Kamis, 08 Okt 2026 - :
1 Okt 2026 - 19:12 | 241 Views | 0 Suka

Duet dari Timur: Amran dari Bone, Saleh dari Ternate, Nakhoda Pangan Nasional

9 mnt baca

Inilahdata.com – Pertanian Indonesia kini dikawal dua putra Indonesia Timur. Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian pada Kamis (1/10/2026), mengisi posisi yang kosong hampir tiga bulan setelah Sudaryono menjadi Kepala BGN.

Saleh lahir di Ternate, Maluku Utara, pada 14 Maret 1969. Ia akan mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, putra Bone, Sulawesi Selatan, kelahiran 27 April 1968.

Dua latar belakang yang sangat berbeda bertemu di satu kementerian. Pertanyaannya sederhana: bisakah perpaduan ini membuat pertanian menjadi sektor andalan?

Sang Peracik dan Sang Prajurit

Amran adalah orang lapangan sekaligus akademisi. Ia menamatkan sarjana, magister, hingga doktor ilmu pertanian di Universitas Hasanuddin dan tercatat memiliki lima hak paten, sebagian besar soal pengendalian hama dan produktivitas.

Sebelum jadi menteri, ia 15 tahun berkarier di PT Perkebunan Nusantara XIV, lalu membangun usaha sendiri dengan paten racun tikus. Usaha itu kemudian berkembang menjadi kelompok bisnis Tiran Group di bidang pertanian, perkebunan, tambang, hingga distribusi.

Ia sudah dua kali menjabat Menteri Pertanian, pada 2014-2019 dan sejak Oktober 2023, dan kini juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional.

Saleh datang dari dunia yang lain. Lulusan Akmil 1991 ini mengawali pengabdian di infanteri Kopassus dan terlibat operasi di Poso, Papua, hingga Damai Cartenz. Pada 15 Agustus 2025, ia menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Menurut ANTARA, ia juga menulis buku “Menuai Damai di Tanah Poso” pada 2016 tentang kearifan lokal dalam membangun harmoni sosial.

Pembagian tugas keduanya belum final. Amran meyakini kehadiran Saleh akan mengoptimalkan kinerja Kementan, tetapi mengatakan pembagian tugasnya masih dibahas, termasuk kemungkinan tugas di Bapanas.

Warisan yang Menanti: Angka Swasembada

Pemerintah mengklaim delapan komoditas pangan strategis, termasuk beras, sudah swasembada. Untuk 2026, pemerintah memutuskan tidak mengimpor beras konsumsi maupun bahan baku industri.

Menurut data Kementan, produksi beras 2026 diproyeksikan 34,77 juta ton, di atas kebutuhan nasional 31,21 juta ton. Stok Bulog masih sekitar 4,6 juta ton.

“Swasembada beras ini dari petani Indonesia dan untuk rakyat Indonesia,” kata Amran. Nilai Tukar Petani pun mencapai 129,19 pada Agustus 2026, naik 1,05 persen dari bulan sebelumnya.

Beberapa jurus Amran ikut menopang angka itu. Harga pembelian gabah naik dari Rp6.000 menjadi Rp6.500 per kilogram. Harga pupuk subsidi turun hingga 20 persen tanpa menambah anggaran subsidi, setelah 145 regulasi distribusi dipangkas.

Di Merauke, Papua Selatan, pemerintah memakai dana Rp5 triliun untuk mencetak 80.000 hektare sawah baru, dan Amran mengklaim harga beras di sana turun dari Rp30.000 menjadi sekitar Rp13.000 per kilogram.

“Harga gabah ditentukan pemerintah supaya petaninya jangan rugi,” ujarnya.

Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai

Di balik angka yang gemuk, ada catatan. Pada triwulan I 2026, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,97 persen, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional, padahal sektor ini menyerap sekitar 28,78 persen pekerja.

El Nino juga mengintai, dan petani masih menghadapi tekanan biaya produksi, kemarau, serta persoalan kepemilikan lahan dan regenerasi petani. Sebagian analis mempertanyakan apakah panen melimpah sudah dibarengi kesejahteraan petani.

Proyek di Papua juga tidak lepas dari kritik. Film dokumenter “Pesta Babi” menyoroti proyek pangan di sana, dan Amran menjawab bahwa yang berjalan adalah “pesta panen”. Keterlibatan TNI di sektor pangan pun menuai debat.

Sebagian peneliti menilainya berisiko merugikan petani kecil. Pemerintah berargumen sebaliknya: jumlah penyuluh lapangan hanya sekitar 37.000 dari kebutuhan 80.000, sehingga jaringan Babinsa dioptimalkan untuk menutup celah.

Bisakah Duet ini Menjadikan Pertanian Andalan?

Jawabannya: bisa, dengan syarat. Dari sisi komposisi, Amran membawa kemampuan teknis dan kebijakan, sedangkan Saleh membawa pengalaman memimpin organisasi besar dan menguasai medan di wilayah timur, tempat target perluasan sawah kini diarahkan.

Ada tiga ujian. Pertama, pembagian tugas yang jelas agar dua pucuk pimpinan tidak berebut ruang. Kedua, ukuran keberhasilan yang bergeser dari stok beras ke kesejahteraan petani. Ketiga, pelibatan unsur teritorial yang tetap menempatkan petani sebagai subjek, bukan objek program. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%