Minggu, 31 Mei 2026 - :
26 Mei 2026 - 21:03 | 156 Views | 0 Suka

Rupiah Rontok, Pemerintah Tetap Ngebut Cari Utang Baru Rp36 Triliun

3 mnt baca

Inilahdata.com – Pemerintah kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (26/5/2026) di tengah tekanan berat terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik. Melalui lelang kali ini, pemerintah membidik pembiayaan sebesar Rp36 triliun dengan batas maksimal penyerapan hingga 150% dari target indikatif.

Mengacu pada data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, lelang dilakukan saat sentimen pasar masih dibayangi pelemahan rupiah serta tingginya ketidakpastian global.

Meski target pemerintah terbilang agresif, kondisi pasar dinilai belum sepenuhnya kondusif untuk menyerap pasokan obligasi dalam jumlah besar tanpa kenaikan tingkat imbal hasil atau yield yang lebih tinggi.

Investor Mulai Hati-Hati

Sinyal kehati-hatian investor sebenarnya sudah terlihat pada lelang SUN sebelumnya yang berlangsung 12 Mei 2026. Saat itu, total penawaran masuk turun menjadi Rp51,39 triliun dibanding lelang akhir April yang mencapai Rp74,95 triliun.

Dari sisi penyerapan, pemerintah juga hanya memenangkan Rp30,3 triliun, lebih rendah dibanding lelang sebelumnya sebesar Rp40 triliun.

Pelaku pasar masih bersedia masuk ke pasar obligasi domestik, namun dengan meminta kompensasi imbal hasil lebih tinggi akibat meningkatnya risiko global, tekanan fiskal dalam negeri, serta ketidakpastian arah suku bunga dunia.

Hal itu tercermin dari yield seri-seri tenor panjang yang mulai mendekati bahkan menembus level 6,8% hingga 6,9%.

Pada lelang sebelumnya, minat investor paling besar terkonsentrasi pada seri tenor menengah, khususnya FR0109 tenor lima tahun yang mencatat incoming bids hampir Rp15 triliun dengan bid-to-cover ratio mencapai 4,47 kali.

Rupiah Melemah Jadi Beban Pasar Obligasi

Tekanan terhadap lelang SUN tidak lepas dari pelemahan nilai tukar rupiah. Pada 12 Mei lalu, rupiah sempat menyentuh Rp17.525 per dolar AS.

Kini tekanan semakin berat. Di pasar offshore, rupiah kembali melemah ke kisaran Rp17.769 per dolar AS pada Selasa pagi. Sementara di pasar spot sehari sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp17.743 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung meminta yield lebih tinggi untuk mengimbangi risiko nilai tukar dan volatilitas pasar.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga menambah kekhawatiran pasar karena berpotensi memicu inflasi global dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat atau US Treasury.

Akibatnya, arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, masih terus menjadi ancaman.

Pemerintah Hadapi Tekanan Fiskal

Di sisi lain, pemerintah tetap membutuhkan pembiayaan besar untuk menopang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi itu membuat lelang SUN harus terus dijaga agar tetap terserap pasar.

Namun, meningkatnya pasokan surat utang di tengah permintaan investor yang semakin selektif berpotensi memaksa pemerintah menawarkan yield lebih mahal.

Analis menilai lelang kali ini kemungkinan masih akan banyak ditopang oleh investor domestik seperti perbankan dan institusi lokal, terutama untuk SUN tenor pendek hingga menengah.

Sementara itu, untuk tenor panjang seperti FR0102 dengan tenor sekitar 28 tahun dan FR0105 tenor 38 tahun, pemerintah diperkirakan harus memberikan tambahan kompensasi imbal hasil agar tetap menarik bagi pasar.

Daftar Seri SUN yang Dilelang

Dalam lelang hari ini, pemerintah menawarkan beberapa seri Surat Utang Negara, mulai dari tenor jangka pendek hingga sangat panjang.

Seri yang dilelang meliputi:

  • SPN12260702 tenor sekitar 1 bulan
  • SPN03260831 tenor sekitar 3 bulan
  • SPN12270517 tenor sekitar 1 tahun
  • FR0109 tenor 5 tahun
  • FR0108 tenor 10 tahun
  • FR0106 tenor 14 tahun
  • FR0107 tenor 19 tahun
  • FR0102 tenor 28 tahun
  • FR0105 tenor 38 tahun

Pada lelang sebelumnya, yield tenor panjang tercatat sudah mendekati 7%, dengan FR0105 misalnya mencapai 6,92%.

Situasi ini menunjukkan biaya utang pemerintah berpotensi semakin mahal apabila tekanan terhadap rupiah dan sentimen global belum mereda dalam waktu dekat. (**)

KURS

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%