Rabu, 10 Jun 2026 - :
10 Jun 2026 - 09:28

Rupiah Tiba-Tiba Bangkit Tembus Rp17.875, BI Naikkan Suku Bunga, Trump Bicara Iran

3 mnt baca

Poin – Poin Penting

  • Rupiah menguat tajam 0,97% ke level Rp17.875 per dolar AS pada pembukaan Rabu (10/6/2026), menembus kembali batas psikologis Rp18.000 setelah BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50%.
  • Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan kenaikan BI Rate dirancang untuk memperkuat stabilitas rupiah, menarik investasi portofolio asing, dan menjaga inflasi tetap dalam target 2,5±1% hingga 2027.
  • Pelemahan dolar AS turut membantu rupiah bernapas, dipicu koreksi harga minyak dunia setelah Presiden Trump memberi sinyal bahwa kesepakatan AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz bisa segera terwujud.

Inilahdata.com – Rupiah akhirnya berbalik arah. Setelah berminggu-minggu tertekan dan sempat bercokol di atas level Rp18.000 per dolar AS, mata uang Indonesia membuka perdagangan Rabu (10/6/2026) dengan kekuatan yang tidak banyak diprediksi pasar, menguat hampir satu persen dalam hitungan jam pertama sesi pagi.

Data Refinitiv mencatat rupiah dibuka di posisi Rp17.875 per dolar AS, menguat sekitar 0,97% dari penutupan sebelumnya. Penguatan ini bukan sekadar angka, ia menandai momen rupiah merebut kembali level psikologis Rp18.000 yang belakangan terasa begitu sulit dipertahankan. Sehari sebelumnya pun rupiah sudah menunjukkan sinyal serupa, ditutup menguat 0,66% ke posisi Rp18.050 per dolar AS pada Selasa (9/6/2026).

Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau relatif tenang di level 99,983 pukul 09.00 WIB — meski sehari sebelumnya sempat tergelincir 0,14% ke posisi 99,909.

BI Ambil Langkah Berani

Di balik kebangkitan rupiah ini, ada keputusan besar yang diambil Bank Indonesia. Dalam Rapat Dewan Gubernur Mingguan, Selasa (9/6/2026), BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin, dari 5,25% menjadi 5,50%. Langkah ini bukan keputusan rutin. Ini adalah respons terukur terhadap tekanan yang sudah berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kenaikan ini merupakan bagian dari strategi lanjutan untuk membentengi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang belum juga reda, terutama akibat konflik yang masih membara di kawasan Timur Tengah.

“Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran investasi portofolio asing ke Indonesia,” ujar Perry.

Ia menambahkan bahwa kebijakan ini sekaligus bersifat antisipatif, menjaga inflasi agar tetap berada dalam koridor target pemerintah sebesar 2,5±1% untuk 2026 dan 2027.

Tekanan yang Lebih Dalam dari Perkiraan

Keputusan BI bukan lahir dari kehati-hatian berlebihan. Evaluasi sejak RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026 mengungkap sesuatu yang mengkhawatirkan: rupiah mengalami tekanan yang jauh melampaui proyeksi awal.

Tiga faktor bekerja bersamaan menekan mata uang Garuda, ketidakpastian global yang belum mereda, tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri, dan keluarnya dana investasi portofolio asing dari pasar keuangan Indonesia dalam jumlah yang signifikan.

Kombinasi ketiganya menciptakan tekanan yang tidak bisa lagi ditangani dengan kebijakan yang sama.

Trump Bicara, Minyak Turun, Dolar Melemah

Rupiah juga mendapat bantuan dari arah yang tidak terduga, yakni Washington. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran bisa tercapai dalam waktu dekat langsung mengguncang pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia terkoreksi tajam, dan tekanan terhadap dolar AS pun mengikuti.

Trump bahkan menyebut Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi sumber kekhawatiran pasokan energi global berpeluang kembali dibuka tidak lama setelah perjanjian ditandatangani. Pasar membaca sinyal itu sebagai peredaan ketegangan, dan dolar merespons dengan melemah.

Bagi rupiah, pelemahan dolar adalah angin segar yang datang di saat paling dibutuhkan, melengkapi dorongan dari dalam negeri yang datang lewat keputusan suku bunga BI sehari sebelumnya.

Dua kekuatan bekerja sekaligus. Dan rupiah, setidaknya untuk hari ini, memilih untuk bangkit. (**)

Penulis Berita

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%