
Di panggung Hari Koperasi, kritik lama kembali dilontarkan — kali ini dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya.
Presiden Prabowo Subianto menyebut BUMN sebagai sumber praktik korupsi dan bertekad menertibkannya, saat aset gabungan perusahaan pelat merah yang kini dikelola Danantara diklaim menembus angka US$1 triliun.
BUMN-BUMN itu akan kita tertibkan. Selama ini BUMN-BUMN itu sumber korupsi! Saudara ingin Presidenmu bicara apa adanya, kan?
Danantara diklaim langsung menyodok jajaran lima–enam besar dana kedaulatan dunia, meski usianya belum genap dua tahun sejak diresmikan Februari 2025.
Data internal Danantara menunjukkan potret yang jauh dari klaim kejayaan — inefisiensi dan tumpang tindih bisnis menggerus keuntungan negara setiap tahun.
Dari lebih 1.000 BUMN berikut anak-cucu usahanya tercatat dalam kondisi merugi.
Potensi keuntungan yang hilang setiap tahun akibat inefisiensi dan kerugian operasional.
Dividen BUMN selama ini hanya disumbang oleh delapan perusahaan saja.
Jauh sebelum pidato Hari Koperasi, Presiden telah lebih dulu memperingatkan mantan petinggi BUMN dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah awal tahun ini.
Pimpinan-pimpinan BUMN yang dulu harus tanggung jawab. Siap-siap kau dipanggil kejaksaan.
Ratusan BUMN kecil yang tumpang tindih tengah dilebur menjadi entitas yang lebih ramping dan berdaya saing, tanpa gelombang pemutusan hubungan kerja.
Jumlah BUMN sebelum konsolidasi, termasuk anak, cucu, dan cicit usaha.
BUMN yang telah ditutup karena dinilai tidak sehat secara bisnis.
Target jumlah akhir BUMN setelah proses streamlining rampung.
Saya paling kasihan kalau ada tokoh, kawan, yang diborgol, pakai baju warna oranye. Kasihan anak istrinya.
Halaman : 1 2