi pasar yang sudah terlalu padat oleh investor.

“Sektor semikonduktor memang telah menjadi area yang sangat ramai dan mahal. Karena itu aksi jual seperti ini tidak mengejutkan. Namun saya tidak melihat ini sebagai akhir dari tren kenaikan jangka panjang industri semikonduktor,” ujar Kwon.

Koreksi tajam tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya perkembangan AI, pasar tetap menuntut pertumbuhan nyata yang mampu mengimbangi ekspektasi tinggi yang selama ini telah tercermin dalam harga saham perusahaan-perusahaan teknologi. (**)

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%