Sabtu, 12 Sep 2026 - :
25 Agu 2026 - 06:41 | 91 Views | 0 Suka

Data Satelit Bongkar Wajah Asli Karhutla 2026: NTT Salip Kalbar, 178 Ribu Hektare Terbakar

12 mnt baca

Inilahdata.com – Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2026 menunjukkan pola yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mencatat berapa luas lahan yang terbakar.

Data pemantauan independen MapBiomas Indonesia | Fire – Monthly yang diolah Auriga Nusantara bersama sembilan jaringan organisasi masyarakat sipil mencatat sedikitnya 178.232 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Dari data tersebut, muncul sejumlah temuan yang memperlihatkan bagaimana kebakaran menyebar lintas wilayah, memasuki kawasan hutan negara, konsesi usaha, lahan gambut, hingga habitat satwa dilindungi.

Yang juga patut menjadi perhatian adalah laju kebakaran yang justru meningkat tajam menjelang pertengahan tahun.

Pada Juni 2026, luas area terbakar melonjak 173 persen dibandingkan Mei. Angka ini menunjukkan bahwa karhutla tahun ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebaliknya, kebakaran memasuki fase eskalasi.

NTT Lampaui Kalimantan Barat

Peta wilayah yang paling terdampak juga memberikan gambaran berbeda dari persepsi yang selama ini berkembang.

Kalimantan Barat memang masih menjadi salah satu episentrum karhutla, tetapi data semester pertama 2026 menunjukkan Nusa Tenggara Timur (NTT) justru menjadi provinsi dengan area terbakar terluas.

NTT tercatat mengalami kebakaran seluas 26.591 hektare, sedikit lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Barat yang mencapai 25.629 hektare.

Jika wilayah Bali dan Nusa Tenggara digabung, luas kebakaran mencapai 33.338 hektare, atau sekitar 18,70 persen dari total kebakaran nasional.

Angka tersebut bahkan mendekati kontribusi seluruh Pulau Kalimantan yang mencapai 21,13 persen.

Temuan ini memperlihatkan bahwa karhutla 2026 tidak bisa lagi dibaca hanya melalui kacamata Kalimantan dan Sumatera.

Gambut Tetap Menjadi Titik Rawan

Di sisi lain, ancaman kebakaran pada ekosistem gambut belum menunjukkan perubahan berarti.

Dari total area yang terbakar, sekitar 40.016 hektare atau 22 persen berada di lahan gambut.

Hampir 90 persen kebakaran gambut tersebut terkonsentrasi di Kalimantan dan Sumatera. Kalimantan menyumbang sekitar 51 persen, sementara Sumatera mencapai 38 persen.

Kondisi ini kembali menempatkan ekosistem gambut sebagai salah satu titik paling rentan dalam persoalan karhutla, terutama karena kebakaran di kawasan tersebut dapat berlangsung lebih sulit dikendalikan dan meninggalkan dampak ekologis yang panjang.

Kawasan Lindung Tak Luput dari Api

Persoalan menjadi lebih serius ketika kebakaran masuk ke kawasan yang semestinya mendapatkan perlindungan.

Data MapBiomas menunjukkan sekitar 82.662 hektare atau 46 persen dari total area terbakar berada di dalam kawasan hutan negara.

Sebanyak 179 unit kawasan konservasi juga terdampak. Jumlah tersebut terdiri atas 39 taman nasional dan 140 kawasan konservasi non-taman nasional.

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai menjadi salah satu kawasan dengan dampak kebakaran terbesar, dengan area terbakar mencapai 2.802 hektare.

Berikutnya adalah Taman Nasional Lorentz dengan sekitar 1.698 hektare area terdampak.

Temuan ini memperlihatkan bahwa status kawasan sebagai wilayah konservasi tidak otomatis membuatnya terbebas dari ancaman kebakaran.

Konsesi Usaha Juga Tersentuh

Analisis tumpang-susun atau overlay yang dilakukan terhadap data kebakaran juga menemukan bahwa sekitar 36.389 hektare area terbakar berada di dalam 2.638 wilayah izin konsesi.

Area tersebut mencakup berbagai jenis konsesi.

Kebun sawit menyumbang area terbakar terbesar, yakni 16.816 hektare. Kemudian kawasan pertambangan sekitar 9.538 hektare, Hutan Tanaman Industri (HTI) 5.997 hektare, serta konsesi HPH atau kegiatan logging sekitar 3.753 hektare.

Data ini tentu tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh kebakaran tersebut disebabkan oleh aktivitas pemegang konsesi.

Namun, keberadaan titik kebakaran di dalam wilayah berizin menunjukkan pentingnya pemeriksaan lebih lanjut terhadap penyebab, pengelolaan lahan, serta tanggung jawab masing-masing pihak.

Lahan yang Pernah Deforestasi Kembali Terbakar

Pola lain yang ditemukan adalah tingginya kebakaran pada lahan yang sebelumnya mengalami deforestasi.

Sekitar 25.053 hektare atau 14 persen dari total area terbakar berada di kawasan yang tercatat mengalami deforestasi sepanjang 2001–2025.

Sebanyak 88 persen di antaranya berada di Kalimantan dan Sumatera.

Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan angka terbesar, mencapai 9.964 hektare, disusul Riau dengan 5.716 hektare.

Pola tersebut memperlihatkan adanya persoalan serius pada lahan yang sebelumnya telah mengalami perubahan tutupan hutan.

Lahan yang baru dibuka atau mengalami deforestasi memiliki risiko kembali terbakar ketika kondisi lingkungan dan tata kelolanya tidak memadai.

Kawasan Ketahanan Pangan Ikut Terbakar

Program strategis ketahanan pangan juga tidak sepenuhnya terbebas dari ancaman karhutla.

Data menunjukkan sekitar 22.703 hektare atau 13 persen dari total kebakaran terjadi di kawasan hutan yang telah dialihfungsikan untuk cadangan pangan, food estate, maupun cetak sawah rakyat.

Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menjadi titik yang paling menonjol.

Wilayah tersebut menyumbang sekitar 36 persen dari seluruh kebakaran dalam kategori tersebut, atau setara dengan 8.084 hektare.

Angka ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan pangan berskala besar juga perlu dibarengi dengan pengawasan terhadap risiko ekologis dan kebakaran.

Habitat Satwa Dilindungi Ikut Terancam

Dampak karhutla tidak berhenti pada hilangnya tutupan vegetasi. Habitat satwa yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem Indonesia juga ikut terdampak.

MapBiomas Fire mengidentifikasi kebakaran di kawasan yang ditetapkan sebagai habitat sejumlah spesies kunci.

Area habitat harimau yang terdampak mencapai sekitar 3.964 hektare, orangutan 3.376 hektare, badak 2.542 hektare, dan gajah Sumatera sekitar 1.561 hektare.

Jika digabungkan, luas habitat satwa-satwa tersebut yang terdampak kebakaran mencapai 11.442 hektare.

Temuan ini sekaligus memberikan konteks terhadap berbagai laporan dan rekaman visual yang sebelumnya beredar di media sosial mengenai kebakaran di kawasan habitat satwa.

Karhutla 2026 Menjadi Persoalan Lintas Wilayah

Delapan temuan tersebut memperlihatkan satu pola besar: karhutla 2026 bukan lagi persoalan yang dapat dipetakan hanya dengan menyebut Kalimantan atau Sumatera.

Api telah menyentuh berbagai jenis bentang alam, mulai dari gambut, kawasan hutan negara dan konservasi, wilayah konsesi perkebunan dan pertambangan, lahan bekas deforestasi, kawasan program ketahanan pangan, hingga habitat satwa dilindungi.

Karena itu, angka 178.232 hektare seharusnya tidak berhenti sebagai statistik luas lahan yang terbakar.

Di balik angka tersebut terdapat persoalan tata kelola lahan, perlindungan kawasan, pengawasan konsesi, perubahan tutupan hutan, ketahanan pangan, serta keberlangsungan ekosistem.

Dan yang paling mengkhawatirkan, data hingga Juni 2026 justru menunjukkan bahwa laju kebakaran meningkat tajam menjelang pertengahan tahun. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H — InilahData.com
PERINGATAN NASIONAL
1448 H
MEMPERINGATI
MAULID NABI
MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
RABIUL AWAL
12
RABIUL AWAL
1448 HIJRIAH
SELASA, 25 AGUSTUS 2026
Cinta kepada Rasul, Teladan Akhlak,
Rahmat bagi Semesta Alam.
Selamat Memperingati Maulid Nabi.
<div class=" quote"="">“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%