
Inilahdata.com – Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2026 mencatatkan perbaikan yang cukup mencolok di atas kertas.
Defisitnya menyusut drastis menjadi hanya US$0,88 miliar, auh lebih kecil dibanding defisit kuartal sebelumnya yang sempat menembus US$9,1 miliar.
Cadangan devisa nasional pun masih terjaga di level US$145,6 miliar, setara dengan kemampuan membiayai 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan jika ditambah kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Hal ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang hanya mensyaratkan sekitar tiga bulan impor.
Namun, di balik angka yang terlihat membaik itu, ada cerita yang tidak sesederhana kelihatannya. Perbaikan NPI ternyata bukan cerminan dari menguatnya transaksi eksternal Indonesia.
Akan tetapi, hasil dari derasnya arus modal asing yang masuk dan berhasil menambal pelebaran defisit transaksi berjalan (current account).
Sebab jika ditelusuri lebih dalam, transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 justru melebar cukup signifikan, mencapai US$12,5 miliar atau setara 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Bandingkan dengan kuartal sebelumnya yang defisitnya “hanya” US$3,6 miliar atau 1% dari PDB. Pelebaran ini juga menandai posisi NPI yang bertahan di zona negatif selama tiga kuartal berturut-turut.
Surplus Dagang Menipis, Defisit Migas Melebar
Penyebab utama pelebaran transaksi berjalan adalah menyusutnya surplus perdagangan barang, ditambah membengkaknya defisit jasa dan pendapatan primer.
Ini mengindikasikan kebutuhan devisa dari aktivitas ekonomi domestik tumbuh jauh lebih cepat dibanding penerimaan devisa itu sendiri.
Surplus perdagangan barang RI anjlok tajam dari sekitar US$8,2 miliar menjadi hanya US$1,3 miliar pada kuartal kedua. Padahal surplus di sektor non-migas masih relatif solid di angka US$11,5 miliar, tetapi jumlah itu tidak lagi cukup untuk menutupi defisit migas yang kian membengkak.
Defisit perdagangan migas melonjak menjadi US$10,18 miliar, hampir dua kali lipat dari sebelumnya yang sebesar US$5,09 miliar.
Sebuah pelebaran yang terjadi bersamaan dengan melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah.
Tekanan berikutnya datang dari neraca jasa, yang defisitnya melebar dari US$4,4 miliar menjadi US$5,9 miliar. Menariknya, penerimaan dari kunjungan wisatawan mancanegara sebenarnya tumbuh.
Hanya saja, pengeluaran masyarakat Indonesia saat bepergian ke luar negeri tumbuh lebih kencang lagi, salah satunya terdorong oleh momentum musim haji.
Sementara itu, defisit pendapatan primer naik dari US$9,1 miliar menjadi US$9,7 miliar, terutama dipicu oleh meningkatnya pembayaran imbal hasil kepada investor asing.
Dari US$6,3 miliar menjadi US$6,5 miliar untuk investasi langsung, dan dari US$3,4 miliar menjadi US$4,1 miliar untuk investasi portofolio.
Kondisi ini sesungguhnya merupakan konsekuensi logis dari makin besarnya investasi asing di dalam negeri: modal yang masuk hari ini otomatis menjadi kewajiban pembayaran di masa mendatang.
Ditopang Derasnya “Uang Panas”
Yang menyelamatkan NPI dari defisit yang lebih dalam adalah kinerja transaksi modal dan finansial, yang berbalik drastis mencatatkan surplus US$11,95 miliar.
Sebuah pembalikan tajam dari posisi defisit US$4,77 miliar pada kuartal sebelumnya. Investasi langsung turut memberi kontribusi positif dalam pembalikan ini.
Surplus investasi langsung naik dari US$2,3 miliar menjadi US$2,8 miliar, sementara arus masuk penanaman modal asing (FDI) melonjak ke US$4,9 miliar dari sebelumnya US$3,8 miliar.
Akan tetapi, penopang terbesar justru datang dari investasi portofolio alias “uang panas” (hot money), yang surplusnya melonjak signifikan berkat derasnya arus masuk asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Termasuk kembalinya minat investor ke Surat Berharga Negara (SBN), serta dukungan dari penerbitan obligasi global.
Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rachman menilai, keberlanjutan tren arus modal masuk ini sangat tergantung pada langkah pemerintah ke depan.
Dalam catatan risetnya, ia menyebut bahwa dalam jangka menengah hingga panjang, arus modal akan sangat dipengaruhi oleh “efektivitas implementasi reformasi struktural untuk memperkuat fundamental makroekonomi Indonesia, meningkatkan kepercayaan investor, dan memperbaiki iklim investasi.”
Faisal juga mengingatkan bahwa faktor-faktor eksternal, mulai dari ketegangan perdagangan global hingga risiko geopolitik — akan tetap menjadi penentu utama dinamika arus modal ke depan.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi, ia memperkirakan arus masuk investasi portofolio akan cenderung moderat, sementara nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan pola volatilitasnya.
Sebagai antisipasi, Faisal menyebut Bank Indonesia kemungkinan masih perlu turun tangan menggunakan cadangan devisa demi menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek hingga menengah.
Ia memproyeksikan cadangan devisa akan berada pada kisaran US$143 miliar hingga US$147 miliar pada akhir 2026, turun dari posisi US$156,47 miliar yang tercatat pada akhir 2025. (**)
Halaman : 1 2