Inilahdata.com – Rencana pemangkasan produksi nikel di Indonesia, termasuk oleh empat smelter asal China, dikabarkan akan menyasar tiga produk olahan nikel sekaligus.
Produk mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nickel matte disebut akan dipangkas 50 persen, sedangkan nickel pig iron (NPI) 20 persen dari kapasitas produksi.
Kabar itu disampaikan Shanghai Metals Market (SMM). Menurut lembaga riset tersebut, jika pemangkasan sebesar itu benar terjadi, pasokan MHP berkurang hingga 18.000 metrik ton nikel per bulan.
Nickel matte berkurang sekitar 7.900 metrik ton nikel per bulan, dan NPI lebih dari 20.000 metrik ton nikel per bulan. SMM menegaskan besaran pasti pemangkasan belum dikonfirmasi oleh perusahaan smelter maupun otoritas terkait.
“Pada 21 Oktober, beredar kabar di pasar mengenai pemangkasan produksi terkoordinasi untuk berbagai produk setengah jadi nikel di Indonesia: 50% untuk MHP, 50% untuk nickel matte, dan 20% untuk NPI,” tulis SMM dalam riset terbarunya, Jumat (23/10/2026).
Menurut SMM, kabar bahwa produsen nikel terkemuka milik China ikut membahas pengurangan produksi bersama membuat momentum tersebut semakin kuat.
MHP
Untuk MHP, SMM memperkirakan pemangkasan 50 persen dari produksi saat ini bisa mengurangi pasokan 15.000 hingga 18.000 metrik ton nikel per bulan.
Dalam skenario lain, yakni tingkat operasi industri turun menjadi 50 persen, pengurangan pasokan diperkirakan sekitar 12.000 metrik ton nikel per bulan.
SMM menilai produsen MHP punya dorongan terkuat untuk memangkas produksi karena margin mereka sedang negatif. Pada pertengahan Oktober, biaya produksi MHP setelah dikurangi kredit kobalt sekitar US$14.500 per metrik ton nikel.
Harga jualnya di pasar spot justru di bawah US$13.000 per metrik ton nikel secara free on board (FOB).
“Pemotongan dalam skala sebesar ini akan secara signifikan memperketat pasar MHP yang pasokannya masih longgar,” ungkap SMM.
Lembaga itu menyebut langkah tersebut, dengan dukungan biaya di baliknya, semestinya dapat menghentikan tren penurunan secara definitif. Meski begitu, SMM mengingatkan pemulihan tidak akan datang otomatis.
“Terjadinya pemulihan akan membutuhkan pengurangan stok yang signifikan di seluruh rantai pasokan hulu dan hilir, atau pemulihan yang jelas dalam permintaan di sektor hilir,” lanjutnya.
Nickel Matte
Untuk nickel matte, estimasi produksi Oktober berada di angka 15.800 metrik ton nikel per bulan. Pemangkasan 50 persen dari angka itu berpotensi mengurangi pasokan sekitar 7.900 metrik ton nikel per bulan.
Namun SMM menilai pemangkasan sebesar itu di seluruh industri relatif kecil kemungkinannya. Produksi nickel matte Indonesia sudah turun dari 21.100 metrik ton nikel pada Agustus menjadi 16.600 metrik ton nikel pada September.
Sebagian besar lini produksi matte berbasis rotary kiln-electric furnace (RKEF) juga sudah kembali memproduksi NPI, sebab mengubah NPI menjadi nickel matte tidak lagi menguntungkan.
“Secara keseluruhan, SMM menilai pemangkasan produksi matte sebesar 50% di seluruh industri relatif tidak mungkin terjadi. Pengurangan apa pun kemungkinan lebih berupa penyesuaian sementara di masing-masing produsen,” tegas SMM.
NPI
Pada NPI, pemangkasan 20 persen diperkirakan menekan pasokan lebih dari 20.000 metrik ton nikel per bulan. Dasar perhitungan pemangkasan itu masih dibahas, dan realisasinya diperkirakan mulai berlaku pada November.
SMM menilai pemangkasan NPI dalam skala besar akan lebih sulit diwujudkan karena smelter masih memperoleh margin kas.
Produksi NPI di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, memang sudah turun lebih dari 20 persen akibat kekeringan terkait El Niño. Di kawasan industri lain, tingkat operasi secara umum masih berkisar 70 hingga 80 persen.
“Pada 21 Oktober, pasar mendengar kabar mengenai pemangkasan NPI sebesar 20%. Berdasarkan angka tersebut, pasokan akan turun lebih dari 20.000 mt Ni per bulan,” tulis SMM.
Pertemuan Produsen China
Para petinggi sejumlah produsen nikel China berencana bertemu paling cepat Selasa (20/10/2026) untuk membahas pengurangan produksi terkoordinasi di pabrik bahan baku baterai mereka di Indonesia.
Perusahaan yang terlibat antara lain Tsingshan Holding Group Co, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co. Mereka berencana menetapkan skala pengurangan yang diperlukan.
Langkah ini dipicu lemahnya harga logam yang menekan profitabilitas smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) milik mereka. Pertemuan tersebut menyusul diskusi serupa pada Agustus yang tidak menghasilkan kesepakatan.
Menurut sumber Bloomberg News, perusahaan-perusahaan itu kemungkinan membahas pengurangan produksi berdasarkan tingkat operasional saat ini. Detail rencana masih bisa berubah, dan belum ada jaminan pertemuan akan terlaksana atau kesepakatan tercapai.
Kapasitas yang Terus Membesar
Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan kapasitas produksi MHP Indonesia pada akhir 2027 meningkat signifikan hingga melampaui 900.000 metrik ton nikel.
Sebagai pembanding, produksi smelter HPAL berupa MHP, nikel sulfat, dan kobalt sulfat saat ini sekitar 450.000 metrik ton nikel.
Sepanjang 2025, Kementerian ESDM mencatat produksi nickel matte 91.500 metrik ton dan feronikel 579.430 metrik ton.
Data Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) menunjukkan, pada 2025 ada 8 smelter HPAL yang memproduksi MHP dengan kapasitas 491.000 metrik ton nikel.
Pada 2026, empat smelter HPAL baru akan beroperasi sehingga kapasitasnya menjadi sekitar 840.000 metrik ton nikel.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat saat ini ada 422 izin usaha pertambangan (IUP) nikel aktif yang memasok 79 fasilitas pengolahan dan pemurnian.
Rinciannya, 55 fasilitas pirometalurgi RKEF, 10 pabrik hidrometalurgi HPAL, 10 penghasil nickel matte, dan 6 smelter baja nirkarat terintegrasi. Bila seluruhnya beroperasi penuh, kebutuhan bijih nikelnya dapat mencapai 415 juta metrik ton per tahun. (**)
Halaman : 1 2