Rabu, 21 Okt 2026 - :
20 Okt 2026 - 10:09 | 27 Views | 0 Suka

Perang AS-Iran Jadi Risiko Utama Inflasi Dunia, Bank Sentral Terjepit Dilema

11 mnt baca

Inilahdata.com – Inflasi global diperkirakan kembali naik di tengah memanasnya geopolitik, dan hal itu menempatkan bank sentral di berbagai negara pada posisi sulit. Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran disebut sebagai salah satu risiko utama.

Konflik ini berpotensi memperpanjang kenaikan harga energi, mendongkrak biaya input produksi termasuk cip komputer, dan menambah tekanan pada harga barang dan jasa di banyak negara.

Dalam skenario dasar, konflik Iran berlanjut dengan intensitas rendah dan harga minyak bertahan sekitar US$100 per barel. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi global naik menjadi 4,4 persen secara tahunan pada kuartal IV-2026, lalu turun ke 3 persen pada kuartal IV-2027.

Ekonom Bloomberg Economics Scott Johnson menjelaskan, penurunan tahun depan lebih mencerminkan efek dasar.

Harga minyak yang melonjak tahun ini perlahan keluar dari hitungan tahunan, sehingga inflasi bisa melandai meski harga energi tidak serta-merta kembali ke level sebelum konflik. Menurutnya, prospek itu sangat bergantung pada perkembangan di Timur Tengah.

Pada skenario kedua, perang meluas menjadi konflik regional yang lebih besar dan mendorong harga minyak ke US$130 per barel. Dalam kondisi itu, inflasi global bisa mencapai 5 persen pada kuartal IV-2026 dan 3,5 persen pada kuartal IV-2027, lebih tinggi daripada skenario dasar.

Selisih antarskenario memperlihatkan besarnya pengaruh harga energi. Kenaikan harga minyak tidak hanya menaikkan ongkos bahan bakar, tetapi juga biaya transportasi, logistik, produksi, dan berbagai input industri. Bila berlangsung lama, dampaknya menyebar ke lebih banyak sektor dan inflasi menjadi sulit dikendalikan.

Risiko berikutnya adalah ekspektasi inflasi. Ketika rumah tangga dan pelaku usaha mengira harga akan terus naik, pekerja dapat menuntut upah lebih tinggi, sementara perusahaan menaikkan harga jual demi mempertahankan margin.

Jika pola ini meluas, tekanan harga yang semula dipicu pasokan energi bisa menjadi lebih persisten dan mempersulit keputusan kebijakan moneter.

Meski begitu, ada pula skenario yang lebih jinak. Jika perang mereda dan harga minyak turun ke US$70 per barel, inflasi global memiliki ruang untuk mereda. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi sebesar 4,2 persen pada 2026 dan 3 persen pada 2027.

Namun, Johnson menilai perdamaian yang langgeng masih sulit dipastikan, sehingga risiko kenaikan harga energi tetap harus diperhitungkan. Artinya, arah inflasi global tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter, tetapi juga oleh geopolitik dan pasokan komoditas.

Bank sentral bisa menaikkan suku bunga untuk menahan permintaan dan menjaga ekspektasi inflasi, tetapi instrumen itu tidak dapat memulihkan pasokan minyak atau mengakhiri konflik.

Pengetatan yang terlalu agresif pun berisiko menekan konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Dilemanya makin terasa jika harga minyak bertahan di sekitar US$100 atau naik lagi ke US$130.

Di satu sisi, bank sentral perlu menahan bunga acuan tinggi lebih lama. Di sisi lain, pengetatan itu menambah beban belanja pemerintah, dunia usaha, dan rumah tangga.

Meski demikian, bank sentral di berbagai negara diperkirakan masih akan memperketat kebijakan. Di AS, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan menaikkan bunga acuan setidaknya sekali lagi tahun ini.

Menurut FedWatch, peluang kenaikan Fed Fund Rate yang sempat turun ke 16 dari 20 persen sehari sebelumnya, kini naik lagi ke 17,2 persen.

Sebagian negara Asia juga diperkirakan terus menjaga laju inflasi. Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan kebijakan moneter pada 21/10/2026, dan median estimasi konsensus Bloomberg memperkirakan BI mempertahankan bunga di 5,75 persen.

Bank of Korea (BOK) diperkirakan menahan bunga di 3 persen seperti bulan lalu, dengan pengumuman pada 22/10/2026.

Adapun bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), sudah menaikkan bunga acuan pada Oktober ini menjadi 5,5 persen dari 5,25 persen. (**)

Penulis Berita

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%