Jumat, 06 Nov 2026 - :
3 Nov 2026 - 20:33 | 80 Views | 0 Suka

Listyo Pindah ke KSP, Tumpukan Kasus Era Kapolri Ditinggal di Meja Lama

12 mnt baca

Inilahdata.com – Sebelum duduk sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Listyo Sigit Prabowo tercatat sebagai Kapolri dengan masa jabatan terlama sejak Reformasi 1998. Ia memimpin Korps Bhayangkara lebih dari lima tahun, dan selama itu sejumlah perkara kontroversial membuat kepolisian berulang kali jadi bahan kritik.

Listyo dilantik sebagai Kapolri pada 27 Januari 2021 atas penunjukan langsung Presiden Joko Widodo yang saat itu menjalani periode keduanya. Posisinya tidak bergeser ketika kursi presiden berpindah ke Prabowo Subianto.

Jabatan itu baru dilepas pada 1 Oktober 2026, saat ia diberhentikan dengan hormat dan diangkat menjadi KSP. Totalnya 5 tahun 8 bulan 4 hari, lebih lama dari mayoritas Kapolri sepanjang sejarah.

Di masanya, Polri memang membenahi sejumlah hal, misalnya mendigitalkan layanan. Namun rekam jejak lembaga ini di era Listyo juga diwarnai beberapa kasus yang menyedot perhatian publik.

Rekayasa Pembunuhan Ferdy Sambo

Perkara ini terjadi pada Juli 2022, kira-kira setahun setelah Listyo menjabat. Ferdy Sambo, yang kala itu Kadiv Propam Polri, membunuh anak buahnya sendiri, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Pembunuhan oleh sesama polisi itu menyita perhatian luas.

Penyelidikan jadi berbelit karena Sambo terbukti merekayasa kematian korban sebagai kejadian baku tembak supaya lolos dari jerat hukum. Ia juga terbukti berusaha menghilangkan alat bukti, dan dalih baku tembak itu akhirnya tak terbukti.

Pembunuhan terjadi pada 8 Juli 2022. Pengadilan menjatuhkan vonis mati pada Februari 2023, tetapi Mahkamah Agung mengubahnya menjadi penjara seumur hidup pada Agustus 2023.

Tragedi Kanjuruhan

Saat perkara Sambo masih bergulir, kepolisian kembali disorot lewat peristiwa 1 Oktober 2022. Usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, 135 orang meninggal dan sekitar 500 lainnya terluka.

Suporter tuan rumah yang kecewa dengan kekalahan turun ke lapangan untuk memprotes pihak klub. Aparat menanggapinya keras dengan gas air mata untuk memukul mundur mereka, dan gas itu ikut menyebar ke tribun. Penonton yang tak tahan berdesakan mencari jalan keluar, lalu jatuhlah korban jiwa sebanyak itu.

Kritik tajam mengarah ke Polri. Publik mempertanyakan prosedur pengamanan pertandingan olahraga, dan banyak yang menilainya berlebihan.

Sampai sekarang desakan untuk mengusut tragedi ini masih disuarakan karena penanganannya dianggap belum tuntas. Saat itu, pejabat yang dicopot hanya Kapolres Malang.

Kematian Afif Maulana dan Gamma Ryzkinata

Pada 2024, Polri disorot lagi lewat dua kematian terpisah yang menimpa anak di bawah umur. Afif Maulana, 13 tahun, ditemukan mengapung di sebuah sungai di Kota Padang pada 9 Juni 2024. Organisasi masyarakat sipil dan media menangkap ada perbedaan antara peristiwa sebenarnya dan kronologi versi polisi.

Polisi menyatakan Afif tewas setelah terjun dari jembatan. Keluarga dan lembaga bantuan hukum menyebut ada luka mirip bekas penganiayaan di jenazahnya.

Kematian Afif pun dikaitkan dengan dugaan kekerasan berlebihan aparat. Ia diduga dianiaya sebelum jatuh ke sungai oleh polisi yang berpatroli malam hari sebelum jenazahnya ditemukan.

Kasus Gamma terjadi pada 24 November 2024. Siswa SMK di Semarang itu tewas ditembak anggota polisi, Aipda Robig Zainudin, ketika melintas dengan sepeda motor.

Awalnya Polresta Semarang menggambarkan Gamma sebagai anggota gang yang terlibat tawuran, sementara Robig disebut menembak karena merasa terancam. Polisi bahkan sempat memamerkan senjata yang diklaim dipakai dalam tawuran.

Namun setelah perkara diusut, tawuran yang diceritakan polisi tidak pernah ada. Rekaman CCTV penembakan juga tidak memperlihatkan ancaman apa pun terhadap Robig. Publik mengkritik keras kasus ini, termasuk soal bagaimana polisi mempertanggungjawabkan kesalahannya.

Agustus Kelabu

Pada 28 Agustus 2025, Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang sedang bekerja di tengah gelombang protes di Jakarta, tewas terlindas mobil taktis Brimob.

Kematiannya memicu kemarahan publik dan aksi protes besar di banyak daerah, dengan kepolisian sebagai salah satu pihak yang paling disorot.

Komisi Pencari Fakta (KPF) bentukan koalisi masyarakat sipil mencatat 13 warga sipil tewas selama gelombang protes sejak Agustus itu. Sebanyak 2.573 anak di bawah umur ditangkap di 15 kota, dan 703 orang dijadikan tahanan politik. Seruan agar Listyo mundur ikut menggema di ruang publik.

Dugaan Korupsi Jampidsus Febrie Adriansyah

Pada Juli 2026, kepolisian kembali menjadi pusat perhatian. Polri menetapkan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah sebagai tersangka dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Dugaan itu mencakup sejumlah perkara terpisah, dari penanganan hukum PT Asabri hingga tata kelola batu bara PLTU PLN.

Kasusnya jadi perhatian nasional. Persidangan dimulai awal Oktober 2026 dan masih berjalan hingga kini. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%