Senin, 21 Sep 2026 - :
19 Sep 2026 - 21:33 | 33 Views | 0 Suka

Studi OCBC-NIQ: Kesiapan Dana Darurat Generasi Minim Muda Minim

9 mnt baca

Inilahdata.com – Semakin banyak anak muda Indonesia yang mau menyisihkan sebagian penghasilannya, tetapi bekal mereka menghadapi kondisi mendesak masih tipis. Gambaran itu muncul dari studi Financial Fitness Index (FFI) 2026 yang disusun OCBC bersama NielsenIQ (NIQ). Hasilnya, hanya 27 persen responden muda yang sudah menyiapkan dana darurat.

Padahal, kebiasaan dasarnya sudah terbentuk. Sebanyak 92 persen responden rutin menabung sebagian pendapatan, naik dari 89 persen pada tahun sebelumnya.

Studi ini juga memperlihatkan jarak antara keyakinan dan praktik. Sebanyak 55 persen responden percaya rencana keuangan yang mereka jalani akan mengantar pada keberhasilan di masa depan. Namun, 80 persen dari kelompok tersebut belum disiplin mencatat keuangannya.

Kondisi itu ikut menyeret skor financial fitness anak muda Indonesia turun menjadi 39,64 pada FFI 2026, dibanding 40,60 sebelumnya. Riset tahunan yang kini memasuki edisi keenam tersebut melibatkan responden berusia 25–35 tahun dengan penghasilan di atas Rp5 juta dan telah memiliki rekening bank. Mereka tersebar di Jabodetabek, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar.

Director Strategic Analytics & Insight NielsenIQ Indonesia, Inggit Primadevi, mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar dan pelunasan utang masih menjadi prioritas utama responden, kendati skor FFI menurun. Hal itu ia sampaikan dalam peluncuran OCBC Financial Fitness Index 2026 di PIM 3, Jakarta, Jumat (18/9/2026).

“Studi FFI 2026 menunjukkan bahwa di tengah skor FFI yang menurun, namun terlihat kebutuhan untuk mempertahankan pemenuhan keuangan dasar masih kuat, seperti pemenuhan sehari-hari dan pembayaran utang,” kata Inggit.

Meski begitu, Inggit melihat sisi yang menggembirakan, yakni kian banyak orang mulai membiasakan diri menabung dan menyiapkan masa depan. “Ini menunjukkan adanya awareness yang berkembang dan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan finansial ke depannya,” ujarnya.

Di luar tantangan tersebut, dana darurat terbukti menjadi pijakan penting bagi pertumbuhan aset jangka panjang. Riset OCBC mendapati bahwa responden yang sudah punya simpanan darurat lebih berani melirik instrumen investasi berisiko atau kompleks, seperti saham, reksa dana, deposito, hingga forex.

Perbandingannya 9 persen berbanding 4 persen dengan mereka yang belum memilikinya. Bahkan, 14 persen dari kelompok pemilik dana darurat mengaku sedang mempertimbangkan untuk menambah produk investasi kompleks.

Menanggapi temuan itu, Personal Banking Segment Head OCBC, Lauda Muliana, menekankan pentingnya membangun ketahanan finansial sejak dini.

“Bagi OCBC, sehat secara finansial bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak uang, tetapi tentang memiliki fondasi dan perencanaan yang membuat kita mampu menghadapi ketidakpastian, sekaligus memiliki ruang untuk bertumbuh,” ucapnya.

Menurut Lauda, kecakapan finansial diawali dengan memahami kondisi pribadi, menetapkan prioritas, membangun ketahanan, lalu mengembangkan kekayaan sesuai tujuan dan profil masing-masing. “Jadi, bukan hanya tahu ilmunya, tetapi juga harus mengaplikasikannya dengan bijak dan konsisten,” tuturnya.

Ia menambahkan, kondisi finansial yang sehat tidak menuntut orang mengorbankan gaya hidup. Mereka yang memiliki perencanaan matang, dana darurat, dan investasi justru terbukti lebih leluasa menikmati hidup tanpa mengabaikan prioritas masa depan.

“OCBC percaya bahwa sehat secara finansial bisa berjalan beriringan dengan menikmati lifestyle. Nyala Festival ini adalah salah satu manifestasi dari OCBC, yang memperlihatkan bahwa edukasi, insight, dan perencanaan finansial bisa berjalan beriringan juga dengan lifestyle dan fun,” kata dia. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%