Karhutla sudah bisa diperkirakan sejak El Niño terbaca, tetapi persiapan terlambatAsap lintas batas membuat Indonesia berada di posisi defensif di meja ASEAN
Reaktif
Bukan preventif. Begitu Dino Patti Djalal menilai budaya birokrasi dalam menangani risiko.
Karhutla menjadi contoh bahwa risiko yang sudah terlihat pun baru ditangani setelah celaka.
Narasumber Dino Patti Djalal
Acara Wealth Wisdom 2026
Isu Karhutla
Inti kritik
1
Budaya birokrasi kurang memperhitungkan risikoDino membandingkannya dengan perbankan yang selalu menghitung risiko lebih dulu.
2
Lebih reaktif daripada preventifPerhatian baru datang setelah masalah terjadi dan menimbulkan korban.
3
Karhutla terlambat diantisipasiPadahal fenomena iklim seperti El Niño bisa diprediksi jauh hari.
4
Kritik ditujukan pada kebiasaan, bukan satu eraYang dievaluasi adalah budaya birokrasi yang mengakar dari waktu ke waktu.
Asap yang mengalir ke Malaysia dan Singapura kerap menempatkan Indonesia dalam posisi defensif di meja perundingan ASEAN.
Dino menyampaikan pandangan ini dalam acara Wealth Wisdom 2026 yang digelar Permata Bank di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Kutipan
“Kalau di perbankan itu selalu thinking about risk. Sayangnya, budaya pemerintah kita kurang risk-minded dan lebih reaktif ketimbang preventif. Terjadi dulu, celaka dulu, baru diperhatikan.”
Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri
“Karhutla, semua orang sudah tahu akan terjadi. Tapi waktu terjadi, persiapannya tidak siap. Sehingga akhirnya kita harus menangani dampak sosial, ekonomi, politik, hingga diplomatik.”
Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri
Risiko yang sudah terbaca seharusnya dicegah, bukan menunggu celaka.
Inilahdata.com
Sumber: Keterangan Dino Patti Djalal dalam acara Wealth Wisdom 2026 Permata Bank, Jakarta, Kamis (22/10/2026)