
Inilahdata.com – Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana menempuh proses hukum menyusul dugaan kekerasan yang dialami lima mahasiswanya ketika ikut serta dalam aksi unjuk rasa di Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9).
Selain lima mahasiswa UGM, seorang mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) turut diduga mengalami kekerasan serupa dalam aksi tersebut.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sudjito, membenarkan bahwa langkah hukum tengah dipersiapkan sebagai bentuk pendampingan terhadap mahasiswa yang diduga menjadi korban saat menyampaikan aspirasi.
“Rencananya kayaknya begitu (langkah hukum), lagi nyiapin. Tapi, sekali lagi pesan terpentingnya itu. Siapapun yang melakukan kekerasan harus bertanggung jawab,” ujarnya di Balairung UGM, Sleman, Rabu (2/9/2026).
Arie menuturkan, pihak universitas bersama mahasiswa masih mematangkan skema advokasi yang akan melibatkan sejumlah pihak terkait.
Baginya, dugaan kekerasan yang terjadi tidak boleh berlalu tanpa ada pertanggungjawaban yang jelas.
Kekhawatiran itu, menurut Arie, bukan tanpa alasan. Ia menilai pembiaran terhadap kasus kekerasan semacam ini berisiko menjadi preseden yang bisa terulang dan pada gilirannya mengancam lebih banyak pihak.
“Saya khawatir ini akan menjadi model jika membiarkan kekerasan ini bisa mengancam siapa pun. Karena tidak ada toleransi untuk praktik-praktik kekerasan,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan tindak kekerasan.
Perlindungan terhadap pelajar dan masyarakat, kata Arie, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga demokrasi dan nilai kemanusiaan, terlebih ketika mahasiswa tengah menjalankan hak konstitusionalnya untuk bersuara.
“Jadi apapun itu tidak boleh ada kekerasan. Atas nama kemanusiaan, atas nama demokrasi, atas nama institusi juga kekerasan tidak diperbolehkan,” katanya.
Arie turut meminta aparat kepolisian mengambil peran lebih aktif dalam melindungi masyarakat dan mahasiswa, khususnya dalam situasi unjuk rasa yang padat dan rawan gesekan.
Menurutnya, langkah antisipatif dari kepolisian penting agar suasana yang tegang tidak berujung pada kekerasan, apalagi sampai mengarah pada bentuk premanisme bernuansa politik.
“Bahwa situasi ramai dan sebagainya saya berharap polisi bisa mengambil tindakan untuk melindungi masyarakat, melindungi mahasiswa. Jangan sampai terjadi kekerasan. Saya tidak ingin juga premanisme politik terjadi,” tandasnya.
Di akhir keterangannya, Arie mengingatkan bahwa penyampaian aspirasi oleh mahasiswa merupakan wujud sikap kritis yang semestinya mendapat ruang untuk didengar, bukan direspons dengan kekerasan.
“Kalau mahasiswa itu menyampaikan aspirasi ya didengarkan. Itu adalah bagian dari sikap kritis,” ucapnya.
Luka Beragam hingga Trauma
Insiden ini bermula dari aksi unjuk rasa Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Gramedia pada Selasa (1/9/2026), yang berujung pada enam mahasiswa mengalami luka-luka.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna, mengonfirmasi jumlah korban tersebut.
“Ada enam mahasiswa, lima mahasiswa dari UGM dan satu mahasiswa dari UNY yang kemarin akhirnya harus sempat dirawat di rumah sakit,” katanya di Balairung UGM, Sleman, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan Hempri, luka yang dialami para mahasiswa cukup beragam, mulai dari memar di pelipis, luka robek di jidat dan bibir, hingga memar di area perut dan kepala bagian belakang.
Dua di antaranya bahkan mengalami trauma dan sesak napas akibat situasi yang terjadi. Para korban, kata Hempri, baru diizinkan pulang dari Rumah Sakit Panti Rapih pada Rabu dini hari sekitar pukul 00.30 WIB setelah menjalani perawatan.
Mengenai kronologi kejadian, Hempri menyampaikan gambaran singkat dari keterangan para korban.
“(Keterangan siswa korban) ya mereka tiba-tiba jalan terus ada yang mukul,” ujarnya.
Hempri menambahkan, pihaknya sejak sore hingga dini hari telah meminta jajaran Kantor Keamanan Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) UGM untuk mendampingi aksi mahasiswa.
Menurut laporan yang ia terima, mahasiswa UGM sejatinya menjaga aksi tetap berjalan tertib dan menghindari sikap provokatif.
Provokasi, menurutnya, justru muncul dari kelompok lain yang turut berada di lokasi.
“Saya kira di pukul 19.00 ini juga sudah ada bentuk-bentuk provokasi ya, yang saya kira dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu yang saya kira sempat menyebabkan ya mungkin konflik suatu saat,” papar Hempri.
Ia melanjutkan bahwa situasi sempat mereda dan terkendali sekitar pukul 19.20, namun eskalasi kembali terjadi menjelang malam.
“Tapi waktu itu kan masalah sudah kembali normal ya, sekitar jam 19.20-an dan saya pikir itu akan bisa berjalan dengan baik. Tapi sekitar jam 22.00 saya kira teman-teman siswa dipukul mundur oleh kelompok-kelompok masyarakat dan ironisnya dengan berbagai bentuk aksi kekerasan yang tidak sepantasnya terjadi ya,” sambungnya. (**)
Halaman : 1 2