
Inilahdata.com – Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan jajaran TNI di daerah akan dilibatkan dalam ekstrakurikuler Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) di sekolah.
Keterlibatan itu mencakup Komando Daerah Militer (Kodam), Komando Resor Militer (Korem), Komando Distrik Militer (Kodim), sampai Komando Rayon Militer (Koramil).
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, menekankan bahwa KKRI adalah kegiatan sukarela.
Ketentuan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kepmendikdasmen) Nomor 136 Tahun 2026.
Di sisi Kemhan, program ini dikawal lewat Sekretariat KKRI yang dibentuk dari tingkat pusat sampai kabupaten/kota berdasarkan Keputusan Menteri Pertahanan Nomor 713 Tahun 2026.
Menurut Rico, ekstrakurikuler tersebut disusun secara fleksibel dengan memadukan dua cara belajar, yakni luring dan daring.
Untuk luring, siswa belajar tatap muka di sekolah bersama guru pendamping yang bekerja sama dengan Sekretariat Daerah di Kodam, Korem, Kodim, hingga Koramil.
Para pengajar dan pendamping lebih dulu dibekali materi karakter, budi pekerti, dan wawasan kebangsaan, demikian keterangan tertulis Rico pada Kamis (24/9/2026).
Sementara itu, jalur daring memakai platform digital kkri.id yang dirancang agar dekat dengan keseharian generasi muda. Siswa SMA, SMK, MA, maupun yang sederajat bisa mendaftar dengan akun Google.
Di dalamnya tersedia 45 video pembelajaran yang dibagi ke dalam 8 kelas. Materinya beragam, mulai dari bela negara, kepemimpinan, negosiasi dan manajemen konflik, sampai problem solving dan civic engagement.
“Setiap kelas dilengkapi kuis interaktif yang menghasilkan sertifikat digital sebagai pendukung prestasi siswa non-akademik,” ujar Rico.
Platform itu juga menyediakan pemetaan potensi siswa tanpa biaya. Ada Tes Minat dan Bakat berbasis teori 16PF untuk mengenali kepribadian serta arah karier, dan Tes Kognitif atau IQ yang dijalankan bersama Pusat Psikologi TNI.
Rico berharap kolaborasi lintas kementerian dan dukungan aparat wilayah ini membuat KKRI menjadi sarana pelatihan yang positif, mudah diakses, dan berguna bagi masa depan anak muda.
“Kemhan berharap program KKRI dapat menjadi sarana pelatihan yang positif, mudah diakses, dan bermanfaat nyata,” katanya.
Di kesempatan terpisah, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyatakan bahwa siswa yang mengikuti KKRI tidak otomatis menjadi prajurit.
Menurutnya, kegiatan ini bagian dari penguatan karakter, bukan upaya menghadirkan militerisme di sekolah. Yang ditekankan adalah tumbuhnya kesadaran bela negara.
“Kehadiran ekstrakurikuler KKRI ini menurut saya sangat tepat, dan tidak wajib,” kata Atip saat peluncuran ekstrakurikuler KKRI.
Ia menambahkan, ketika sekolah menggelar pelatihan kesadaran bela negara, sekolah sebenarnya sedang memenuhi hak yang dimiliki para murid. (**)
Halaman : 1 2