
Inilahdata.com – Kamis pagi, 1 Oktober 2026, Muhammad Sarmuji masih berstatus Sekjen Partai Golkar dan anggota DPR. Saat wartawan menanyakan apakah ia akan menggantikan Agus Gumiwang, jawabannya mengambang: ia hanya menyebut “nanti dilihat”, untuk membantu Presiden di bidang perindustrian.
Beberapa jam kemudian, Presiden Prabowo Subianto resmi melantiknya sebagai Menteri Perindustrian di Istana Negara.
Kepastian itu ternyata baru ia terima belakangan. Sarmuji mengaku baru mengetahui kepastiannya pada Kamis pagi. Sebelumnya, ia mengaku ditelepon Seskab dan diberi tahu soal kemungkinan urusan industri.
Di Hari yang Sama, Angka Manufaktur Berbalik Arah
Waktunya menarik. Pada hari yang sama, PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global dirilis naik tajam ke 52,4 dari 49,8 pada Agustus.
S&P menyebutnya perbaikan terkuat sejak Februari, sebelum pecahnya perang di Timur Tengah. Pertumbuhan itu ditopang kenaikan pesanan baru dan produksi seiring meningkatnya ekspor.
Namun gambarnya belum sepenuhnya mulus. Satu laporan mencatat bahwa Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dari Kemenperin justru melambat, meski masih di atas 50.
Artinya, Sarmuji menerima kementerian di titik yang belum sepenuhnya jelas arahnya. Perlu dicatat, kenaikan PMI tersebut adalah capaian sebelum ia menjabat.
Kata Pertama Sang Menteri: “Tugas Berat”
Di depan wartawan, Sarmuji tidak berpura-pura ringan.
“Ini adalah tugas yang barangkali cukup berat,” ujarnya.
Menurutnya, industri harus menjadi daya ungkit bagi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.
Arah awalnya jelas: ia akan memetakan masalah lebih dulu, lalu membenahinya satu per satu, dengan prioritas industri yang menyerap banyak tenaga kerja seperti sepatu dan tekstil.
Ia juga tidak mau bekerja sendirian. Menurut Sarmuji, Kementerian Investasi dibutuhkan di sisi hulu, Kementerian Perdagangan untuk kebijakan impor, termasuk menimbang pembukaan impor bagi produk yang sebenarnya bisa dibuat di dalam negeri, dan Kementerian Keuangan untuk insentif.
Soal kemungkinan Kemenperin berada di bawah Kemenko Hilirisasi yang baru dibentuk, ia hanya menjawab singkat. Jawabannya: “Sepertinya, sepertinya”.
Perlu diingat, Bahlil Lahadalia dilantik di hari yang sama sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus merangkap Menteri ESDM. Pasangan Ketua Umum dan Sekjen Golkar itu kini sama-sama duduk di kabinet.
Pria Kampung yang Suaranya Naik Tiga Kali Lipat
Siapa sebenarnya Sarmuji? Ia lahir di Surabaya pada 10 Juni 1974. Ia lulusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Jember, lalu meraih magister Ilmu Administrasi dari FISIP UI.
Kiprahnya dimulai dari kampus. Ia pernah memimpin Koperasi Mahasiswa Unej, menjadi Ketua HMI Cabang Jember, lalu Ketua PB HMI pada 2001–2002. Ia juga pernah menjadi Ketua KNPI pada 2008–2011.
Di panggung elektoral, grafik suaranya menanjak tajam. Ia meraih 57.586 suara pada 2014, 137.110 pada 2019, dan 183.045 pada 2024. Dalam sepuluh tahun, perolehan suaranya naik lebih dari tiga kali lipat.
Sebagai Ketua DPD Golkar Jawa Timur, ia juga membawa hasil. Kursi Golkar di DPRD kabupaten/kota se-Jatim naik dari 185 menjadi 215, dan kursi DPRD provinsi dari 13 menjadi 15.
Saat itu Bahlil memberinya penilaian tinggi. Bahlil menyebut Sarmuji “bukan anak konglomerat” dan bukan trah darah biru, tetapi mampu mengubah kesederhanaan menjadi kerja lapangan yang menambah kursi. Pada Agustus 2024, Bahlil menunjuknya sebagai Sekjen DPP Golkar.
Bekal ke Ruang Industri
Di DPR, Sarmuji tercatat pernah bertugas di Komisi VI, IX, dan XI. Komisi VI membidangi perindustrian, perdagangan, dan investasi, sedangkan Komisi XI keuangan dan perbankan. Bekal itu yang membuat dunia usaha menaruh harapan.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, menilai pengalaman Sarmuji di komisi mitra Kemenperin menjadi modal memahami persoalan industri.
Ia menitipkan empat pekerjaan rumah: ketersediaan bahan baku, perizinan yang lebih sederhana, energi berdaya saing, dan kepastian berusaha.
Harta dan jabatan lama
LHKPN 2025 mencatat kekayaan bersih Sarmuji Rp14,93 miliar, dengan utang Rp5,65 miliar.
Komponen terbesar berupa tanah dan bangunan serta sebuah kapal SPOB bernama Jeanita senilai Rp5,57 miliar.
Ia menggantikan Agus Gumiwang, yang sudah menjabat Menperin sejak 2019.
Ujian yang Sesungguhnya
Sarmuji punya peta masalah, rekam jejak elektoral yang kuat, dan restu Presiden. Yang belum ia punya adalah kebijakan konkret pertama.
Pelaku industri tekstil dan sepatu, yang selama ini bergulat dengan tekanan impor dan biaya produksi, kini menunggu langkah nyata dari “tugas berat” yang ia akui sendiri. (**)
Halaman : 1 2