Minggu, 31 Mei 2026 - :
28 Mei 2026 - 16:38 | 81 Views | 0 Suka

Ekspor Gelap Mineral Nuklir Digagalkan di Batam

3 mnt baca

Inilahdata.com – Aparat gabungan berhasil menggagalkan upaya penyelundupan ratusan ton hasil tambang ilegal yang mengandung logam tanah jarang (LTJ) serta unsur radioaktif di perairan Batam, Kepulauan Riau.

Hal itu dilakukan oleh Koarmada TNI Angkatan Laut melalui KRI Kujang-642 BKO Guskamla Koarmada I. Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan satu kapal yang mengangkut 25 kontainer.

Setelah dilakukan pendalaman, aparat menemukan indikasi kuat adanya pelanggaran aturan kepabeanan sekaligus dugaan pelanggaran tata niaga ekspor mineral dan batu bara.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan PT Timah Kundur terhadap 15 kontainer, ditemukan kandungan titanium oksida dalam material yang diamankan.

Namun temuan paling mengejutkan adalah adanya kandungan logam tanah jarang serta unsur radioaktif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku nuklir, di antaranya zirconium oxide, thorium oxide, neodymium oxide, triuranium oktosida, dan cerium oxide.

Nilai seluruh komoditas minerba yang berhasil dicegah keluar negeri itu ditaksir mencapai angka triliunan rupiah.

“Dari hasil uji laboratorium di PT Timah Kundur, Tanjung Balai Karimun terhadap sampel ilminite dari 15 kontainer didapat hasil kandungan Titanium Oksida. Selain itu terdapat kandungan LTJ dan unsur radioaktif untuk bahan baku nuklir,” kata Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Richard Taruli dalam siaran pers, dikutip Kamis (28/5/2026).

Richard meninjau langsung kapal TB Capricorn 106/TK Capricorn 92.210 yang kini diamankan di Dermaga Mako Kodaeral IV Batam.

Kapal tersebut sebelumnya diamankan oleh Koarmada RI melalui KRI Kujang-642 BKO Guskamla Koarmada I pada 17 Mei 2026.

Logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) merupakan kelompok unsur strategis yang terdiri atas 15 unsur deret lantanida, mulai dari lanthanum, cerium, praseodymium, neodymium hingga lutetium, ditambah scandium dan yttrium.

Material ini tersebar di berbagai jenis deposit mineral, termasuk batuan beku, endapan metamorf, hingga residu mineral di permukaan bumi seperti nikel laterit, bauksit, dan timah plaser.

Dalam konteks Indonesia, LTJ banyak terkandung dalam monasit, mineral ikutan timah yang kaya unsur cerium, lanthanum, neodymium, yttrium, dan praseodymium.

Kandungan thorium di dalamnya menjadikan mineral ini sangat strategis karena dapat diolah menjadi sumber energi untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Pemerintah sebelumnya telah menegaskan bahwa seluruh turunan hasil proses timah, termasuk mineral ikutan yang mengandung LTJ, tidak boleh diekspor bebas.

“Seluruh turunan dari hasil proses timah itu tidak bisa diekspor, dilindungi semua dan ditempatkan pada tempat yang baik, karena itu akan dikuasai oleh negara,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kepada awak media di Kementerian ESDM, Jumat (26/9/2025).

Bahlil menjelaskan, hilirisasi logam tanah jarang akan didorong melalui Badan Industri Mineral yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2025.

Menurutnya, pelarangan ekspor dilakukan karena logam tanah jarang merupakan aset strategis yang harus dikelola untuk kepentingan nasional.

“Sekarang kita lagi persiapkan supaya ini benar-benar menjadi komoditas unggulan baru yang bisa memberikan manfaat bagi pendapatan negara,” tuturnya.

Penggagalan penyelundupan ini sekaligus menegaskan bahwa perebutan sumber daya strategis Indonesia kini tak lagi sekadar soal komoditas tambang biasa, melainkan juga menyangkut kepentingan energi masa depan. (**)

Penulis Berita

Pos Tags

KURS

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%