Minggu, 14 Jun 2026 - :
13 Jun 2026 - 20:50

Bank Dunia Bunyikan Alarm: Pertumbuhan Bisa Terjun Bebas, Terburuk dalam 6 Tahun

3 mnt baca
  • Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 2,5%, terendah sejak pandemi, akibat eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan inflasi.
  • Dalam skenario terburuk, pertumbuhan global bisa terjun ke 1,3% dengan inflasi menembus 4,4%, mendorong Bank Dunia menyiapkan dana darurat hingga US$100 miliar dalam 15 bulan.
  • Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara paling terdampak dengan pertumbuhan hanya 1,6%, sementara Bank Dunia menyerukan reformasi dan investasi infrastruktur sebagai jalan keluar dari krisis.

Inilahdata.com – Bank Dunia memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global ke titik terendah sejak masa pandemi Covid-19.

Lonjakan harga energi, tekanan inflasi, dan meningkatnya biaya pinjaman internasional menjadi tiga faktor utama yang memperburuk outlook perekonomian dunia.

Dalam laporan Global Economic Prospects terbaru yang dikutip Jumat (12/6/2026), Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 2,5%, turun dari realisasi 2,9% pada 2025.

Koreksi ini terjadi di dua pertiga negara di dunia dibandingkan estimasi Januari lalu. Meski pertumbuhan diperkirakan sedikit membaik ke 2,8% pada 2027, angka itu masih tertinggal 0,4 poin persentase di bawah rata-rata pertumbuhan sepanjang dekade 2010-an.

Presiden Grup Bank Dunia, Ajay Banga, mengakui bahwa negara-negara berkembang telah menanggung serangkaian tekanan berat selama satu dekade terakhir. Ia menegaskan lembaganya siap hadir sebagai penyangga di tengah ketidakpastian yang terus meningkat.

“Merespons guncangan saat ini, kami menyediakan likuiditas di tempat yang membutuhkan sekarang, dan kami siap dengan pembiayaan tambahan, jaminan, serta solusi sektor swasta jika tekanan semakin mendalam. Tugas kami adalah membantu negara-negara menstabilkan kondisi, menjaga reformasi tetap berjalan, dan bangkit lebih kuat di sisi lain,” ujar Ajay Banga.

Laporan tersebut secara khusus menyoroti dampak penutupan Selat Hormuz yang telah mengguncang pasar energi secara signifikan.

Harga minyak mentah jenis Brent diproyeksikan rata-rata menyentuh US$94 per barel sepanjang 2026, melonjak 36% di atas level tahun lalu, dengan asumsi gangguan terparah mulai mereda pada Juli mendatang.

Kenaikan ini turut mendongkrak harga pupuk global dan berisiko memicu inflasi pangan yang lebih luas.

Secara keseluruhan, inflasi global diperkirakan merangkak naik ke level 4% pada 2026, dari posisi 3,3% pada tahun sebelumnya.

Dalam skenario terburuk, apabila gangguan pasokan energi lebih parah dari perkiraan dan disertai tekanan finansial yang substansial, pertumbuhan ekonomi global bisa terjun bebas ke angka 1,3%, sementara inflasi melesat ke 4,4%.

Untuk menopang stabilitas fiskal negara-negara terdampak, Grup Bank Dunia berkomitmen menyiapkan paket bantuan likuiditas darurat senilai US$80 miliar hingga US$100 miliar dalam kurun 15 bulan ke depan.

Pada tahap awal, lembaga ini akan mengucurkan US$50 miliar hingga US$60 miliar melalui instrumen yang telah tersedia, termasuk US$25 miliar yang dialokasikan untuk jaringan pengaman sosial, penguatan kapasitas fiskal, serta modal kerja sektor korporasi dan pertanian.

Di tingkat regional, kawasan Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan tumbuh 4,2% pada 2026 sebelum sedikit menguat ke 4,4% pada 2027.

Sementara itu, wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, Afghanistan, dan Pakistan menanggung dampak paling berat, dengan proyeksi pertumbuhan yang anjlok ke level 1,6% tahun ini.

Wakil Kepala Ekonom Grup Bank Dunia, Ayhan Kose, menilai krisis ini justru harus dijadikan momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi masing-masing negara.

“Momen ini harus digunakan untuk memperkuat kerangka kebijakan, berinvestasi dalam infrastruktur, mempercepat reformasi yang mendukung bisnis, dan memobilisasi modal swasta untuk mendukung penciptaan lapangan kerja dalam skala besar,” pungkas Ayhan. (**)

Editor Inilahdata.com

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%