Siswa perempuan kembali unggul dalam membaca. Hasil PISA 2025 mencatat skor membaca perempuan lebih tinggi di 89 dari 90 sistem pendidikan, dan jaraknya dengan laki-laki kini makin lebar.
Rak 90 sistem pendidikan
Perempuan unggul di 89 sistem pendidikan. Hanya Rwanda yang mencatat skor membaca laki-laki lebih tinggi, dengan selisih enam poin.
89 sistem: perempuan lebih tinggi
Rwanda: laki-laki lebih tinggi
Di Kenya dan Zambia, perbedaan skor perempuan dan laki-laki tidak signifikan secara statistik.
Kesenjangan terbesar
Selisih skor membaca perempuan dan laki-laki, dalam poin.
Finlandia
46
Perempuan 498 poin, laki-laki 452 poin
Lithuania
44
Swedia
41
Chinese Taipei
39
Polandia
37
Selandia Baru
33
Rata-rata OECD
30
Laki-laki lebih banyak tertinggal di level dasar
OECD menetapkan Level 2 sebagai batas minimum kemampuan membaca. Angka di bawah adalah persentase siswa di negara-negara OECD.
Belum mencapai Level 2
25%
Perempuan
37%
Laki-laki
Level 2: siswa mampu menemukan ide utama dalam teks yang sedikit panjang, mencari informasi yang disampaikan secara jelas, serta memahami tujuan dan bentuk teks bila diberi arahan.
Mencapai Level 5 atau lebih
7%
Perempuan
5%
Laki-laki
Level 5-6: siswa mampu memahami teks panjang dan kompleks, termasuk konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini dari petunjuk tersirat dalam teks atau sumber informasi.
Sama-sama turun, jarak makin lebar
Perubahan skor membaca 2022 ke 2025 di negara OECD dengan data yang dapat dibandingkan.
Skor 2022
-12
Perempuan
-17
Laki-laki
Skor membaca siswa laki-laki turun 17 poin, sedangkan perempuan turun 12 poin. Akibatnya, kesenjangan gender dalam membaca melebar lima poin. Bagian bergaris pada batang laki-laki menandai tambahan selisih itu.
Mengapa muncul, mengapa penting
Selisih skor belum tentu berarti perbedaan kemampuan bawaan.
Keterlibatan membacaMateri OECD dan UNESCO menyebut keterlibatan siswa dalam aktivitas membaca sebagai salah satu faktor. UNESCO mencatat anak laki-laki cenderung melaporkan tingkat kesenangan dan kepercayaan diri membaca yang lebih rendah.
Dampak lanjutanMemahami teks, menemukan informasi, dan menilai isi bacaan dipakai siswa untuk belajar di jenjang berikutnya. Dalam jangka panjang, selisih capaian juga berkaitan dengan partisipasi di pendidikan tinggi dan peluang di pasar kerja.
Kemampuan membaca tidak berhenti di ruang kelas, karena terpakai saat siswa belajar di jenjang berikutnya.