Kamis, 08 Okt 2026 - :
3 Okt 2026 - 12:42 | 82 Views | 0 Suka

Industri AI Butuh Ribuan Triliun per Tahun, dari Mana Modalnya?

9 mnt baca

Inilahdata.com – Bain & Company memperkirakan industri kecerdasan artifisial (AI) harus meraup pendapatan hampir US$6 triliun, atau sekitar Rp94.000 triliun, per tahun pada 2031 agar investasi raksasa di infrastruktur komputasinya bisa tertopang. Perhitungan itu memperlihatkan jurang antara ongkos membangun infrastruktur AI dan uang yang dihasilkan teknologinya.

Menurut Bain, belanja infrastruktur AI bisa menyentuh sekitar US$1,5 triliun per tahun pada 2031. Di periode yang sama, pendapatan dari aplikasi AI yang sudah ada diperkirakan baru sekitar US$1,8 triliun. Akibatnya, tersisa kesenjangan sekitar US$4,2 triliun yang harus ditutup lewat aplikasi, layanan, atau sumber pendapatan baru.

Analisis ini dilaporkan Futurism pada Jumat (2/10/2026). Bain menilai peningkatan produktivitas perusahaan berkat adopsi AI belum cukup untuk menghasilkan pengembalian atas modal yang dibutuhkan pada skala tersebut. Industri, dalam pandangan Bain, memerlukan gelombang inovasi baru yang sanggup membuka pasar dengan nilai ekonomi jauh lebih besar.

David Crawford, penulis utama laporan sekaligus ketua praktik teknologi, media, dan telekomunikasi global Bain, menyebut pembangunan infrastruktur AI kini melaju lebih cepat daripada pertumbuhan permintaan.

“Apa yang dibutuhkan industri ini adalah gelombang inovasi yang jauh lebih besar dibandingkan apa yang pernah dibawa oleh telepon seluler dan komputasi awan,” ujarnya seperti dikutip Futurism.

Bain juga menghitung bahwa agar investasi AI berkelanjutan, dibutuhkan tambahan pertumbuhan sekitar 1 persen pada produk domestik bruto (PDB) global setiap tahun. Angka itu menggambarkan besarnya nilai ekonomi baru yang harus tercipta untuk menopang pembangunan infrastrukturnya.

Kebutuhan tersebut muncul ketika raksasa teknologi terus menambah belanja kapasitas komputasi. Bain memperkirakan Microsoft, Google, Amazon, Meta, dan Oracle dapat menggelontorkan hingga US$780 miliar untuk belanja modal pada 2026. Dana itu mencakup data center, jaringan, sistem kelistrikan, dan perangkat komputasi.

Bain menyebut infrastruktur AI saat ini dibangun “jauh di depan kurva permintaan”, sehingga tantangannya bukan hanya menyediakan kapasitas, tetapi juga memastikan ada aplikasi yang menghasilkan pendapatan sepadan dengan modal yang sudah dikeluarkan.

Sisi ekonomi data center turut disorot investor Harris Kupperman dari Praetorian Capital. Ia menunjuk usia perangkat keras di pusat data yang relatif pendek, karena perangkat komputasi harus diperbarui secara berkala mengikuti kebutuhan AI. Artinya, operator butuh modal bukan hanya untuk membangun fasilitas, tetapi juga untuk terus mengganti dan meningkatkan isinya.

“Jika perhitungannya tidak masuk akal, memperbesarnya tidak akan memperbaikinya. Itu hanya akan mengubah krisis industri menjadi krisis ekonomi nasional,” kata Kupperman, dikutip Futurism.

Dari sisi akademisi, Jessica Wachter, pengajar keuangan di University of Pennsylvania, mengingatkan risiko bila pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dari AI tidak terwujud. Menurut dia, kegagalan itu bisa membuat pembangunan data center hari ini dikenang sebagai contoh alokasi modal besar-besaran yang manfaatnya jauh dari harapan.

Dengan investasi infrastruktur yang diproyeksikan mencapai US$1,5 triliun per tahun pada 2031, Bain menilai kemampuan AI melahirkan aplikasi, layanan, dan pasar baru akan sangat menentukan apakah industri ini dapat menghasilkan pendapatan sebesar yang dibutuhkan. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%