Kamis, 08 Okt 2026 - :
21 Sep 2026 - 15:02 | 95 Views | 0 Suka

PISA 2025: Skor Membaca Laki-Laki Turun 17 Poin, Perempuan 12 Poin

13 mnt baca

Inilahdata.com – Siswa perempuan kembali unggul dalam kemampuan membaca dibandingkan siswa laki-laki. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mencatat perempuan meraih skor membaca lebih tinggi di 89 dari 90 sistem pendidikan yang ikut asesmen.

PISA diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam memakai pengetahuan dan keterampilan membaca, matematika, dan sains guna menghadapi persoalan kehidupan nyata.

Hasil terbarunya menunjukkan jarak kemampuan membaca antara siswa perempuan dan laki-laki masih lebar, bahkan bertambah dibandingkan asesmen sebelumnya.

Hanya Rwanda yang Berbeda

Dari 90 sistem pendidikan peserta PISA 2025, hanya Rwanda yang mencatat skor membaca laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, dengan selisih enam poin. Di Kenya dan Zambia, perbedaan skor kedua kelompok tidak signifikan secara statistik.

Jarak terbesar terlihat di Finlandia. Skor membaca perempuan di negara itu mencapai 498 poin, sedangkan laki-laki 452 poin, sehingga selisihnya 46 poin. Selisih besar lain tercatat di Lithuania (44 poin), Swedia (41 poin), Chinese Taipei (39 poin), Polandia (37 poin), dan Selandia Baru (33 poin).

Secara rata-rata di negara OECD, skor membaca perempuan berada di angka 476 poin dan laki-laki 446 poin, atau berbeda 30 poin. Selisih itu bertambah lima poin dibandingkan PISA 2022.

Laki-Laki Lebih Banyak di Bawah Batas Minimum

Kesenjangan tidak hanya tampak pada skor rata-rata, tetapi juga pada kemampuan dasar. OECD menetapkan Level 2 sebagai batas minimum kemampuan membaca.

Siswa pada level ini sudah bisa menemukan ide utama dalam teks yang agak panjang, mencari informasi yang disampaikan dengan jelas, dan memahami tujuan serta bentuk teks jika diberi arahan.

Di negara-negara OECD, 37 persen siswa laki-laki belum mencapai Level 2, jauh di atas siswa perempuan yang sebesar 25 persen. Sebaliknya, di kelompok kemampuan tertinggi, 7 persen siswa perempuan berada di Level 5 atau lebih, sedangkan laki-laki 5 persen.

Siswa di Level 5-6 mampu memahami teks panjang dan kompleks, termasuk konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini dari petunjuk tersirat dalam teks atau sumber informasi.

Bukan Soal Kemampuan Bawaan

Perbedaan ini tidak serta-merta menunjukkan adanya selisih kemampuan bawaan. Materi OECD dan UNESCO menyebut keterlibatan siswa dalam aktivitas membaca sebagai salah satu faktornya. UNESCO mencatat, anak laki-laki cenderung melaporkan tingkat kesenangan dan kepercayaan diri membaca yang lebih rendah.

Perubahan skor beberapa tahun terakhir ikut memperlebar jarak. Di antara negara OECD dengan data yang dapat dibandingkan, skor membaca siswa laki-laki turun 17 poin dari 2022 ke 2025, sementara perempuan turun 12 poin. OECD mencatat kesenjangan gender dalam membaca melebar lima poin pada periode itu.

Persoalan ini penting karena kemampuan membaca tidak berhenti di ruang kelas. Memahami teks, menemukan informasi, dan menilai isi bacaan dipakai siswa untuk belajar di jenjang berikutnya. Dalam jangka panjang, perbedaan capaian pendidikan juga berkaitan dengan partisipasi di pendidikan tinggi dan peluang di pasar kerja. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%