Kamis, 08 Okt 2026 - :
27 Sep 2026 - 03:47 | 145 Views | 0 Suka

Kementan Gelontorkan Rp17 Triliun Bangun Ekosistem Peternakan Terintegrasi

9 mnt baca

Inilahdata.com – Pemerintah mempercepat langkah memperkokoh ketahanan pangan nasional lewat pembangunan ekosistem peternakan yang menyatukan seluruh rantai produksi, dari hulu sampai hilir. Skema ini digadang bisa memastikan pasokan ayam, telur, dan susu untuk kebutuhan dalam negeri tetap terjaga.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut proyek ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar industri peternakan dalam negeri diperkuat secara menyeluruh. Untuk merealisasikannya, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp17 triliun yang akan digunakan mengembangkan ekosistem peternakan di beberapa wilayah.

Amran menyampaikan hal tersebut saat meninjau langsung lokasi pengembangan di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026). Ia merinci, dari total anggaran itu, sekitar Rp2,2 triliun akan lebih dulu dipakai untuk pembangunan tahap awal di lima kawasan, yakni Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo.

“Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” ujar Amran di sela kunjungan kerjanya.

Kelima kawasan tersebut tidak dirancang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai satu ekosistem yang saling menyambung: mulai dari penyediaan pakan, pembibitan ayam atau DOC, budi daya ayam pedaging, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah untuk susu segar.

Konsep menyatu dari hulu ke hilir ini juga sengaja dirancang untuk memperkuat pasokan bahan pangan bergizi bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program itu diposisikan sebagai penyerap utama produk ayam, telur, dan susu yang dihasilkan.

“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” kata Amran.

Salah satu titik krusial dalam ekosistem ini adalah industri pakan, mengingat jagung menjadi bahan baku utamanya. Pemerintah berupaya agar pasokan jagung untuk pakan diambil langsung dari sentra produksi di sekitar lokasi kawasan peternakan, bukan didatangkan dari daerah jauh.

“Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” ujarnya.

Menurut Amran, dengan menempatkan pabrik pakan berdekatan dengan sentra jagung, rantai pasok akan jauh lebih ringkas dan biaya logistik bisa ditekan. Jagung tak perlu lagi dikirim jauh untuk diolah menjadi pakan, lalu diangkut kembali ke kawasan peternakan.

“Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” tuturnya.

Selain pabrik pakan, fasilitas pembibitan atau DOC turut disiapkan untuk memperkuat pasokan bibit ayam dari dalam negeri, sehingga kebutuhannya bisa dipenuhi lebih dekat dari lokasi produksi. Sementara di sisi lain, pengembangan sapi perah diarahkan untuk mendongkrak produksi susu nasional demi memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.

Amran memandang penguatan produksi ayam, telur, dan susu yang nantinya banyak dikonsumsi anak-anak sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas generasi mendatang.

“Generasi kita adalah generasi cerdas nanti di masa depan, sehingga mencapai Indonesia Emas,” katanya.

Kawasan di Bone sendiri disiapkan di atas lahan seluas kurang lebih 150 hektare, dan diharapkan tidak sekadar menjadi lokasi produksi, tetapi juga membuka aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Amran menegaskan, pendekatan terintegrasi dalam pembangunan ekosistem peternakan ini penting agar manfaatnya menjalar ke berbagai lini, mulai dari pasar bahan baku, industri pengolahan, distribusi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal.

“Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja,” pungkasnya.

Lewat pembangunan ekosistem dari hulu hingga hilir ini, pemerintah berharap dapat membentuk rantai pasok peternakan yang lebih efisien, memperluas pasar bagi peternak dan petani jagung, memperkuat industri pakan serta pembibitan, sekaligus mendongkrak kapasitas produksi ayam, telur, dan susu demi kebutuhan pangan bergizi nasional. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%