
Inilahdata.com – Meja operasi di sejumlah rumah sakit Indonesia kini punya penghuni baru: lengan-lengan robotik yang bergerak presisi mengikuti kendali tangan dokter bedah.
Dari RS Bunda Jakarta hingga jaringan Siloam Hospitals, teknologi bedah robotik yang beberapa tahun lalu masih terdengar futuristik itu kini perlahan menjadi bagian dari ruang operasi sehari-hari.
Kementerian Kesehatan pun tak mau ketinggalan menyambut tren ini, dengan rencana mendatangkan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit-rumah sakit milik pemerintah.
Momentum itu mengemuka saat Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin hadir dalam perayaan pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik di RS Bunda Jakarta, Senin (27/7), yang sekaligus menjadi ajang peluncuran kerja sama strategis antara Kemenkes, RS Bunda, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dalam kesempatan itu, Budi menegaskan bahwa robotik kini masuk dalam tiga teknologi kesehatan prioritas pemerintah, berdampingan dengan kecerdasan artifisial dan bioteknologi.
“Robotik adalah tren global. Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau,” ujar Budi dalam keterangan persnya.
Dari Jakarta sampai Yogyakarta
Adopsi robot bedah bukan lagi monopoli satu-dua rumah sakit elite di Ibu Kota. RS Bunda Jakarta tercatat sebagai lokasi hampir 1.000 tindakan robotik lintas spesialisasi menurut catatan Kemenkes.
Siloam Hospitals Kebon Jeruk mengoperasikan robot da Vinci Xi untuk beragam operasi minimal invasif, mulai dari urologi hingga ginekologi, sementara Mandaya Royal Hospital Puri menggunakan da Vinci Xi generasi kelima untuk kasus-kasus berat seperti tumor hati, transplantasi ginjal, dan kanker rahim.
Di luar rumah sakit swasta, dua rumah sakit vertikal Kemenkes, RSUP Dr. Hasan Sadikin di Bandung dan RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta, telah ditetapkan sebagai bagian dari Pusat Bedah Robotik Indonesia.
Adapun Siloam International Hospitals secara keseluruhan mengoperasikan tujuh sistem robotik yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar.
Data internal yang dihimpun jaringan rumah sakit tersebut menunjukkan hasil yang konsisten: sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, masa rawat inap lebih pendek, dan risiko komplikasi yang menurun dibanding metode bedah konvensional.
Khusus untuk sistem da Vinci Xi, penelitian mencatat lama rawat inap berkurang hampir dua hari, risiko komplikasi pascaoperasi turun 44 persen, dan risiko kematian dalam 30 hari pertama turun hingga 46 persen dibandingkan pendekatan konvensional.
Jika dibandingkan dengan laparoskopi biasa, penggunaan da Vinci Xi juga menekan risiko konversi ke bedah terbuka sebesar 56 persen serta menurunkan komplikasi pascaoperasi 10 persen.
Sistem ini sendiri dikembangkan Intuitive Surgical, perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat yang lebih dari dua dekade terakhir dikenal sebagai salah satu pionir bedah robotik dunia dan telah digunakan dalam jutaan prosedur di berbagai negara.
Salah satu pencapaian yang disorot adalah transplantasi ginjal robotik pertama di Indonesia, yang dilakukan Siloam Hospitals Asri bersama Asan Medical Center dari Korea Selatan pada 5 Juni lalu.
Pasiennya seorang pria berusia 57 tahun dengan gagal ginjal stadium akhir akibat hipertensi, yang sejak Juli 2025 rutin menjalani hemodialisis dua kali sepekan sebelum akhirnya menjalani transplantasi.
Masih Tertinggal dari Tetangga
Meski capaian-capaian itu terdengar menjanjikan, Menkes mengakui pemanfaatan bedah robotik di Indonesia sejatinya masih kalah cepat dibanding negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia, bahkan Vietnam.
Kesenjangan itulah yang mendorong pemerintah mengambil langkah lebih agresif lewat kebijakan nasional, bukan sekadar membiarkan adopsi berjalan organik di rumah sakit-rumah sakit besar kota.
Salah satu langkah konkretnya adalah pembentukan Komite Robotik Kemenkes, yang bertugas merumuskan arah pengembangan teknologi robotik di Tanah Air, mulai dari kebutuhan alat, standar pelayanan, hingga strategi menekan biaya agar layanan ini tak hanya dinikmati kalangan mampu.
Sejalan dengan itu, Kemenkes tengah mengevaluasi kemungkinan skema pembiayaan lewat BPJS Kesehatan, agar tindakan bedah robotik suatu saat bisa masuk dalam sistem jaminan kesehatan nasional.
Sebelum melangkah lebih jauh ke robotik, Kemenkes lebih dulu memperkuat fondasi bedah minimal invasif lewat program pelatihan laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota.
Program ini disiapkan agar operasi modern seperti hernia, usus buntu, kantung empedu, dan tindakan digestif lain tak lagi hanya bisa diakses di kota besar.
“Kami ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar,” kata Budi.
Robotik sebagai Fondasi AI Kesehatan
Bagi Kemenkes, robot bedah bukan sekadar alat untuk mempercepat operasi. Budi menyebut pengembangan robotik juga menjadi fondasi bagi kecerdasan artifisial di sektor kesehatan Indonesia, yang saat ini tengah membangun tiga basis data nasional terintegrasi: data kependudukan, data klinis, dan data genomik.
Data tindakan bedah robotik nantinya turut dihimpun secara nasional untuk melatih sistem AI yang membantu dokter mengambil keputusan lebih tepat.
“AI bukan menggantikan dokter, tetapi menjadi augmented intelligence yang membantu dokter mengambil keputusan berdasarkan pembelajaran dari ribuan hingga jutaan data klinis,” ujar Budi, seraya menambahkan bahwa keterbukaan data operasi robotik akan memungkinkan Indonesia membangun sistem pembelajaran berbasis AI tanpa mengalihkan keputusan klinis dari tangan dokter.
Untuk urusan pengadaan, Kemenkes juga akan mewajibkan transfer teknologi dari produsen robot bedah, terutama untuk produksi komponen habis pakai di dalam negeri, langkah yang diharapkan bisa menekan biaya tindakan sekaligus memperkuat industri alat kesehatan nasional.
Pusat pelatihan bedah robotik pun rencananya diperluas ke berbagai wilayah agar akses pendidikannya tak terpusat di satu kota atau institusi saja.
Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara menilai Indonesia sebenarnya punya modal riset yang kuat di bidang teknik biomedis, biomekanika, robotika, dan AI, namun keberhasilan inovasi tetap bergantung pada kolaborasi erat antara akademisi dan tenaga medis.
“Fasilitasi ini sangat penting agar peneliti dan dokter dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan kolaborasi ini, kami optimistis Indonesia mampu menghasilkan inovasi alat kesehatan yang berdaya saing global,” katanya.
Sementara itu, Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk dr. Ivan Rizal Sini menyebut pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik di RS Bunda sebagai buah konsistensi lebih dari satu dekade membangun layanan bedah minimal invasif.
Ia menegaskan kesiapan RS Bunda mendukung program pemerintah lewat pengembangan pusat pelatihan dan berbagi pengalaman kepada dokter dari berbagai daerah.
“Kami percaya pengalaman harus dibagikan. Semakin banyak dokter Indonesia yang menguasai bedah robotik, semakin besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat,” kata Ivan.
Lewat sinergi pemerintah, kampus, rumah sakit, dan industri, Kemenkes menargetkan Indonesia bisa naik kelas menjadi salah satu pusat pengembangan bedah robotik di kawasan, sekaligus memperkuat kemandirian industri alat kesehatan dalam negeri.
Kehadiran robot di ruang operasi, dengan kata lain, bukan sekadar simbol kecanggihan, tapi taruhan pemerintah untuk memastikan layanan bedah presisi tinggi ini pada akhirnya bisa dijangkau lebih banyak orang, bukan hanya segelintir pasien di rumah sakit tertentu. (**)
Halaman : 1 2