Laju impor jauh melampaui ekspor, surplus nonmigas kian terhimpit
IMPOR
+19,94%
EKSPOR
+4,43%
SURPLUS US$22,45 M — TERGERUS
Jika tren ini berlanjut, surplus nonmigas berpotensi berbalik jadi defisit
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin meminta pemerintah membatasi impor secara selektif, seiring surplus perdagangan nonmigas yang mulai tergerus akibat laju impor yang jauh lebih cepat dibanding ekspor.
Catatan: dikutip dari Katadata.co.id, Selasa (23/9/2026).
Surplus nonmigas Jan-Jul 2026
US$22,45 M
Masih positif, namun terus tergerus akibat impor yang tumbuh jauh lebih cepat dari ekspor.
Peringatan dini
“Jika tidak ada respons strategis, defisit berpotensi terjadi dalam waktu dekat.”
Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina
Dorongan percepat IEU-CEPA
“Percepat finalisasi IEU-CEPA. Eropa merupakan pasar yang lebih berpotensi dari AS.”
Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina
Langkah yang didesak ke pemerintah
Batasi impor selektif
Diversifikasi ekspor
Manfaatkan FTA
Penguatan nilai tambah produk ekspor juga didorong agar ketergantungan pada segelintir komoditas berkurang.
Risiko mitra dagang utama
Perlambatan permintaan dari AS, China, dan India dinilai belum diantisipasi cukup oleh kebijakan fiskal dan dagang bilateral saat ini.
Kebijakan saat ini dinilai belum cukup
Insentif fiskal eksportir dan perjanjian dagang bilateral yang ada dianggap belum memadai menghadapi risiko perlambatan global.
Tanpa langkah strategis segera, surplus perdagangan nonmigas yang selama ini menjadi bantalan ekonomi RI berisiko berbalik arah menjadi defisit dalam waktu dekat.