Rabu, 29 Jul 2026 - :
22 Jul 2026 - 07:43 | 82 Views | 0 Suka

Energi Bumi Timpang, Ilmuwan Ragukan Model Iklim

12 mnt baca

Inilahdata.com – Rekor suhu global terus berulang dari tahun ke tahun. Gelombang panas datang lebih sering, lapisan es menyusut lebih cepat, dan pola cuaca semakin liar untuk diprediksi.

Tapi di balik semua gejala yang kasat mata itu, ada satu angka yang justru paling membuat gelisah para ilmuwan iklim dunia, bukan karena bumi memanas, melainkan karena kecepatannya kini melampaui apa yang selama ini diperhitungkan oleh model-model iklim rujukan global.

Data satelit menunjukkan bumi tengah menyerap energi jauh lebih banyak dari yang berhasil dilepaskannya kembali ke luar angkasa. Ketimpangan itu bukan cuma melebar dalam dua dekade terakhir, tapi sudah berlipat ganda.

Riset gabungan NASA dan NOAA yang terbit di jurnal Geophysical Research Letters mendapati Earth’s Energy Imbalance (EEI) kurang lebih menjadi dua kali lipat sepanjang 14 tahun, dari 2005 hingga 2019.

Analisis lanjutan dari tim CERES NASA memperkuat temuan itu: EEI naik dari sekitar 0,5 watt per meter persegi pada dekade pertama 2000-an menjadi sekitar 1,0 watt per meter persegi pada dekade 2013–2022.

Yang lebih mengejutkan, laju kenaikan tersebut belum sepenuhnya bisa dijelaskan oleh model iklim yang selama ini jadi rujukan dunia, termasuk model-model yang menopang laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Bumi Bekerja Seperti Rekening yang Timpang

Cara termudah memahami EEI adalah membayangkan bumi sebagai sebuah rekening energi. Setiap hari matahari mengirim energi ke bumi; sebagian dipantulkan kembali ke angkasa, sisanya diserap daratan, lautan, dan atmosfer.

Di sisi lain, bumi terus melepas energi dalam bentuk radiasi inframerah. Selama pemasukan dan pengeluaran itu kurang lebih seimbang, suhu global relatif stabil.

Masalahnya, sejak dua dekade terakhir neraca itu mulai njomplang. Energi yang masuk terus bertambah, sementara energi yang keluar tidak mengejar dengan kecepatan yang sama.

Selisihnya itulah EEI, dan selama angka itu tetap positif, sistem bumi akan terus “menabung” panas, bahkan ketika suhu di permukaan tidak selalu langsung terasa berubah.

Lebih dari 90 persen kelebihan energi itu tidak langsung memanaskan udara, melainkan diserap lautan. Laut lalu bekerja sebagai reservoir panas raksasa yang berpotensi memengaruhi suhu global, pola cuaca, hingga memperbesar peluang gelombang panas dan cuaca ekstrem di masa depan.

Bagi ilmuwan, itulah kenapa EEI dianggap gambaran yang jauh lebih fundamental dibanding sekadar memantau suhu permukaan.

Dua Instrumen, Satu Kesimpulan yang Sama Mengkhawatirkan

Pemantauan ini bersandar pada proyek Clouds and the Earth’s Radiant Energy System (CERES) milik NASA, yang sejak akhir 1990-an mengukur tiga komponen sekaligus lewat satelit: energi matahari yang masuk, cahaya yang dipantulkan kembali (albedo), dan panas inframerah yang dipancarkan bumi.

Hasilnya konsisten: albedo bumi terus menurun, artinya semakin sedikit sinar matahari yang dipantulkan dan semakin banyak yang diserap. Pelepasan panas ke angkasa memang meningkat, tapi tidak cukup cepat untuk mengejar laju energi yang masuk.

Temuan CERES lalu diuji silang dengan jaringan pelampung Argo yang mengukur suhu hingga kedalaman sekitar 6 kilometer di lautan dunia.

Karena lebih dari 90 persen kelebihan energi bumi memang tersimpan di laut, kecocokan antara data satelit dan data suhu laut ini, dua metode pengukuran yang sepenuhnya independen, menjadi bukti kuat bahwa akumulasi panas itu nyata, bukan sekadar galat instrumen.

Norman Loeb, peneliti utama CERES di NASA Langley Research Center, menyebut kesesuaian dua metode itu memberi keyakinan tinggi bahwa yang teramati adalah fenomena riil, dan menyebut tren yang ditemukan timnya “cukup mengkhawatirkan.”

Ketika Ilmuwan Berhenti Percaya Sepenuhnya pada Model

Kenaikan EEI sebenarnya bukan hal mengejutkan, pemanasan global memang diperkirakan akan memperbesar ketidakseimbangan energi. Yang jadi persoalan adalah kecepatannya, yang kini melampaui proyeksi banyak model iklim.

Bjorn Stevens, Direktur Max Planck Institute for Meteorology di Hamburg, kepada The Economist menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya para ilmuwan kini benar-benar bersandar pada hasil pengukuran langsung, bukan lagi sekadar simulasi model.

Menurutnya, ini menjadi titik balik penting karena para peneliti akhirnya memiliki catatan pengamatan jangka panjang yang cukup panjang untuk dibandingkan langsung dengan hasil-hasil simulasi.

Stevens sendiri adalah salah satu penulis studi yang terbit di jurnal AGU Advances pada 2025 berjudul “Earth’s Energy Imbalance More Than Doubled in Recent Decades”, riset kolaborasi lebih dari 50 ilmuwan iklim dari berbagai institusi dunia.

Dalam makalah itu, para peneliti menyebut tren kenaikan EEI saat ini sulit direkonsiliasi dengan hasil model iklim yang ada, dan menyimpulkan sinyal di dunia nyata sudah bergerak melampaui rentang variasi yang selama ini diperkirakan model.

Maria Rugenstein dari Colorado State University menegaskan implikasi temuan ini tidak berhenti di ranah akademik semata: model-model itulah yang selama ini dipakai untuk menghitung dampak perubahan iklim, anggaran karbon, sampai hampir seluruh proyeksi tentang masa depan.

Artinya, jika model belum mampu menangkap kondisi yang sedang berlangsung secara akurat, berbagai proyeksi jangka panjang juga perlu terus dievaluasi ulang.

Langit yang Makin Bersih, dan Awan yang Menghilang

Ilmuwan belum punya satu jawaban tunggal soal penyebab percepatan EEI, tapi riset terkini mengerucut ke dua faktor yang saling terkait lewat albedo, kemampuan bumi memantulkan radiasi matahari.

Pertama, langit memantulkan lebih sedikit cahaya. Selama puluhan tahun, banyak negara memperketat aturan emisi sulfur dari pembangkit listrik dan kapal karena polutan itu berbahaya bagi kesehatan manusia.

Kebijakan itu berhasil: emisi sulfur global turun signifikan, salah satunya didorong aturan International Maritime Organization (IMO) yang berlaku sejak 2020 dan mewajibkan kapal memakai bahan bakar berkadar sulfur lebih rendah.

Masalahnya, partikel sulfat punya efek samping yang selama ini justru mendinginkan bumi, memantulkan sebagian sinar matahari dan membantu pembentukan awan rendah yang lebih cerah dan reflektif. Saat udara makin bersih, efek pendinginan alami itu ikut memudar.

Riset Oivind Hodnebrog dari CICERO bersama timnya, yang terbit di Communications Earth & Environment pada 2024, mendapati bahwa pemaksaan radiatif dari berkurangnya emisi aerosol antropogenik menyumbang penguatan tren EEI sebesar 0,2 ± 0,1 watt per meter persegi per dekade selama periode 2001–2019.

Dan model-model iklim yang ada ternyata masih meremehkan efek pendinginan aerosol ini sekitar 10 hingga 40 persen dibanding yang seharusnya.

Kedua, tutupan awan rendah di atas lautan menyusut. Pada 2023, tahun dengan suhu global tertinggi, albedo terendah, dan EEI tertinggi yang sulit direproduksi model-model IPCC, Helge Gossling dari Alfred Wegener Institute bersama timnya mendapati cakupan awan rendah global turun sekitar 1,5 persen dibanding rata-rata, melanjutkan tren penurunan dekade sebelumnya sekitar 1,27 persen per dekade.

Studi yang terbit di jurnal Science itu menyimpulkan albedo planet kemungkinan berada di titik terendah sejak setidaknya 1940, dan penurunan awan rendah, terutama di kawasan Atlantik utara, menjadi penjelasan utama bagi sekitar 0,2 derajat Celsius “selisih misterius” pada lonjakan suhu 2023 yang tak terjelaskan oleh gas rumah kaca maupun El Nino saja.

Riset terpisah yang dipimpin Paulo Ceppi dari Imperial College London turut menemukan perubahan awan rendah ikut memperbesar EEI selama dua dekade terakhir, meski faktor ini saja belum cukup menjelaskan seluruh kenaikan yang teramati.

Bagi ilmuwan, dua mekanisme ini kemungkinan bekerja bersamaan, bukan saling meniadakan, sehingga saling memperbesar dampaknya terhadap ketidakseimbangan energi bumi.

Paradoks yang Menohok: Udara Lebih Bersih, Bumi Justru Lebih Cepat Panas

Di sinilah muncul ironi yang paling banyak disorot. Kebijakan pengendalian polusi udara, yang dirancang murni untuk melindungi kesehatan manusia, ternyata punya efek samping tak terduga terhadap laju pemanasan global.

Namun para peneliti menegaskan ini bukan berarti kebijakan pengendalian polusi keliru.

Sebaliknya, temuan ini menunjukkan sistem iklim bumi jauh lebih rumit dan saling terkait dibanding yang diperkirakan sebelumnya, dan bahwa dunia mungkin perlu strategi mitigasi karbon yang lebih agresif untuk mengimbangi hilangnya “pendinginan gratis” dari udara yang makin bersih.

Apa Artinya bagi Dunia?

Bagi masyarakat awam, EEI mungkin terdengar seperti istilah teknis yang jauh dari keseharian. Tapi implikasinya sangat konkret.

Semakin besar ketidakseimbangan energi, semakin banyak panas tersimpan di lautan, energi yang pada gilirannya bisa muncul kembali sebagai gelombang panas yang lebih ekstrem, hujan deras yang lebih intens, kekeringan berkepanjangan, hingga fenomena El Niño yang lebih kuat.

Sejumlah ilmuwan bahkan memperkirakan laju pemanasan global dalam dekade mendatang berpotensi naik sekitar 10 hingga 30 persen dibanding perkiraan saat ini, apabila tren kenaikan EEI ini terus berlanjut.

Dunia, dengan kata lain, tidak cuma menghadapi persoalan suhu yang terus naik, tapi juga kemungkinan bahwa laju kenaikannya bergerak lebih cepat dari yang selama ini diperkirakan alat ukur terbaik yang dimiliki sains iklim.

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%