
Inilahdata.com – Industri pembiayaan atau multifinance terus menunjukkan denyut aktivitas yang stabil di tengah tekanan ekonomi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa tiga sektor ekonomi mendominasi penyaluran pembiayaan pada April 2026, dengan perdagangan besar dan eceran mencatatkan angka tertinggi.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK, Agusman, merinci bahwa sektor perdagangan besar dan eceran menyerap pembiayaan senilai Rp90,69 triliun, atau berkontribusi sebesar 16,67% dari total piutang pembiayaan industri.
“Pada April 2026, tiga sektor ekonomi dengan penyaluran pembiayaan terbesar di industri multifinance yaitu sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp90,69 triliun atau 16,67% dari total piutang pembiayaan,” ujar Agusman dalam lembar jawaban Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK Mei 2026, Minggu (7/6/2026).
Di bawahnya, sektor aktivitas penyewaan mencatat piutang sebesar Rp57,76 triliun atau 10,61% dari total, sementara industri pengolahan berkontribusi Rp53,70 triliun atau setara 9,87% dari keseluruhan piutang pembiayaan.

Rumah Tangga Tumbuh Paling Kencang
Menariknya, dari sisi pertumbuhan, sektor rumah tangga justru menjadi yang paling ekspansif. Per April 2026, piutang di segmen ini tumbuh 28,16% secara tahunan, jauh melampaui sektor-sektor lain yang lebih besar nominalnya.
Agusman menjelaskan bahwa lonjakan ini mencerminkan masih kuatnya kebutuhan masyarakat terhadap berbagai skema pembiayaan konsumsi dan multiguna. “Pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh masih tingginya kebutuhan pembiayaan masyarakat untuk berbagai kebutuhan konsumsi dan pembiayaan multiguna,” tuturnya.
Total Piutang Tembus Rp514 Triliun
Secara keseluruhan, total piutang pembiayaan industri multifinance pada April 2026 tercatat sebesar Rp514,65 triliun, tumbuh 2,08% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh pembiayaan modal kerja yang ekspansinya mencapai 10,64% secara tahunan. Dibandingkan bulan sebelumnya, kenaikannya memang tipis, hanya 0,10% dari posisi Rp514,09 triliun pada Maret 2026.
Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing financing (NPF) gross berada di angka 2,89%, sementara NPF net tercatat lebih rendah di level 0,78%. Adapun gearing ratio industri tercatat sebesar 2,14 kali, masih dalam batas yang terkendali.
OJK Ingatkan Prinsip Kehati-hatian
Di balik angka-angka pertumbuhan itu, OJK mengingatkan industri untuk tidak lengah. Agusman mendorong perusahaan pembiayaan agar memperketat proses seleksi debitur, mengawasi portofolio secara lebih intensif, dan memperkuat langkah mitigasi risiko.
“Serta penerapan restrukturisasi pembiayaan secara selektif sesuai prinsip kehati-hatian guna menjaga kualitas pembiayaan di tengah dinamika perekonomian,” tegasnya.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa pertumbuhan yang sehat bukan hanya soal besaran angka, melainkan juga soal seberapa tangguh fondasi di baliknya. (**)